
Ratu Evina menatap wajah Flora, gadis remaja dengan wajah manis yang saat ini menjadi pengasuh bayinya, dari raut wajah Flora terlihat sangat jelas bahwa gadis itu adalah gadis yang memiliki kepribadian baik, sepertinya dia tidak salah memilih gadis ini sebagai pengasuh bayi kesayangannya.
''Berapa umurmu, Flora?'' tanya sang Ratu dengan suara lembut.
''Umur hamba baru 17 tahun, yang mulia,'' jawanya dengan suara yang sangat lembut di dengar.
''Umurmu masih sangat belia, namun sudah bekerja, apakah kedua orang tuamu masih ada?''
''Mereka sudah tiada, meninggal semenjak hamba masih kecil, dan hamba hanya tinggal bersama kakek dan nenek, di sebuah desa kecil di pinggir hutan.''
Mendengar hal tersebut membuat sang Ratu teringat akan dirinya sendiri sebelum dia menjadi seorang Ratu, hanya saja Flora masih beruntung, karena masih memiliki kakek dan juga neneknya, sementara dia benar-benar hanya hidup sendirian, bekerja membanting tulang untuk hanya sekedar memenuhi hidupnya sendiri.
Meski sekarang dia sudah menjadi seorang Ratu, dan tidak perlu lagi bekerja keras seperti dulu, namun hal itu tidak serta merta membuat hidupnya bahagia, tembok istana yang menunjang tinggi seolah mengekang tiap gerak langkahnya.
Kehidupannya tidak sebebas dulu lagi, dan sungguh sang Ratu sangat merindukan kehidupan masa lalunya, yang bisa dengan bebas pergi kemanapun, meski hidup sederhana bahkan bisa di bilang pas-pasan.
''Apa kamu senang tinggal di istana yang besar ini?'' tanya sang Ratu ingin mengenal lebih dekat dengan pengasuh bayinya.
''Hmmm... bagaimana ya, saya belum lama bekerja di sini, jadi saya belum bisa merasakan betah atau tidak tinggal di tempat ini, yang saya pikirkan sekarang hanyalah, bekerja dengan baik,'' jawab Flora.
''Kepribadianmu sungguh baik, mulai sekarang, jangan merasa sungkan, meski aku seorang Ratu, dahulu aku juga seorang pelayan seperti mu.''
''Baik yang mulai.''
Tak lama kemudian pintu pun di ketuk dan Ratu Elisa masuk ke dalam kamar sang Ratu, dengan tersenyum ceria seperti biasanya.
''Putri...! ada apa gerangan putri kemari?'' tanya sang Ratu dengan tersenyum.
''Aku ingin berjumpa dengan keponakan ku, kak. Sekaligus ada yang ingin aku katakan sama kakak,'' jawab putri duduk di samping sang Ratu.
''Kalau begitu saya pamit, Ratu, Putri Elisa, saya harus menidurkan Adam, karena ini sudah memasuki jadwal tidur siang,'' Flora segera berpamitan dan membawa bayi Adam keluar dari dalam kamar menuju kamar sang bayi, yang terletak bersebelahan dengan kamar Ratu Evina.
Ratu dan Putri mempersilahkan Flora, dengan menatap wajahnya dan tersenyum menatap kepergian gadis manis itu.
__ADS_1
''Apa yang ingin kamu bicarakan putri?'' tanya Sang Ratu dengan tatapan dan suara lembut.
''Begini kak, Minggu depan aku ada acara keluar, maukah Kaka menemaniku?''
''Kemana?''
''Ke suatu tempat, tempatnya dimana nanti aku kasih tahu Kaka, apabila Raja Brendan sudah mengijinkan.''
''Tapi, aku tidak berani meminta izin, aku takut suamiku tidak mengijinkannya,'' jawab Ratu menunduk.
''Kalau itu kakak, tenang saja, nanti aku bantu Kaka untuk bicara dengan kak Brendan, yang terpenting kakak bersedia tidak mengantar aku?''
''Iya, tentu saja aku bersedia, lagi pula aku jenuh setiap hari di rumah terus,'' jawab Ratu merasa gembira.
''Ya, sudah. Sekarang kita ke Aula istana, untuk berbicara dengan Raja tentang ini,'' Putri bangkit berdiri, yang kemudian di ikuti oleh Ratu Evina.
Mereka berdua berjalan keluar dari dalam kamar menuju Aula istana dimana Raja berada saat ini.
Aula Istana.
''Ada apa kalian berdua kemari? tidak biasanya jauh-jauh datang ke sini?'' tanya Raja Brendan merasa heran.
Keduanya membungkuk terlebih dahulu memberikan hormat. Lalu setelah itu Putri Elisa mulai berucap.
''Mohon maaf, Yang mulia. Apabila kedatangan kami mengganggu kesibukan yang mulia raja?'' ucap sang putri.
''Kami berdua datang kemari untuk meminta izin darimu,'' Ratu meneruskan.
''Izin apa? memangnya kalian berdua mau ke mana?''
''Eu... Anu... yang mulia, Minggu depan, saya ada acara keluar istana, bolehkah Ratu Evina menemani saya ke sana?'' putri berucap dengan sedikit terbata.
''Acara keluar istana? Kemana? jika Evina Ibu tanganmu Bagaimana dengan bayi Adam?'' jawab Raja dengan saling menautkan dua alisnya.
__ADS_1
''Tidak lama ko, hanya dua hari saja, temanku ada yang berulang tahun, kak, kebetulan acaranya akan diadakan di suatu tempat yang jauh dari istana, aku merasa takut jika hanya pergi sendiri, oleh karena itu aku mengajak sang ratu untuk menemaniku ke sana, boleh ya kak? please...'' putri memohon.
Raja hanya terdiam seperti sedang memikirkan, selama ini istrinya tersebut memang tidak pernah beranjak sedikitpun dari istana, setiap harinya Dia selalu menghabiskan waktu yang dia punya berada di kamar serta mengurus putra kesayangannya.
''Baiklah, Evina boleh ikut, tapi ingat... putra ku jangan di tinggal, karena dia masih bayi, dia harus selalu dekat dengan ibunya,'' jawab Raja akhirnya mengijinkan.
''Terima kasih yang mulia...'' Putri dan Ratu membungkuk mengucapkan terima kasih dengan tersenyum gembira.
''Kalian boleh pergi sekarang, karena aku masih sibuk.''
''Baik, kami permisi yang mulia.''
Keduanya beranjak pergi dari tempat itu, dengan cara mundur beberapa langkah ke belakang, setelah itu baru berbalik dan berjalan keluar dari Aula istana.
Putri Elisa segera menemui Sakti, untuk memberikan kabar bahwa rencana yang akan mereka jalankan akan segera di laksanakan, karena dirinya sudah mendapatkan izin dari Raja Brendan, untuk membawa Evina keluar dari istana, dan tentu saja bayi Adam pun akan ikut bersama mereka.
Sakti sangat senang mendapatkan kabar tersebut, ia berucap bahwa akan segera memberitahukan kabar ini kepada yang mula Raja Arezz.
Satu Minggu kemudian.
Ratu dengan di temani beberapa orang pengawal dan pelayan sudah bersiap untuk pergi bersama sang putri, tak lupa pula Flora ikut bersamanya dengan menggendong sang bayi di pangkuannya.
Mereka menaiki mobil yang sama, kecuali para pengawal dan pelayan menaiki mobil yang berbeda.
''Bagaimana ini? bagaimana caranya agar kita bisa ke sana tanpa di ketahui oleh para pengawal itu?'' tanya Putri menatap ke arah Sakti, yang duduk menyetir di sebelahnya di dalam mobil.
''Aku akan mencari cara, kamu tenang saja, tidak usah khawatir, ya." Sakit menenangkan kekasihnya, meraih jemari dan menggenggam erat dengan satu tangannya.
''Baiklah...!'' Putri kembali menggenggam jemari sang kekasih dengan sangat erat.
Ratu memperhatikan mereka berdua yang saling meremas tangan masing dengan melayangkan tatapan penuh cinta. Karena merasa penasaran dia pun bertanya.
''Apa kalian berpacaran?'' tanya Ratu dengan alis yang saling di tautkan.
__ADS_1
________________-------______________