
''Baik, tuan Putri, saya akan memanggilkan Sakti untukmu,'' jawab pria tersebut lalu masuk ke dalam kamar.
Tak lama kemudian Pria tersebut kembali keluar dengan membawa kabar, dia berdiri di hadapan sang Putri dengan kepala yang menunduk.
''Mohon maaf tuan Putri, Sakti tidak ada di dalam.''
''Benarkah? kemana dia pergi?'' tanya Putri.
''Saya kurang tahu, putri.''
''Ya sudah, terima kasih,'' Putri pun pergi meninggalkan tempat itu.
Sang putri terus berjalan mencari Sakti ke seluruh tempat di istana, sebenarnya dia bisa saja menyuruh pelayan untuk mencari dan memanggilkan nya untuk dirinya, namun ia tidak mau membuat geger seisi istana jika mereka semua tahu bahwa dia berpacaran dengan pengawal pribadi mendiang kakaknya.
Lama mencari akhirnya sang putri melihat Sakti, dia seperti sedang berbicara dengan seseorang, yang lawan bicaranya tersebut tidak terlihat oleh sang putri karena tertutup dengan tembok tembok.
Dia pun berjalan menghampiri dengan perasaan dan tersenyum senang, karena akhirnya ia bisa menemukan orang yang sedang di carinya.
''Sak---'' Putri hendak memanggil Kekasihnya tersebut, namun ia mengurungkan niatnya seketika, saat melihat orang yang sedang berbicara dengan kekasihnya tersebut ternyata adalah seorang wanita.
'Siapa dia?'
Putri berjalan pelan ingin melihat lebih dekat wanita yang sedang berbicara dengan sang kekasih, dan ternyata dia adalah Flora, Putri mengenali wanita itu sebagai pengasuh keponakannya, dia pernah melihatnya sekali saat kakak iparnya itu baru saja pulang dari Rumah Sakit beberapa hari yang lalu.
Hati sang putri di selimuti rasa cemburu, dia berfikir bahwa ternyata alasan Sakti tidak pernah menemuinya lagi pasti kerena telah mendapatkan wanita lain yang jika di lihat-lihat sepertinya wanita itu tidak lebih baik darinya.
Dia pun kembali berbalik dan hendak pergi dari tempat itu, Sakti tidak sengaja melihat tubuh sang Putri yang hendak pergi dengan wajah muram, ia pun segera memanggil dan berlari menghampiri.
''Putri...!'' Sakti memanggil dengan melambaikan tangannya.
Namun putri tidak menghiraukan dan tetap berlari menjauh, dia bahkan tidak menoleh sama sekali, hatinya dan fikiran nya serasa telah dibutakan oleh api cemburu.
Flora yang melihat kejadian tersebut merasa sangat heran, dia bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Sang Putri bersikap seperti itu kepada Sakti? Apakah mereka berpacaran? jika ia, sang putri pasti sedang salah paham. Flora berjalan mengikuti Sakti yang sedang mengejar sang Putri.
''Putri, tunggu,'' Sakti berlari lebih cepat.
__ADS_1
Semakin Sakti berteriak apa namanya maka Sang Putri pun semakin mempercepat gerakan kakinya.
Sakti yang melihat putri seperti itu, segera berlari lebih kencang dan akhirnya dia pun dapat mengejar sang putri, kemudian meraih pergelangan tangannya.
''Putri, tunggu, kamu kenapa?'' sesaat setelah mereka berhenti dan berdiri saling berhadapan.
''Kamu yang kenapa? aku sih tidak apa-apa,'' jawab Putri ketus dan hendak kembali berbalik dan meneruskan langkahnya, namun karena pergelangan tangannya masih digenggam oleh Sakti Ia pun kembali mengurungkan niatnya.
''Putri...!'' Sakti memanggil dengan suara yang terdengar sangat lirih.
''Apa? kenapa kamu mengejar ku? bukannya teruskan saja mengobrol dengan wanita itu?'' ujar sang Putri dengan wajah yang terlihat kesal.
''Ha... ha... ha...! jadi, kamu marah karena merasa cemburu melihatku bersama Flora?'' Sakti tertawa geli.
''Mengapa kamu malah tertawa? apa aku ini lelucon bagimu?'' Putri semakin kesal.
''Nanti aku akan ceritakan semuanya padamu, tapi tidak di sini,'' Sakti menggenggam erat jemari Sang Putri dengan kedua tangannya, sambil menatap dengan tatapan penuh cinta.
Tak lama kemudian Flora yang tadi memang mengejar Sakti di belakang sampai di hadapan mereka berdua, dia menghampiri Putri dan juga Sakti dan berdiri di samping sang Putri dengan nafas yang masih terengah-engah.
Putri menatap wajah flora dengan tatapan tajam yang penuh dengan kemarahan, dia memperhatikan flora dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan bola mata yang terlihat sinis.
Flora yang menyadari hal tersebut, segera berdiri berhadapan dengan sang putri dan membungkuk memberi hormat.
''Ada hubungan apa kamu dengan kekasihku?'' putri bertanya dengan tatapan dan nada suara yang terdengar sinis.
''Maksud Putri apa? saya sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan pria ini,'' jawab Flora dengan keadaan yang masih menundukkan kepalanya.
Sakti tersenyum melihat wajah sang kekasih dengan tatapan lucu, karena wajah putri terlihat seperti sangat menggemaskan di matanya apabila sedang dalam keadaan cemburu seperti itu.
Flora dan Putri menatap ke Sakti secara bersamaan, mereka berdua melayangkan tatapan tajam.
''Kenapa kamu tertawa seperti itu"
Tanya keduanya secara bersamaan, Sakti yang menerima tatapan mata tajam dari kedua wanita cantik yang saat ini sedang berdiri di hadapannya langsung merubah raut wajahnya seketika dan menatap keduanya secara bergantian.
__ADS_1
''Mmm... Maaf aku tak sadar melakukannya, kamu sungguh menggemaskan saat sedang Cemburu seperti ini,'' jawab Sakti masih dengan menahan tawa di mulutnya.
''Sekarang cepat jelaskan kepadaku siapa wanita ini sebenarnya?'' tanya Putri.
''Sebaiknya kita tidak bicara di sini, aku akan menjelaskan semuanya, tentang siapa dia dan apa yang sedang aku kerjakan sekarang.''
''Kalau begitu kita bicara di kamarku saja, dan kamu juga ikut denganku,'' putri berjalan dan langsung di ikuti oleh Flora dan Sakti di belakangnya.
Di dalam kamar.
Putri duduk di kursi di dalam kamar dengan Sakti berada di sampingnya, sementara Flora, dia sama sekali tidak di persilahkan duduk, alhasil dia pun hanya berdiri, dengan kepala menunduk.
''Sekarang cepat jelaskan kepadaku,'' tanya sang Putri singkat.
Sakti terdiam sejenak, dia masih merasa bingung harus menjelaskannya dari mana dan mana terlebih dahulu. Dia hanya menatap wajah sang Putri dengan otak yang masih berfikir keras.
''Kenapa kamu malah menatapku seperti itu, cepat jelaskan.''
''Baik, sebentar sayang, izinkan aku berfikir terlebih dahulu,'' ujar Sakti dengan suara lirih.
''Berfikir apa? berfikir bagaimana caranya untuk menyembunyikan hubungan mu dengan selingkuhan mu ini?'' Putri berbicara dengan nada mengejek dan mata yang menatap ke arah Flora.
''Tidak, bukan seperti itu, jangan salah paham dulu, aku sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan dia.''
''Lalu apa, hah...?'' Putri menaikan nada suaranya.
Flora masih terdiam berada di tengah-tengah sepasang kekasih yang sedang bertengkar, sebenarnya dia merasa tidak enak berada di sana, namun dia ingin segera meluruskan kesalahan pahaman yang terjadi, antara dirinya, Sakti, dan sang Putri
''Dengarkan aku, sayang, kekasihku tercinta, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu, tapi kamu harus berjanji terlebih dahulu, tidak akan mengatakannya kepada siapapun, apalagi dengan Permaisuri atau pun kedua kakakmu,'' ucap Sakti dengan suara yang terdengar berat.
''Tentang apa itu, sampai-sampai kau meminta ku untuk berjanji seperti itu?'' tanya sang putri merasa sangat penasaran.
''Sebenarnya kakakmu, Raja Arezz, dia masih hidup,'' ucap Sakti akhirnya membulatkan diri untuk mengatakannya.
''Apa? kak Arezz masih hidup?'' tanya Putri Elisa dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
______________------------______________