KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Diam Diam Mengetahui


__ADS_3

Evina segera masuk ke dalam kamarnya, dan langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, perjalanan hari ini bersama sang pangeran sungguh membuat dirinya letih dan juga sedih.


Ia membuka satu persatu pakaian yang ia kenakan, dan mulai membersihkan tubuhnya di bawah shower air hangat, ia mengusap setiap bagian tubuh kurusnya dengan kedua tangannya, seolah ingin menghilangkan sisa peluh dan keringat yang sempat membanjiri tubuh saat bercumbu dan mencapai kenikmatan bersama laki laki yang mulai sekarang akan ia lupakan.


Setelah seluruh tubuh nya ter basuh oleh air, dan ia pun merasa jika seluruh peluh di sekujur raga nya hilang bersama air yang mengalir, Evina pun mulai membalut tubuhnya dan keluar dari dalam kamar mandi.


Matanya tampak terkejut seketika, saat melihat pangeran Brendan sudah menunggu dirinya dengan duduk di atas ranjang.


Bibirnya seketika tersenyum, saat melihat calon istrinya keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang membalut tubuhnya serta handuk kecil yang membungkus rambut panjangnya.


Ia pun berjalan menghampiri Evina yang terlihat ketakutan dan hendak mundur dan masuk kembali ke dalam kamar mandi.


''Dari mana kamu malam-malam begini baru pulang? seenaknya saja kamu pergi meninggalkan istana ini, tanpa izin terlebih dahulu kepada aku calon suamimu?'' tanya Pangeran Brendan dengan tatapan mata tajam dan sambil berjalan mendekati Evina.


''Eu... anu... ta--ta--tadi saya habis berziarah ke makam kedua orang tua saya, u--untuk meminta restu pernikahan kita,'' jawab nya dengan suara tergagap.


''Benarkah...?'' jawab pangeran Brendan, ia berjalan memutari tubuh Evina sambil terus menatap tubuh setengah telanjang itu.


''Benar pangeran,'' jawabnya lagi, dengan suara bergetar, dan menggenggam handuk yang membalut bagian tubuh nya.


''Yakin kau tidak membodohi ku?'' berhenti berjalan dan menciumi pundak Evina yang masih sedikit basah dengan air.


Evina mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.


Sang pangeran tampak menggigit pelan pundak Evina sehingga membuat dirinya terpejam.


''Baiklah aku akan memaafkan mu kali ini, karena dalam beberapa hari lagi kita akan segera menikah, namun kamu harus ingat, jika kejadian seperti ini sampai terulang lagi, aku tidak akan pernah memaafkan mu. Jangan berpikir jika aku tidak mengetahui kamu telah pergi dengan siapa,'' ucap sang pangeran sambil berbisik di telinga wanita yang sudah terlihat bergetar, seraya mencumbu telinga nya sehingga membuat Evina kembali memejamkan matanya.


Bukan karena merasa terangsang, namun ia sama sekali merasa jijik dengan setiap sentuhan dari tangan laki laki yang sama sekali tidak ia cintai itu.


Setelah puas bermain di telinga gadis itu, pangeran Brendan pergi begitu saja dengan wajah yang tersenyum nakal, dia mencoba menahan rasa kesalnya, karena tidak ingin membuat keributan, mengingat dalam beberapa hari lagi gadis itu akan segera menjadi istrinya.


Evina hanya berdiri menatap kepergian calon suaminya, rasa benci kepada laki-laki itu seolah telah mendarah daging di dalam tubuhnya, sehingga setiap sentuhan yang dilayangkan kepada dirinya seolah tidak ada apa apa nya, dan sama sekali tidak dapat membangunkan naluri nya sebagai seorang wanita normal pada umumnya.

__ADS_1


Ia pun kembali berbalik dan berjalan ke kamar mandi, setelah tubuh Pangeran Brendan keluar dan menghilang di balik pintu kamarnya.


Ia ingin membasuh kembali tubuhnya yang tadi sempat di cumbu oleh bibir calon suaminya.


***


Sang putri baru saja kembali setelah melakukan perjalanan bersama Sakti, wajahnya berseri, dan bibirnya senantiasa tersenyum tanda jika hatinya sedang berbunga bunga.


''Dari mana kamu Putri, wajahmu terlihat senang seperti itu?'' tanya pangeran Arezz saat berpapasan dengan dirinya di lantai bawah menuju tangga.


''Eh...Kaka... eu anu, aku cuma habis jalan jalan aja kok,'' jawabnya sambil tersenyum kaku.


''O ya....? dengan siapa? sepertinya kau habis jalan-jalan dengan seorang pria, sehingga membuat hatimu berbunga-bunga, iya kan?'' ujar sang Kaka, dengan tatapan yang meledek.


''Apa...? ko Kaka tahu?'' sang putri merasa heran.


''Siapa yang tidak akan tahu jika melihat wajahmu yang berseri seperti itu.''


Pangeran Arezz mengangguk.


''Siapakah gerangan laki-laki yang telah membuat adik kesayanganku jadi senyum-senyum sendiri seperti ini?''


''Kepo aja si jadi orang,'' putri berlari dan naik ke lantai dua di mana kamarnya berada.


''Putri, kenalkan sama Kaka calon suami mu itu...'' ucap sang pangeran dengan sedikit berteriak.


Sang Putri hanya sedikit berbalik tanpa menjawab teriakan dari Kaka nya tersebut.


''Saya di sini Pangeran. Bagaimana perjalanan Anda dengan Evina?'' Sakti tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang pangeran.


''Kamu bikin kaget saja,'' jawab pangeran dengan wajah sedikit terkejut.


''Mohon maaf Pangeran, saya tidak mengetahui kalau ternyata pangeran belum menyadari kehadiran saya di sini.''

__ADS_1


''O ya...! apa kamu tahu Putri habis pergi dengan siapa? sepertinya dia habis pergi dengan seorang laki-laki, terlihat jelas dari raut wajahnya jika dia sedang jatuh cinta,'' tanya Pangeran Arezz yang membuat Sakti sangat terkejut.


''Hah... eu anu Pangeran, mohon maaf, saya tidak tahu sama sekali Putri telah pergi dengan siapa, apa saya perlu menyelidikinya lalu melaporkannya kepada pangeran?'' jawab Sakti yang terlihat gugup.


Dirinya memang tidak memberitahukan kepada Pangeran Arezz jika dia akan mengisi waktu libur nya dengan pergi bersama adiknya sendiri.


''Tidak usah, aku tidak mau melewati batas prifasi yang dimiliki oleh adikku, biarkan dia merasakan dan menikmati masa remajanya dengan mengenal lebih dekat dengan laki laki, asalkan tidak melewati batas wajar dalam berpacaran,'' ucap sang sang pangeran.


''Apakah ada kriteria khusus untuk menjadi calon suami putri, pangeran?'' sakti memberanikan diri bertanya.


''Mengapa kau bertanya seperti itu? apakah kau ingin melamar jadi calon adik ipar ku?''


Sakti terkejut, dan wajahnya terlihat merah menahan malu.


''Eu... tidak Pangeran saya tidak berani ataupun bermimpi untuk menjadi adik ipar dari pangeran,'' Sakti dengan suara tergagap.


Pangeran tersenyum melihat perubahan raut wajah Sakti.


Percakapan mereka pun terhenti, saat melihat Pangeran Brendan turun dari lantai dua menghampiri mereka berdua dengan wajah yang menyebalkan serta senyum yang terlihat mengejek.


Pangeran hendak berbalik dan tidak akan meladeni adiknya yang sudah pasti setiap ucapannya akan menyulut Emosi dalam hatinya.


''Tunggu kak kau mau ke mana?'' sang adik menghentikan langkah pangeran Arezz.


''Apa kau sudah merasa puas dengan perjalanan terakhir mu dengan calon istriku?''


Pangeran Arezz terkejut, dirinya sama sekali tidak menyangka jika adiknya bisa mengetahui jika ia telah menghabiskan waktu bersama calon istrinya.


''Apa maksudmu?'' tanya sang Kaka berpura pura tidak mengerti.


''Sudahlah tidak usah mengelak. Apakah kau sudah puas menikmati tubuh indah dari wanita yang sebentar lagi akan menjadi adik ipar mu?'' ucap pangeran Brendan dengan tatapan sinis dan mengintimidasi.


*****

__ADS_1


__ADS_2