KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Terluka


__ADS_3

''Lalu kita harus bagaimana? apa kita akan pasrah menunggu di sini tanpa melakukan apapun?'' jawab pangeran Arezz, yang mulai khawatir melihat wajah Evina yang sudah terlihat pucat dan seperti nya mulai lemas.


''Tak ada cara lain lagi pangeran,'' jawab Alberto.


''Kamu baik baik saja kan Ev?''


Evina hanya mengangguk.


Lalu sang pangeran berteriak sekuat tenaga, agar ada yang mendengar teriakannya.


''Tolong....! siapapun tolong kami,'' suara pangeran menggelegar.


''Sudahlah, percuma kamu berteriak seperti itu.''


Pangeran pun kembali duduk di samping Evina, lalu meraih tangannya.


''Tanganmu masih berdarah Ev...! tubuhmu juga demam.''


Evina sudah terlihat benar benar lemas, wajah nya sudah terlihat sangat pucat.


''Aku tidak apa apa,'' jawab nya dengan suara bergetar.


''Kamu yakin?''


Evina hanya mengangguk.


Mereka duduk dengan posisi yang sangat dekat, sehingga pangeran bisa dengan jelas melihat wajah wanita yang sangat di rindukannya menahan sakit.


''Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?'' tanya pangeran tiba tiba.


Gadis yang di tanya hanya terdiam.


''Mengapa kamu diam?''


''Apakah jawaban ku penting sekarang?''


''Bukan seperti itu, aku hanya---'' sang pangeran tidak meneruskan ucapannya.


''Sudahlah, jangan membahas masa lalu lagi. Aku sudah mencoba menerima nasibku dan menjalani peran ku sebagai seorang istri pangeran Brendan.''


''Benarkah...? apa kamu sudah mencintai suamimu?''


Evina hanya terdiam.


''Apakah perasaan itu masih tersisa untuk ku?'' tanya Pangeran memandang lekat wajah Evina.

__ADS_1


''Kenapa kau masih menanyakan perasaan yang seharusnya sudah sudah terkubur?''


''Aku hanya---''


''Walaupun perasaan itu masih tersisa tidak ada yang bisa aku lakukan, jadi aku mohon jangan pernah menanyakan hal itu padaku lagi, karena pertanyaan mu hanya membuat hatiku merasa sakit,'' lirih Evina yang sudah mulai lemas.


''Apakah kamu baik baik saja?''


''Badanku mulai terasa lemas.''


''Sini bersandarkan pada ku.''


''Tak usah,'' dengan tanpa memandang.


''Sudahlah, tak apa apa,'' Pangeran meraih kepala gadis itu dan menyandarkannya di pundak bidangnya.


''Tidurlah, kau terlihat sangat lelah.''


Evina mengangguk lalu mulai memejamkan matanya.


Sudah hampir 3 jam mereka bertiga terjebak di dalam sama, ketiga nya sudah terlihat sangat lemas, karena oksigen yang tersedia sudah semakin menipis.


Evina pun nampak sudah menyandarkan kepalanya di bahu sang pangeran sambil memejamkan matanya.


Saat mereka benar seperti di ambang putus asa, tiba tiba saja terdengar suara palu seperti yang sedang memukul tembok, dengan sangat keras, membuat ketiganya terkejut.


''Sepertinya ada yang sedang membuat jalan untuk menyelamatkan kita,'' ucap Alberto.


''Syukurlah, bertahan sedikit lagi Ev.. kita kan segera keluar dari tempat ini,'' ucap pangeran Arezz kepada Evina.


Suara itu pun semakin keras terdengar, dan seolah semakin dekat dan semakin kencang.


''Evina....'' terdengar suara pangeran Brendan berteriak dari arah luar.


''Kami di sini,'' pangeran Arezz menjawab.


Dan tak lama kemudian Pangeran Brendan bersama Brian bisa masuk dalam, dengan di temani oleh beberapa orang lainnya yang ikut membantu mereka.


''Evina... kamu kenapa?'' pangeran Brendan langsung menghampiri istrinya yang sudah terkulai lemas dengan kepala yang di sandarkan di bahu pangeran Arezz.


Sang pangeran Brendan menyingkirkan kakaknya secara kasar lalu segera meraih tubuh Evina dengan menggendongnya menggunakan kedua tangannya.


Evina tampak tak sadarkan diri, ia hanya terpejam saat lengan suaminya mulai meraih tubuhnya dan membawanya keluar dari dalam sana.


Pangeran Brian segera membantu sang Kaka untuk berjalan keluar, sementara Alberto segera di bawa oleh beberapa orang yang tadi ikut masuk bersama kedua pangeran.

__ADS_1


Seluruh yang terluka langsung di bawa ke Balai kota, Evina yang sudah tak berdaya segera di baringkan di atas lantai yang hanya beralaskan karpet tipis.


''Bangun Ev...'' pangeran Brendan tampak sangat khawatir.


Ia segera memberikan nafas buatan agar Istrinya segera bangun, Pangeran Brendan menempelkan bibirnya di bibir istri nya lalu meniupnya perlahan,namun sekeras apapun ia melakukannya, istrinya tidak berkutik sedikitpun.


Pangeran Arezz hanya melihat dari kejauhan, dia pun sebenarnya sangat khawatir melihat kondisi Evina yang seperti tidak berkutik sedikitpun.


Tak lama kemudian Dokter yang berada di sana pun menghampiri Evina dan segera melakukan pertolongan pertama.


''Nyonya Evina harus segera mendapatkan operasi darurat, seperti nya luka di tangannya sudah sedikit infeksi,'' ujar Dokter tersebut.


''Lalu bagaimana Dokter, apa operasi bisa dilakukan di sini sekarang juga,'' tanya sang pangeran dengan wajah cemas.


''Sepertinya Nyonya Evina harus segera dibawa ke Rumah Sakit besar, mengingat meskipun operasi yang akan dilakukan hanya sebuah operasi kecil namun membutuhkan peralatan yang steril, dan tempat yang bersih agar lukanya tidak terkontaminasi oleh debu dan kotoran,'' ucap sang Dokter.


''Baiklah Dokter saya akan segera membawa Evina ke rumah sakit besar sekarang juga, saya minta Dokter untuk ikut bersama saya,'' ucap pangeran Brendan.


''Tidak Brendan, Dokter ini harus tetap disini, nanti di Rumah Sakit juga banyak Dokter lainnya yang akan menangani Evina dengan baik,'' ucap Pangeran Arezz berjalan menghampiri Dokter tersebut.


Pangeran Brendan diam sejenak, memang yang di katakan oleh kakaknya itu benar, di tempat itu sedang membutuhkan Dokter untuk menangani para korban bencana, yang jumlahnya tidak sedikit.


''Baiklah kalau begitu, aku akan berangkat sekarang,'' meraih tubuh Evina lalu memangku nya.


''Boleh kah aku ikut denganmu?'' ucap Pangeran Arezz.


''Untuk apa kau ikut kak? dia bukan siapa siapa mu, cukup aku saja yang ikut, aku suaminya.''


Pangeran Arezz hanya terdiam tanpa berkata apapun, sejujurnya ia ingin sekali menemani Evina, namun apalah daya, dirinya bukanlah siapa siapa lagi bagi Evina, ada sang adik yang sudah berstatus sebagai suaminya yang akan menemani gadis itu saat ini.


Dirinya pun hanya bisa memandang dengan tatapan pilu, saat tubuh lemas tak berdaya itu mulai di bawa ke dalam mobil untuk segera di larikan ke rumah sakit terdekat.


''Sabar pangeran, aku yakin Evina akan baik baik saja,'' Sakti mengusap punggung junjungannya dari arah belakang, seolah mengerti dengan isi hati sang pangeran.


''Aku juga berharap begitu, mengapa nasib gadis itu sungguh malang, tak henti henti bencana menimpa dirinya,'' masih dengan menatap mobil milik pangeran Brendan yang perlahan berjalan menjauh meninggalkan tempat itu.


''Tak usah sedih kak, ada kak Brendan yang akan menjaga Evina,'' putri Elisa berdiri di samping pangeran Arezz.


Sang Kaka menoleh dan menatap wajah adik bungsunya yang terlihat seperti sudah sangat kelelahan karena dari tadi sudah membantu para korban bencana yang berada di sana.


''Istirahatlah putri, seperti nya kamu sangat kelelahan,'' ucap pangeran Arezz kepada putri Elisa.


''Iya kak, badanku sungguh lelah,'' merentangkan tangan dan memutarkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan.


''Istirahatlah putri, mari saya antar ke tempat istirahat mu,'' Sakti menawarkan diri.

__ADS_1


*****


__ADS_2