
''Kamu kenapa nak? siapa yang membuatmu menangis seperti anak kecil begini?'' tanya Ratu Emilia menghampiri lalu memegang wajah pangeran Brendan.
''Ternyata ibunda benar, istri ku tidak sebaik yang aku kira,hiks..hiks..''
''Apa maksudmu...?''
''Dia mengkhianati aku,'' masih dengan linangan air mata.
''Apa...? berani berani nya melakukan itu sama kamu,'' ucap sang Ratu dengan wajah yang terlihat cemas, namun dalam hatinya sang Ratu sungguh merasa senang, karena rencananya berjalan sesuai harapannya.
Pangeran Brendan berjalan dengan di papah oleh ibundanya, seluruh raganya serasa lemas, dan kebahagiaan yang baru saja di rasakan nya luluhlantah seketika, akibat rencana jahat dari ibundanya sendiri, yang menjebak Evina bersama pangeran Arezz.
Sesampainya di kediaman sang pangeran, ia langsung duduk di sebuah kursi dengan perasaan hancur, rasa cinta nya kepada sang istri telah berubah menjadi kebencian yang teramat dalam, sungguh pangeran Brendan merasakan bagaikan di khianati.
''Ibu juga bilang apa sama kamu, kamu sebaiknya segera tinggalkan dia, kembalikan dia ke tempat yang seharusnya memang pantas untuk wanita murahan tidak tahu diri seperti dia,'' duduk di samping pangeran.
''Tidak Bu, aku tidak akan pernah melepaskan dia, aku akan membuat hidupnya menderita, sungguh aku berjanji aku akan membalas semua pengkhianatan dia padaku,'' dengan wajah yang berapi api.
''Hmmmm....'' sang Ratu mendengus panjang.
''Baiklah, lakukan yang kamu mau...! Sekarang sebaiknya kamu istirahat dulu ya, tak usah terlalu di pikirkan, ibu bisa mencarikan mu wanita lain yang lebih baik dari wanita itu sebagai selir kamu.''
''Benarkah? apa boleh aku memiliki selir?''
''Tentu saja boleh, kenapa tidak?''
Pangeran Brendan tersenyum senang, jiwa petualang nya seolah kembali bangkit seketika.
*
Beberapa jam kemudian.
Evina terbangun dan membuka matanya, ia terkejut berada di sebuah kamar yang bukan merupakan kamar dirinya bersama seorang laki-laki yang tertidur tepat di sebelahnya.
Ia melihat keadaan tubuhnya yang dalam keadaan polos tanpa memakai apapun.
Ia meraih satu persatu pakaian nya yang berserakan di atas lantai. Tak lama kemudian Pangeran Arezz pun membuka kedua matanya, ia mendapati wanita yang semalam memadu kasih dengannya di atas lantai.
Evina tampak sangat terkejut ketika melihat laki laki yang sedang menggeliat sambil menguap itu bukanlah suami nya.
"Kamu sedang apa di sini? apa yang telah kita lakukan?" Evina mulai gugup.
__ADS_1
"Bukan kah kamu yang semalam mengajakku untuk menemani mu di sini?'' pangeran Arezz terlihat sangat gugup.
"Apa...? aku...? tak mungkin, semalam suamiku yang membawaku ku ke sini, bukan kamu."
"Apa maksudmu? aku yang semalam menemani mu di sini, bukan suami mu," pangeran Arezz nampak agak sedikit curiga mendengar ucapan Evina, yang ama sekali seperti tidak ingat dengan semua yang terjadi semalam.
"Aku harus segera pergi dari sini, sebelum ada ke salah pahaman di antara aku dan suamiku,'' Ia berjalan dan keluar dari dalam kamar setelah pakaian yang ia kenakan lengkap di tubuhnya.
Sang pangeran hanya menatap kepergian Evina dengan perasaan heran dan penuh tanda tanya, seperti nya ia dapat mencium bau konspirasi dengan apa yang baru saja menimpa dirinya bersama wanita itu.
Apa yang sebenarnya terjadi (batin pangeran Arezz)
Ia pun segera meraih pakaian nya, memakai nya satu persatu dan keluar dari sana.
**
Trok trok trok
Evina mengetuk pintu kamarnya lalu masuk ke dalam kamar, iya berjalan dengan sangat hati-hati dan entah mengapa hatinya diliputi rasa takut yang teramat dalam.
"Hebat kamu Ev....!"
Tiba tidak terdengar suara Pangeran berdandan yang sedang duduk diatas kursi sambil memegang satu botol wiski di tangannya.
Dan tiba tiba saja.
Prank...
Botol yang sedang dipegang oleh suaminya itu dilempar ke sebuah tembok, hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring dan membuat botol beserta isinya hancur seketika.
"Aaa..."
Evina menutup kedua telinganya.
Pangeran Brendan berjalan menghampiri Evina dengan tatapan geram dan berapi api, hatinya sungguh telah di penuhi dengan kemarahan.
Ia pun membuka gesper yang membalut pinggangnya, dan tanpa basa basi lagi.
Plak.. plak.. plak..
Ia menghantamkan gerper itu ke tubuh kecil Evina, hingga membuat gadis itu berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Ampun suamiku, apa yang kau lakukan? mengapa kau melakukan ini padaku.. hiks..hiks..hikss.."
Evina menangis tersedu.
"Kamu pantas mendapatkan ini, kamu sudah berani mengkhianati aku dengan kakakku, aku sungguh jijik dengan dirimu," kembali menghantamkan benda itu ke tubuh Evina, dan kali ini lebih keras, sehingga membuat tubuh kurus nan ramping itu menguarkan darah segar.
"Ampun... suamiku, aku mohon dengarkan dulu penjelasan ku... hiks..hiks.."
"Aku tidak butuh penjelasan mu, aku telah melihat sendiri kamu tidur dengan dia, hati ku sakit Evina... sungguh sakit.. hu..hu..hu.." dengan berderai air mata.
"Aku di jebak, aku kira laki laki itu kamu, hiks hiks.."
"Sini kamu.." pangeran Brendan meraih lengan sang istri lalu menyeretnya ke atas ranjang, ia membuka seluruh pakaian istrinya, dan membanting tubuh polos itu ke atas ranjang.
Dan tanpa Ragu lagi, ia pun menghantamkan roket miliknya dengan begitu keras ke bagian intinya, hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
Argh...
"Sakit pangeran, pelan pelan...hiks hiks.."
Pangeran tak menghiraukan teriakan istrinya, dan terus menghujamkan benda panjang berotot itu dengan sangat keras, lagi dan lagi hingga dirinya benar benar merasa puas.
Evina pun terkulai lemas, tubuhnya terasa sangat remuk, bagian inti tubuhnya terasa sangat nyeri dan perih.
Suaminya pun terkulai di atas tubuh polos miliknya, ia terlihat terpejam namun air mata seperti nya memenuhi kelopak mata yang terpejam itu.
"Kamu benar benar telah melukai hatiku Ev, kamu mengkhianati kepercayaan dan cinta tulus ku,hu..hu..hu.." ucap pangeran Brendan.
"Aku minta maaf pangeran, aku sungguh di jebak."
"Bohong... aku tahu sebenarnya kamu masih mencintai kakakku kan?" Pangeran Brendan kembali menghentakkan roket miliknya dengan begitu keras, hingga membuat Evina berteriak kesakitan.
Arrgh...
"Ampun suamiku.. sakit..."
Hingga pagi menjelang Evina seolah terus mendapatkan siksaan atas kesalahan yang telah di buatnya, dan semua itu akibat jebakan dari Ratu yang tidak berperasaan.
Ratu memang sengaja menyuruh pelayan kepercayaan dirinya untuk memasukan obat perangsang, dan sengaja membawa Evina ke tempat peristirahatan pangeran Arezz agar bisa menyalurkan hasratnya kepada mantan kekasihnya tersebut.
Dan kini, rencana yang di susun dengan sangat rapi oleh Ratu tersebut berjalan sempurna, kebahagiaan yang baru saja di rasakan sepasang suami istri itu luluhlantah seketika.
__ADS_1
Dan Rasa cinta yang semula tulus di hati pangeran Brendan kini berubah menjadi rasa benci yang begitu dalam.
*****