KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Benar benar jatuh cinta


__ADS_3

Evina berjalan cepat menuju halaman tempat nya beristirahat, dia berfikir jika pangeran Arezz sedang menunggunya di luar sana.


Namun saat dirinya sampai di luar, ternyata yang sedang menunggunya adalah pangeran Brendan bukan Pangeran Arezz yang merupakan Kekasihnya.


Ternyata pelayan yang tadi berbisik padanya hanya mengatakan kata pangeran saja, sehingga membuatnya salah paham mengira jika yang mengunjunginya saat ini adalah Pangeran Arezz.


Pangeran Brendan tampak sangat terpana melihat penampilan Evina yang hanya mengenakan pakaian tidur sederhana, dengan rambut panjang terurai dan bola mata coklat berkilau menatap ke arahnya, membuat dirinya seolah tak berkedip melihat wajah Evina yang kini sedang berjalan menghampiri nya.


''Ada apa pangeran menemui saya di sini? apa belum puas telah membuat tangan saya terluka dan di permalukan di depan banyaknya pelayan istana?'' tanya Evina dengan nada ketus.


"Saya kemari hanya ingin meminta maaf padamu, saya sungguh tidak bermaksud untuk membuat tangan mu terluka," jawab pangeran Brendan dengan nada lembut, sangat berbeda dengan yang biasa ia tunjukan kepada Evina selama ini.


Wajah nya tampak sedikit menunduk, ke angkuh han dan tatapan sinis yang biasa di perlihatkan oleh pangeran Brendan seolah tak terlihat lagi oleh mata Evina.


"Iya saya maafkan, sekarang pangeran silahkan pergi karena saya mau istirahat," jawab Evina masih dengan nada ketus.


"Tunggu Ev..." pangeran memanggil Evina yang hendak melangkah lalu meraih pergelangan tangannya.


"Aawww...." Evina tampak meringis saat tangan Pangeran Brendan memegang pergelangan tangannya.


Dengan segera pangeran pun melepaskan pegangan tangannya, dirinya sedikit terkejut karena pergelangan tangan Evina yang tadi di genggamnya kini sudah terbalut perban melingkar menutupi seluruh pergelangan tangan yang terlihat sangat kecil dimatanya.


"Apakah tadi aku terlalu keras menggenggam tangan mu, hingga harus di balut dengan perban seperti ini?" tanya pangeran Brendan hendak meraih kembali tangan Evina.


Namun niat itu di urungkan nya, karena Evina segera menyembunyikan tangannya yang terluka di balik tubuhnya.


"Bukan urusan pangeran."


Evina hendak melangkah kembali.

__ADS_1


"Bisakah kau memilih ku, bukan memilih kakak ku? karena yang akan menduduki Tahta adalah aku, bukan dia," ujar pangeran secara tiba tiba.


Evina pun menghentikan langkahnya, lalu berbalik kembali menghadapkan tubuhnya ke arah pangeran Brendan, sehingga mereka kini saling berhadapan meski dengan jarak yang tidak terlalu dekat.


Pangeran dapat dengan jelas menatap wajah Evina yang terlihat sangat cantik, meski tatapan mata Evina terlihat sinis kepadanya, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan yang ia miliki.


"Mohon maaf pangeran, seperti nya anda salah paham, saya dekat dengan kakak anda bukan karena dia seorang pangeran ataupun calon pewaris Tahta, namun kami sudah dekat dan saling mencintai dari semenjak saya belum mengetahui status beliau sebagai seorang pangeran," jawab Evina.


"Apakah kamu sungguh mencintainya?"


"Ya... saya mencintainya, begitupun sebaliknya, jadi saya sangat berharap, mulai saat ini pangeran jangan lagi mengganggu saya, karena di hati saya sudah ada pangeran Arezz dan tak akan terganti kan oleh laki laki manapun, termasuk anda."


Pangeran Brendan sungguh merasa tersinggung oleh ucapan Evina, baru kali ini dirinya di tolak mentah mentah oleh seorang wanita, apalagi wanita tersebut hanya berstatus seorang pelayan biasa, membuat harga dirinya terasa di injak injak begitu saja.


"Tunggu saja...! sekarang kau boleh bersenang senang dengan kakakku, namun saat aku naik Tahta nanti, aku akan menjadikanmu selir kerajaan, sehingga kau tidak akan bisa bersama ataupun menikah dengan kakakku itu, karena aku akan menjadikan mu satu satunya wanitaku.''


***


Keesokan harinya, Evina di tugaskan oleh Kepala pelayan untuk membersihkan sebuah kamar kosong di lantai tiga yang letaknya tepat bersebelahan dengan kamar Pangeran Brendan.


Karena sebelumnya ia telah memecahkan satu buah piring saat sedang mencuci nya kemarin, sehingga membuat kepala pelayan menghukumnya dengan memberikan tugas yang lebih berat untuk di kerjakan oleh Evina.


Evina tampak membuka kamar yang seperti nya sudah beberapa bulan tidak di tempati, debu serta kotoran tampak sedikit menghiasi dinding serta langit langit kamar.


Ia pun menutup hidung nya, debu yang bertebaran membuat hidung kecilnya sedikit tersumbat lalu ia pun bersin seketika.


Evina meraih sapu yang sudah di siapkan nya, tak lupa ia pun membawa perlengkapan kebersihan lainnya sebagai alat untuknya membersihkan kamar yang terlihat begitu luas tersebut.


Saat dirinya sedang melakukan hal tersebut, pangeran Brendan seperti nya melihat Evina saat dirinya melintas di depan kamar, ia pun masuk ke dalam kamar dan menghampiri Evina.

__ADS_1


''Sekarang tugasmu jadi tukang bersih bersih ya?'' tanya Pangeran Brendan yang sudah berdiri begitu saja tanpa di ketahui oleh Evina.


Evina tampak sedikit terkejut lalu ia tidak menghiraukan sama sekali ucapan Pangeran Brendan, dan terus melanjutkan tugasnya.


Selama hampir dua jam Evina membersihkan kamar tersebut, suasana kamar pun sudah sedikit terlihat rapih dan debu yang tadi bertebaran tampak sudah tidak terlihat lagi.


Selama Evina melakukan tugasnya, selama itu pula pangeran Brendan berada di sana, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, matanya hanya tampak menatap dan mengikuti tubuh Evina yang berlalu lalang di hadapannya.


Evina sendiri tidak menghiraukan keberadaan Pangeran Brendan yang sedari tadi berada di sana, dia hanya fokus dengan pekerjaannya seperti yang selama ini sering ia lakukan.


Setelah keadaan kamar benar-benar bersih, Evina duduk di atas lantai, dirinya mengusap keringat di pelipis wajahnya dengan tangan yang sedikit kotor, sehingga membuat debu yang berada di tangannya kini berpindah tempat ke pelipis wajahnya.


Evina sendiri tidak menyadari hal tersebut, dirinya hanya terus duduk sambil memandangi pantulan wajah dirinya dari lantai marmer yang mengkilap.


''Ev... pelipis mu kotor,'' ujar pangeran Brendan sambil memberi kode dengan satu jarinya ke arah wajah Evina.


Evina mengerti dengan kode yang berikan oleh pangeran Brendan, ia pun kembali mengusap pelipisnya, namun karena keadaan tangan nya yang masih dalam keadaan sedikit kotor membuat debu yang berada di pelipis Evina menjadi semakin bertambah.


Evina berdiri hendak bercermin, namun secara tiba tiba Pangeran Brendan menghampiri nya dan mengusap pelipis wajahnya dengan tisu yang berada di genggaman tangannya.


Sontak hal tersebut membuatnya sangat tidak nyaman, lalu ia memundurkan langkahnya ke belakang, dan meraih tisu dari tangan pria di hadapannya tersebut, lalu membersihkan sendiri pelipis wajahnya dengan bercermin di sebuah cermin besar yang berada di kamar tersebut.


Melihat hal tersebut Pangeran Brendan hanya tersenyum tipis, sesaat ia pun tersadar, apa yang sedang di lakukanya di kamar itu? mengapa ia menghabiskan waktu nya selama berjam jam memandangi wanita kurus dengan wajah tirus bekerja di sana?


Secara tidak sadar ia telah melakukan hal yang di luar kendalinya dan juga di luar kebiasaanya.


Pangeran Brendan mengusap dada bidang yang terasa berdebar kencang, tanpa ia sadari ia pun telah benar benar jatuh cinta kepada wanita yang saat ini sudah menjadi kekasih kakaknya, sekaligus saingannya dalam memperebutkan Tahta.


*****

__ADS_1


__ADS_2