
Sakti menyalakan mobil lalu mulai menyetir dengan perlahan , sebenarnya ia juga belum tahu akan membawa putri kemana, karena ia membuat rencana ini secara dadakan sehingga ia pun tidak mempersiapkan semua nya secara matang.
Sambil mengingat ingat tempat yang mungkin saja cocok untuk d kunjungi nya bersama sang putri, ia pun mengendarai mobilnya secara perlahan.
''Eu...anu putri, barangkali ada tempat yang sedang sangat ingin putri kunjungi?'' tanya Sakti, setelah dirinya sama sekali tidak ada bayangan akan pergi kemana.
''Memangnya kamu tidak tahu akan membawa aku kemana?'' tanya sang putri dengan perasaan heran.
Sakti menggelengkan kepalanya.
''Ya ampun Sakti, seharusnya sebelum kamu mengajak aku keluar kamu sudah mempersiapkan tempat dan tujuan kita pergi.''
''Maaf putri, saya benar benar lupa,'' jawab Sakti dengan perasaan malu.
''Ya sudah, berarti terserah aku kita mau kemana ya.''
''Iya putri, saya serahkan arah dan tujuan saya sama kamu,'' jawab Sakti.
Putri Elisa tersenyum melihat wajah Sakti yang mendadak polos, wajah garang dengan kecerdasan tinggi yang biasa melekat di dalam diri sakti seolah luntur seketika.
''Baiklah, aku akan memikirkan nya, sekarang jalan saja dulu, nanti jika tujuannya sudah pasti, aku kasih tau kamu ya,'' ucap sang putri.
''Baik putri,'' Sakti menjawab tanpa menoleh.
Mereka pun terdiam sejenak, sang putri sedang memikirkan arah tujuan mereka berdua sedangkan sakti masih dalam keadaan fokus menyetir mobilnya.
**
Pangeran Arezz membuka mata, dirinya tertidur sebentar karena lelah setelah mencapai puncak kenikmatan yang ia dapatkan dengan Evina gadis yang saat ini melingkarkan kedua tangannya di perut polosnya dalam keadaan terpejam.
Ia menatap sang gadis yang masih dalam keadaan sama polos seperti dirinya, wajah cantik dengan pipi tirus nya tampak terlihat sangat letih karena telah sama sama mendaki dan mencapai puncak surga dunia yang baru mereka rasakan bersama.
Ia mengecup pucuk rambut sang gadis yang terlihat sedikit basah oleh peluh dan keringat, pendakian mereka berdua benar benar membuat mereka melupakan semua masalah besar yang mungkin saja akan mereka hadapi di depan.
__ADS_1
''Kamu sudah bangun,'' tanya Evina yang bisa merasakan kecupan di kepalanya.
''Ia sayang, apa kamu lelah?''
Evina mengangguk sambil terpejam.
''Tidurlah lagi, nanti aku bangunkan kamu lagi jika sudah akan pulang, seperti nya hari sudah mulai gelap,'' jawan pangeran sambil memeluk tubuh polos itu.
Pangeran menatap dengan lekat wajah Evina yang seperti nya mulai terlelap kembali, ia sadar jika mereka kembali ke istana, mereka akan kembali menjadi orang asing. Dia harus segera menyiapkan mentalnya untuk melihat gadis yang sekarang tertidur bersamanya menikahi adiknya sendiri.
Sang pangeran menarik nafas panjang, lalu mendekap dengan sangat erat tubuh Evina seolah tak ingin melepaskannya sedikitpun. Masih ada perasaan tak rela di dalam hatinya untuk melepas Evina ke pelaminan dengan laki laki lain.
Ia pun mencoba memejamkan mata, namun matanya seolah menolak karena terlalu banyaknya yang sedang ia pikirkan.
Akhirnya Sang Pangeran memilih bangun dan berdiri, lalu berjalan ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri.
Ia pun mengenakan pakaiannya yang sudah agak kering, berjalan keluar kamar untuk memesan makanan di cafe Monalisa.
Tak lama kemudian ia pun kembali dengan membawa dua kotak makanan yang akan dia santap bersama Evina gadis yang ia cintai.
''Aku habis beli makanan buat kita berdua,'' dalam keadaan berdiri setelah menutup pintu.
Evina pun berjalan menghampiri pangeran lalu memeluknya.
''Aku kira kamu pergi meninggalkan aku di sini,'' Evina melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang pangeran, tubuhnya yang masih polos akhirnya bersentuhan langsung dengan tubuh pangeran, membuat gairah itu kembali datang.
Ia pun meletakan begitu saja kotak makanan yang di genggamnya, meraih tubuh Evina dan menggendongnya ke dalam kamar, seolah tanpa berfikir panjang mereka pun kembali meraih kenikmatan lewat hubungan terlarang yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Setelah keduanya benar benar merasa puas, mereka pun mengatur nafas yang sempat tidak beraturan.
"Hari sudah beranjak gelap, seperti nya kita harus segera kembali ke istana,'' ujar pangeran.
Seolah tak ingin berpisah, Evina melingkarkan ke dua tangan serta kedua kakinya di tubuh polos pangeran, hatinya seperti masih belum siap jika hari ini harus berakhir.
__ADS_1
Sehari yang mereka habiskan bersama serasa kurang di bandingkan dengan hari hari berikutnya nya yang akan mereka lalui sebagai orang asing.
''Terima kasih karena telah memberi waktu untuk kita bersama seperti ini, aku tidak akan menyesalinya meski kita telah melakukan hubungan terlarang yang seharusnya tidak kita lakukan,'' ujar Evina dengan sedikit berkaca kaca.
''Mulai besok dan seterusnya, aku harap kau bisa menganggap ku orang lain dan meluapkan semua yang telah kita lakukan hari ini, aku akan mulai menjalani kehidupan baru sebagai adik ipar mu, dan cobalah membuka hati untuk wanita lain yang akan mendampingi mu di singgasana,'' tambahnya lagi.
Lalu Evina berdiri dengan tubuh polos itu, seolah tidak merasa malu sedikit pun, ia berjalan menuju kamar mandi dan bersiap untuk mengakhiri perjalanan nya hari ini.
Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian nya, Evina pun menghampiri sang pangeran yang sudah duduk dengan kotak makanan yang berada di hadapannya.
''Sebelum kita kembali ke istana sebaiknya kita makan terlebih dahulu, perutku lapar sekali,'' ucap pangeran dengan sedikit tersenyum yang dipaksakan.
Evina mengangguk lalu menghampiri dan duduk di sebelahnya.
Mereka pun menyantap makanan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, seolah masih belum siap dengan perpisahan yang sudah berada di hadapan mata mereka.
Akhirnya nya perjalanan pun di mulai, perjalanan panjang menuju istana dengan masalah besar yang sudah menanti mereka, sepanjang perjalanan pun keduanya tak mengeluarkan sepatah katapun, hanya saling terdiam seolah sedang menata serta menyiapkan hati mereka untuk bisa benar benar berpisah.
Dan tibalah mereka di gerbang Istana, gerbang tinggi menjulang dengan hiasan ornamen burung pieonyx menghiasi sisi kiri dan kanan gerbang tinggi besar tersebut.
Evina segera hendak keluar dari dalam mobil, namun tangan sang pangeran menahannya dan memeluk nya dengan sangat erat.
''Aku harus segara turun pangeran, sebelum ada orang lain yang melihat kedatangan kita,'' Evina mencoba melepaskan diri.
''Sebentat saja,'' jawab pangeran pelan.
Evina pun hanya terdiam, dirinya seolah membiarkan tangan kekar dan kokoh itu mendekap dirinya dengan sangat kuat, sampai akhirnya tangan itu pun melonggar dan mulai melepaskan tumbuhnya.
Evina mulai membuka pintu mobil dan menatapnya kaki nya, ia tidak ingin menoleh kearah pangeran, karena jika hal itu dilakukan dia akan semakin berat untuk berpisah dengan laki-laki tersebut.
Setelah kedua kakinya menapak di atas aspal, ia pun langsung berlari kencang menuju gerbang istana, dengan tatapan sedih dari mata pangeran yang menatap kepergian dirinya dengan perasaan yang sangat terluka.
Tanpa mereka sadari jika ada sepasang mata yang telah menangkap kebersamaan mereka, menatap dengan tatapan geram dan tangan yang di kepalkan.
__ADS_1
*****