
Brendan menatap Sebastian yang akan menjadi eksekutor, yang kini sedang berjalan ke arahnya dengan membawa mangkuk berisi cairan beracun, dia pun tertawa seketika, tertawa dengan sangat renyahnya, membuat semua orang berada di sana bergidik melihatnya.
''Ha... ha... ha... sudah waktunya aku mati, kehidupan ini sungguh singkat dan melelahkan, mana sini berikan ramuan itu padaku, aku ingin segera beristirahat,'' ucap Brendan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Sebastian pun membuka pintu sel lalu masuk ke dalamnya, di membungkuk dengan dalam terlebih dahulu, seolah memberikan penghormatan terakhir, setelah itu minuman pun di berikan.
Brendan duduk bersila, tangannya meraih mangkuk tersebut, air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Dia pun menatap terlebih dahulu ke arah Sebastian dengan tatapan sayu.
''Terima kasih...! Selamat tinggal kehidupan yang sangat melelahkan.''
Glekgek
Glekgek
Glekgek
Terdengar suara air yang melintasi tenggorokan Brendan, dia tersenyum menatap mangkuk yang sudah terlihat kosong, dan menyimpan mangkuk di atas kakinya, lalu tak lama kemudian, darah segar pun keluar dari dalam mulut, hingga akhirnya Brendan pun terkapar, dengan mata yang masih terbuka.
____----____
Setelah Brendan di eksekusi, kini giliran Emillia yang mendapatkan hal yang sama, dia akhirnya meregang nyawa di pelukan putri Elisa, dan pangeran Brian, tangisan pilu pun terdengar di seisi kamar, sang putri memeluk tubuh ibundanya dengan terus menangis tersedu-sedu.
Para pelayan yang selama ini menjadi pelayan setia Emillia tampak melakukan hal yang sama, mereka semua merasa sangat berduka karena kehilangan junjungannya.
Suasana istana pun mendadak hening dan sepi, semua pelayan tak terlihat satu orang pun karena berkumpul di tempat peristirahatan'nya masing-masing. Hal itu di lakukan agar mereka tidak melihat ataupun mendengar proses eksekusi.
Dan yang terakhir yang akan di eksekusi adalah Evina, dia sudah bersiap memakai pakaian serba putih, duduk di dalam kamarnya menunggu kedatangan Sebastian.
__ADS_1
Flora tampak menemani Evina sambil menggendong Adam.
''Tolong bawa Adam keluar, aku tidak mau dia melihatku mati,'' pinta Evina dengan tersenyum.
Flora pun memeluk tubuh junjungannya dengan menangis tersedu-sedu, dia sungguh tidak menyangka jika hidup sang Ratu akan berakhir seperti ini, hatinya sungguh merasakan kesedihan yang sangat mendalam, hingga dadanya terasa sesak.
Dia tidak mengatakan apapun, bibirnya serasa terkunci, hanya tangisnya saja yang terus menggema.
''Tolong jaga Adam dengan baik, aku ingin kau menjadi pengasuhnya sapi dia dewasa,'' pesan Evina mengelus punggung Flora.
''Ratu... hiks hiks hiks... mengapa hidupmu harus berakhir seperti ini? mengapa hidupmu sungguh malang, Ratu. hiks hiks hiks...''
''Pergilah sekarang, bawa Adam pergi dari sini.''
Flora melepaskan pelukannya, dia menatap wajah Evina dengan tatapan merasa heran, karena wajah sang Ratu seperti tidak merasa sedih sama sekali, dia malah tersenyum bahagia, meskipun ajal sedang menanti dirinya. Flora pun berdiri dan berjalan dengan membawa Adam keluar dari dalam kamar.
Tak la kemudian pintu pun di ketuk, Sebastian masuk ke dalam kamar, dia datang untuk meminta ijin akan segera mengeksekusi Evina.
Raja hanya mengangguk pelan, dengan tatapan kosong serta air mata yang terlihat membasahi pipinya.
Setelah Sebastian keluar, Raja pun mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya, dia merasa kesedihan yang teramat dalam. Bahwa dia akan segera kehilangan Evina, wanita yang di cintai'nya.
Dia duduk dengan memeluk kedua lututnya, mengingat kembali perjalanan cinta dirinya bersama Evina, meski jalinan cintanya tidak berakhir bahagia, namun Dia pernah merasakan kebahagiaan itu walaupun hanya sebentar.
Sang Raja pun berdiri seketika lalu berlari keluar dari dalam kamar, dia hendak menghentikan Sebastian yang akan segera mengeksekusi Evina, dia sungguh merasa sangat bodoh karena dengan teganya melakukan hal itu kepada wanita malang itu.
Dia pun berlari dengan sangat kencang dan berharap tidak terlambat. Namun harapannya pun sia-sia karena saat dia sampai di sana, Evina sudah meneguk mangkuk yang berisikan racun, dan sedetik kemudian tubuh Ervina pun hendak terkapar namun tangan Raja segera meraih tubuhnya ke dalam pangkuannya.
__ADS_1
Raja pun menangis sesenggukan dengan tubuh berada di pangkuannya.
''Maafkan aku Ev, aku salah telah berbuat seperti ini. Seharusnya aku lebih keras dalam membujukmu dan tidak menyerah begitu saja, hiks hiks hiks...'' tangis Raja terdengar pilu dan menggema di seisi ruangan.
Evina menatap wajah sang raja dengan pandangan yang sudah sedikit kabur, dia meletakkan tangannya di pipi sang Raja dengan air mata yang mulai bergulir dari pelupuk matanya.
''Aku mencintaimu, da-ri du-lu sam-pai seka-rang, pera-saanku ti-tidak per-pernah beru-bah sedikitpun,'' ucap Evina sesaat sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya, darah segar pun keluar dari dalam mulut wania itu, dan saat itu pula lengannya terjatuh lunglai dengan mata yang mulai terpejam.
''TIDAK... BANGUN EV... MAAFKAN AKU... BANGUNLAH SEKARANG JUGA...HU...HU...HU...'' Raja menangis dengan sangat kencang, dia bahkan sampai berteriak memanggil nama Evina yang kini telah tiada.
Sedetik kemudian bayangan masa lalu pun tiba-tiba singgah di dalam otaknya.
Saat pertemuan pertama mereka, di kontrakan. Saat berlari dari kejaran hantu berbaju putih, dan saat bermain di sungai, juga kenangan-kenangan lainnya yang pernah mereka lewati bersama.
Sang Raja mengingat senyum manis dan raut wajah bahagia Evina saat dia belum masuk ke istana, kini semua itu seolah menari-nari di dalam otaknya.
Wanita yang sangat di cintai kini telah tiada, terpejam dengan mulut mengeluarkan darah didalam pelukannya, Raja pun memeluk dengan sangat erat tubuh yang sudah tidak bernyawa itu dengan masih menangis sesenggukan.
Hatinya serasa hancur berkeping-keping, jiwanya seperti melayang, dan kehidupannya seolah tidak berarti lagi, kini sang Raja hanya bisa meratapi kepergian wanita yang di cintai'nya itu untuk selama-lamanya.
Tidak akan ada lagi senyum manis yang mengembang di bibir mungil dengan pipi tirus, tidak akan ada lagi tatapan sayu dari bola mata indah berwarna coklat berkilau dengan bulu mata lentik milik Evina.
Sungguh sang Raja merasakan duka nestapa yang begitu dalam, dengan sejuta rasa penyesalan yang mungkin saja akan terus menghantuinya seumur hidupnya.
''EVINA... HIKS HIKS... AKU SUNGGUH MENCINTAIMU, MAAFKAN AKU EVINA... HIKS HIKS HIKS...''
Dan semua yang hadir di sana pun ikut menangis, merasa iba melihat sang Raja harus kehilangan wanita yang di cintai'nya.
__ADS_1
___________-------___________