
Raja menoleh ke arah sumber suara, meski dia sedang hilang ingatan, namun entah mengapa mendengar nama itu, membuatnya secara reflex menoleh.
Ternyata yang memanggil nya adalah Alberto, bos dirinya sewaktu masih bekerja di Cafe Monalisa. Alberto menghampiri Raja Arezz lalu memeluk nya dengan wajah yang terlihat sangat senang.
Matanya pun tampak berkaca kaca, mendapati Raja yang sangat ia hormati ternyata masih hidup.
''Akhirnya semua doaku terkabul, yang maha kuasa masih memberimu umur panjang, aku sungguh sangat bersyukur kau masih hidup Raja,hiks hiks hiks,'' ucapnya dengan menangis sesenggukan.
Ryan hanya terdiam, dia sama sekali tidak mengerti apa lagi mengenali laki laki tinggi yang saat ini sedang memeluk tubuhnya sambil menangis.
''Kamu siapa? apa kamu mengenaliku? mengapa kamu memanggilku dengan sebutan Raja Arezz?'' Ryan melepaskan pelukan Alberto dan bertanya, dengan nada yang sangat penasaran.
Alberto merasa terkejut mendapati Rajanya seolah tidak mengenalinya sama sekali, dia menatap wajah Raja dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
Meski pakaiannya terlihat berbeda dan sangat sederhana, namun ia sangat yakin bahwa wajah yang sedang ia lihat saat ini adalah Raja Arezz.
''Mengapa yang mulia berkata begitu? apa yang mulia sungguh tidak mengenali hamba?'' tanya Alberto merasa sangat heran.
''Namaku Ryan, tapi memang aku sedang Amnesia, seluruh ingatanku hilang,'' jawab Raja.
''Apa...?'' Alberto sangat terkejut.
''Apa kamu benar benar, mengenaliku?''
''Tentu saja, kau adalah Raja negeri ini, mana mungkin aku tidak mengenalimu sama sekali,'' jawab Alberto meyakinkan.
Flora yang sedari tadi berada di sana hanya memperhatikan dengan seksama pembicaraan mereka, jika memang Ryan itu adalah seorang Raja, itu berarti tebakan kakeknya benar.
''Jika kau benar benar mengenaliku, bisakah kau menceritakan tentang siapa aku yang sebenarnya,'' pinta Ryan.
''Baiklah, hamba akan menceritakan semuanya, namun sepertinya jangan di sini, bagaiman jika yang mulia ikut ke rumah hamba? yang mulia boleh tinggal dulu di sana untuk sementara,'' pinta Alberto.
''Baiklah, aku akan ikut denganmu,'' jawab raja setuju.
''Oh iya... dia siapa?'' tanya Alberto menatap Flora dengan tatapan heran.
__ADS_1
''Perkenalkan, dia adalah Flora, cucu dari orang yang telah menolongku, dia juga yang merawat ku selama ini.''
''Flora...! nama yang indah, seindah wajahmu, perkenalkan, namaku Alberto, pemilik dari cafe Monalisa yang terkenal," Alberto mengulurkan tangannya.
Flora menerima uluran tangan Alberto dan menyalaminya sembari mengucapkan namanya.
"Bisakah kita pergi sekarang?" tanya Ryan yang penasaran, ingin segera mendengar dari mulut Alberto tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
"Baik yang mulia, silahkan yang mulia ikut dengan saya, mobil saya di parkir di depan sana," jawab Alberto menunjuk ke arah mobil berwarna hitam yang di parkir di pinggir jalan.
______------_____
Di rumah Alberto.
"Silahkan masuk yang mulia." Alberto mempersilahkan Ryan dan juga Flora masuk ke dalam rumahnya.
Rumah Alberto terlihat sangat rapih, meski rumah itu terlihat besar, namun ia hanya tinggal sendiri, karena Alberto belum menikah sama sekali. Ryan, Flora dan juga Alberto, duduk di kursi, di ruang tamu.
"Sekarang, coba kamu ceritakan, semua yang kamu tahu tentang diriku," ucap Raja merasa tidak sabar.
Raja tampak mengerutkan keningnya, semua yang di biarkan oleh Alberto, dia sama sekali tidak mengingatkannya.
''Apa yang mulia Raja benar benar ingat ingatan?'' tanya Alberto masih tidak merasa percaya.
Raja mengangguk.
''Aku sungguh tidak ingat apapun, semua yang kau bicarakan, aku tak mengingatkannya sedikit pun,'' jawab Raja sedikit merasa frustasi.
''Apa Raja mengingat wanita yang bernama Evina?''
''Evina? siapa itu? apa dia kekasihku? atau istriku?''
''Bukan...! dia wanita yang sangat yang mulia cintai, namun dia bukan kekasih ataupun istri yang mulia,'' jawab Alberto dengan raut wajah yang terlihat sedih.
''Mengapa begitu? dia orang yang sangat aku cintai, tapi bukan kekasih atau istri ku?'' Raja merasa sangat heran.
__ADS_1
Alberto mengangguk, dia merasa sangat sedih apabila mengingat kisah cinta Raja Arezz yang harus berakhir dengan tragis, karena wanita yang di cintai rajanya itu harus menikah dengan adiknya sendiri, yang sekarang sudah menjadi Raja menggantikan dirinya.
''Apakah yang mulia sama sekali tidak mengingat Evina?'' Alberto masih merasa penasaran.
Ryan termenung sejenak, ia memegang dadanya yang entah mengapa serasa sesak saat mendengar nama wanita itu di sebut, sepertinya hatinya merasa sakit, dan jiwanya seolah bergejolak, ada rasa yang sama sekali dia tidak mengerti, entah itu apa, ia pun tidak mengerti.
''Aku belum bisa mengingat wanita itu, namun entah mengapa, ada rasa sakit dalam hatiku saat mendengar kau mengucapkan namanya,'' jawab Raja masih dengan memegangi dada nya.
''Mungkin itu karena yang mulia sangat mencintainya.''
Raja hanya termenung.
Flora yang juga berada di sana tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya menyimak apa yang mereka bicarakan, namun tiba-tiba saja ia memikirkan sesuatu.
''Maaf, jika saya menyela pembicaraan kalian. Jika Ryan adalah seorang Raja, pasti dia memiliki orang kepercayaan, atau semacam pengawal pribadi, gitu?'' Flora mengeluarkan pendapatnya.
''Sakti...!'' Alberto menjentikkan kedua jarinya.
''Sakti...? siapa dia?'' tanya Raja mengerutkan keningnya.
''Dia adalah orang kepercayaan mu, yang mulia, jika yang mulia berkenan, saya akan pergi ke isan dan membawa Sakti ke sini.''
''Baiklah, jika tidak merepotkan mu, bawa orang yang bernama Sakti itu ke sini, siapa tahu, jika aku melihatnya, aku akan sedikit mengingat siapa diriku yang sebenarnya,'' Raja setuju dengan usulan Alberto.
''Tentu saja saya tidak merasa keberatan, saya berhutang nyawa kepada yang mulai, dan ini saatnya saya akan membalas budi atas jasa yang mulia, yang dahulu telah menyelamatkan hidup saya.''
''Namun, yang mulia, perjalanan dari sini ke istana memakan waktu lama, apa tidak keberatan, dirimu di tinggal di sini bersama Flora?''
''Ia, aku tak apa apa, lagi pula aku tidak bisa ikut ke sana, mereka pasti akan sangat terkejut melihatku, yang mereka kira sudah mati, tiba tiba datang kembali dalam keadaan hidup,'' jawab Raja.
''Baiklah, saya akan segera pergi ke istana, namun, sebelumnya izinkan saya untuk mempersiapkan makanan terlebih dahulu untuk kalian berdua, kalian pasti lapar, kan?''
Flora memegangi perutnya, yang memang dari pagi belum di isi oleh Makanan sama sekali. Ia tersenyum senang, akhirnya bisa makan setelah seharian menahan lapar.
Alberto pun, berjalan ke dapur untuk memasak makanan, ia akan membuatkan makanan yang sangat enak, untuk dua tamu spesial yang sekarang sedang berada di rumahnya.
__ADS_1
_______----_______