
Pangeran Arezz tampak sedang berdiri di depan jendela, entah mengapa perasaan nya malam ini merasa tidak enak dan terus memikirkan kekasih nya.
Sang pangeran merasa takut jika harus meninggalkan Evina di dalam istana sendirian, perasaan yang ia rasakan saat ini seperti sebuah firasat baginya bahwa kekasih hatinya sedang dalam masalah besar.
Sementara itu, Evina sudah dalam keadaan tak sadarkan diri, tubuhnya terkulai lemas tak berdaya di atas lantai, melihat wanita yang di inginkan nya sudah dalam keadaan seperti itu membuat bibir pangeran Brendan tersenyum senang.
Dirinya memang sengaja mencampur minuman yang di minum wanita itu dengan obat-obatan yang bisa membuat siapapun yang meminumnya akan kehilangan kesadaran.
Pangeran Brendan meraih tubuh yang sudah terkulai lemas itu dengan kedua tangannya, lalu membaringkannya di atas tempat tidur besar dan mewah kepunyaan nya.
Ia menatap wajah cantik Evina yang sedang terlelap, mata, hidung bahkan bibirnya terlihat sangat indah di matanya. Sang pangeran membuka satu persatu kancing baju yang membalut tubuh kurus gadis itu dengan tersenyum nakal, seolah sudah tidak sabar untuk menikmati setiap lekuk tubuh indah gadis pujaan hatinya tersebut.
Kini keadaan Evina sudah polos tanpa satu helai benang pun, pangeran Brendan pun tampak terpesona saat melihat dua gunungan yang menggumpal indah serta putih mulus seolah tanpa noda.
Dan tanpa menunggu lama, laki laki itu mengulum lalu menyesapnya perlahan, Evina tampak sedikit membuka mata, ia sudah mendapati laki laki kekar tanpa busana sedang menindih dirinya.
Dia ingin berteriak dan meminta tolong, namun seluruh tubuhnya terasa lemas kaki dan tangannya seperti tidak dapat di gerakan, hanya matanya saja yang sudah penuh dengan lelehan air mata yang bisa ia gerakan.
Dirinya seperti menerima begitu saja saat laki laki dengan tubuh sama polosnya dengan dirinya itu mendaki di atas gunung kenyal miliknya, dan mengecup setiap jengkal tubuhnya, hingga menyesap bagian intinya.
''Pangeran... apa yang kau lakukan,'' ucap Evina dengan bersusah payah mencoba berbicara.
Pangeran tidak menjawab, dirinya hanya fokus pada penjelajahan yang menggairahkan dan benar benar telah membuncah seolah segera minta untuk di salurkan.
__ADS_1
Tangan sang pangeran terus meremas dan meraba seluruh bagian polos gadis itu, dia sama sekali tidak menghiraukan jika gadis yang sedang di dekap nya nya menangis dan merintih.
Sampai akhirnya sang pangeran benar benar menghujamkan senjata tajam milik nya dan merusak mahkota yang selalu di lindungi oleh gadis itu sekuat tenaga.
Arghh...
Evina tampak merintih kesakitan, benda tajam dan berotot itu seolah merobek bagian inti yang selama ini di banggakan nya, darah segar pun sedikit menetes memberi tanda jika mahkota yang selama ini di lindungi nya sudah benar benar robek tak bersisa.
Dirinya hanya bisa terus menangis, saat sang pangeran berkali kali menghujamkan benda itu ke dalam intinya, pangeran Brendan tampak mengerang merasakan kenikmatan yang seolah baru pertama kali di rasakan nya, tanpa menghiraukan rintihan dan tangisan yang keluar dari mulut wanita yang kini berada di bawah kungkungannya.
Karena merasa jengah dengan suara tangisan dari bibir Evina, Pangeran pun mengulum bibir ranum itu dengan bibirnya sambil terus menggoyangkan senjata tajam miliknya di bagian intinya, menenggelamkan nya dengan sangat dalam hingga suara tangisan itu tak terdengar lagi.
Kini gairah yang sempat di tahannya sudah hampir meledak, dan akhirnya pangeran dapat mengakhirinya dengan perasaan sangat puas saat larva pijar Nya benar benar menyembur masuk ke dalam bagian inti wanita tersebut.
''Kamu benar benar brengsek, kamu telah merampas kesucian ku,'' maki Evina dengan lelehan air mata yang terus membasahi pipinya tanpa henti.
Pangeran bangkit lalu berbaring di samping gadis yang masih dalam keadaan menangis tersedu sedu tersebut, ia mengangkat kepalanya lalu mengusap setiap lelehan air mata yang mengalir deras di pelupuk mata Evina.
''Sekarang kamu telah menjadi milikku, kekasihmu itu tidak akan Sudi menerimamu kembali karena aku telah merebut mahkota mu, tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan selain menerima pertanggung jawabanku,'' jawab pangeran dengan tersenyum licik.
Evina terus menangis sambil menutupi tubuh polos nya, ia ingin segera bangkit namun sang pangeran kembali meraih tubuhnya dan menghujamkan senjata tajam miliknya kembali selama berkali kali, sehingga membuat tubuh Evina terasa benar benar lemas di buatnya.
Setelah merasa puas menyalurkan hasratnya selama bertubi tubi, pangeran Brendan pun memejamkan matanya, tanpa peduli dengan suara tangisan yang terus keluar dari bibir Evina.
__ADS_1
Pukul 2 dini hari tubuh Evina sudah sedikit normal, tangan dan kakinya sudah dapat di gerakan meski masih terasa lemas, dia hendak berdiri dan meraih satu persatu pakaian yang berserakan di atas lantai, mencoba memakai nya meski bagian inti nya masih terasa sangat sakit.
Setelah pakaian nya selesai di kenakan, ia pun berjalan dan keluar dari kamar, dengan kaki dan tubuhnya seolah masih terasa bergetar karena syok yang ia dapatkan.
Akhirnya dengan tertatih tatih ia pun berjalan menuruni tangga, dan mulai menapak kan kakinya di atas tangga.
Dengan napas yang masih ter engah engah dan tubuh yang masih terasa sangat lemas akhirnya hanya tersisa beberapa anak tangga yang harus ia turun ni.
Namun saat kakinya akan kembali menginjak satu tangga, tiba tiba saja kakinya tersebut keseleo sehingga membuat nya jatuh berguling ke lantai dasar dengan kening yang menyentuh lantai terlebih dahulu.
Bruukk...
Terdengar suara tubuh Evina terjatuh, darah segar nampak keluar dari keningnya, namun dirinya sebisa mungkin untuk bangkit dan kembali berjalan dengan tubuh serasa remuk dan darah segar sedikit membasahi keningnya.
Akhirnya setelah bersusah payah ia pun sampai di tempat peristirahatan nya, ia sengaja tidak masuk ke dalam kamar, dirinya lebih memilih memasuki kamar mandi dan merendamkan tubuh yang sudah serasa kotor dan ternoda di dalam bak mandi yang terisi penuh oleh air.
Tangisnya benar benar pecah, ia menutup mulut dengan kedua tangannya agar tak ada yang dapat mendengar suara tangisnya. Hatinya benar benar hancur, hidup nya seolah sudah tak ada artinya lagi, karena laki laki bejat yang bergelar pangeran telah memperkosa dan merebut kesuciannya dengan paksa.
Evina terus menangis dan menangis tanpa henti, dirinya seolah sudah tidak dapat lagi merasakan dinginnya air yang saat ini merendam tubuhnya, karena batinnya sungguh sedang merasakan rasa sakit yang teramat dalam.
Lalu tanpa berpikir panjang, ia pun meraih pisau kecil yang tergeletak begitu saja di samping bak mandi, Evina menatap lama pisau tersebut, dan tampak sedang berpikir panjang, lalu akhirnya nya keputusan pun di buat, karena hidupnya sudah benar benar hancur, ia pun mencoba mengakhiri hidupnya dengan cara memotong urat nadi di pergelangan tangannya.
*****
__ADS_1