
Arezz dan Evina berjalan dengan santai setelah pulang dari penginapan, Arezz tampak sangat kelelahan setelah membantu Evina mencuci semua selimut di Penginapan, dirinya bersedia melakukan itu sebagai pembuktian rasa cintanya kepada wanita cantik yang saat ini sedang berjalan di sampingnya.
Evina menoleh dan memandang wajah Arezz yang terlihat sangat lelah.
''Apa kamu baik baik saja?'' tanya Evina.
''Aku baik baik saja, apapun akan aku lakukan demi membuktikan cintaku,'' jawab Arezz dengan sedikit tersenyum.
''Bohong...'' jawab Evina datar.
''Kamu masih belum percaya sama aku setelah apa yang aku lakukan tadi?''
Evina hanya terdiam.
''Apa lagi yang harus aku lakukan agar kamu benar benar percaya sama aku?'' mereka berdua menghentikan langkah kaki lalu berdiri berhadapan.
''Entah lah, rasanya sulit untuk ku mempercayai mulut laki laki, apa lagi laki laki tampan seperti kamu,'' ujar Evina.
''Jika kamu ingin, aku bisa membawa istana beserta isinya untuk membuktikan betapa tulusnya perasaan ku pada mu Ev...'' Arezz terlihat bersungguh sungguh.
''Gombal banget si kamu, mana mungkin kamu bisa membawakan istana beserta isinya untukku? siapapun tak akan ada yang percaya dengan ucapan mu itu,'' Evina tampak tertawa kecil mendengar ucapan Arezz.
Arezz hanya terdiam, dalam hatinya ia berjanji akan menepati apa yang baru saja ia katakan.
''Ya sudahlah, seperti nya kamu tidak akan percaya dengan apapun yang aku katakan,'' Arezz berjalan.
Lalu Evina mengikuti Arezz dari belakang, memandang punggung lak laki yang baru saja melontarkan gombalan maut kepadanya, sejujurnya nya hati Evina sedikit melayang mendengar semua ucapan Arezz, wanita mana yang tidak terbuai oleh rayuan maut dari seorang laki laki berwajah tampan serta berkarisma seperti Arezz?
Salah satu nya dirinya, rayuan Arezz sungguh membuatnya terasa melayang ke udara, setiap kata yang di lontarkan dari mulut Arezz sungguh membuatnya tersanjung, namun dirinya sebisa mungkin menyembunyikan perasaan tersebut, karena tidak ingin membuat Arezz besar kepala jika ia langsung percaya begitu saja dengan ucapanya.
''Arezz... tunggu aku.''
Evina mempercepat langkah nya agar bisa seiringan dengan langkah Arezz, namun apalah daya, kaki kecilnya tidak sanggup untuk mengimbangi setiap langkah kaki Arezz hingga membuatnya jatuh tersungkur ke atas tanah.
Bruukkk...
Terdengar suara tubuh Evina yang tersungkur di atas tanah, hal itu sontak membuat Arezz menghentikan langkahnya dan langsung berbalik menghampiri Evina.
__ADS_1
''Kamu tidak apa apa?'' ujar Arezz.
Lalu dirinya mengusap siku tangan serta lutut Evina yang terlihat berdarah.
''Aaww... sakit,'' Evina meringis.
''Maaf ya, gara gara aku kamu jadi terjatuh, seharusnya aku bisa sedikit memperlambat langkahku,'' Arezz terlihat menyesal.
Evina tidak menjawab apapun dirinya hanya terus meringis kesakitan, karena luka di kaki dan tangannya terasa sangat perih, darah segar tampak sedikit membasahi bagian siku serta lututnya.
Lalu tiba tiba, Arezz berjongkok sambil memunggunginya meminta Evina untuk segera naik ke punggungnya.
''Kamu ngapain?'' Evina terlihat heran.
''Naiklah ke punggungku, aku yakin luka mu akan menyebabkan kakimu sulit untuk berjalan,'' ujar Arezz.
''Tidak apa apa, aku masih bisa jalan ko,'' Evina mencoba berdiri namun kembali terjatuh.
Lalu tanpa basa basi Arezz meraih tangan Evina dan menempatkan di pundak dirinya, dan sedetik kemudian Evina sudah berada di punggung Arezz, tangannya nampak di silahkan ke leher Arezz dengan kepala yang di sandarkan di bahu kekar Arezz.
''Badanmu ringan sekali seperti kapas,'' ujar Arezz.
''Mungkin karena kamu terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk bekerja, makanya badanmu jadi sangat kurus seperti ini,'' Arezz sedikit tersenyum.
Evina hanya terdiam, memang selama ini dirinya sudah terlalu banyak bekerja, hingga tidak memikirkan berat badan tubuhnya, himpitan ekonomi serta kebutuhan hidup yang semakin tak terjangkau harganya, membuat dirinya membanting tulang hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
''Apa kamu tidak punya saudara?'' tanya Arezz di sela sela langkahnya.
Evina menggelengkan kepala.
''Jadi selama ini kamu hanya hidup sendiri?''
Evina pun hanya mengangguk.
Arezz menghela nafas panjang, bukan karena kelelahan menggendong gadis kecil ini di punggungnya, namun karena dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dirinya hidup sendiri seperti Evina, tanpa ayah, ibu apalagi saudara.
Seharusnya dirinya bersyukur karena masih ada keluarga yang masih sangat menyayanginya, namun karena keegoisan dirinya, terpaksa Arezz harus meninggalkan semua keluarganya di istana.
__ADS_1
''Apa kamu capek?'' Evina melihat Arezz menghela napas panjang tadi.
''Tidak ko, sebentar lagi kita sampai,'' jawaban Arezz.
Dan benar saja setelah melewati dua tikungan, akhirnya mereka berdua sampai di tempat tinggalnya.
Sakti nampak sudah duduk di depan kediamannya, menunggu Arezz dengan wajah yang sangat cemas, dan wajahnya seketika terlihat sangat kesal ketika melihat Arezz menggendong Evina di punggungnya.
''Kalian dari mana? mengapa jam segini baru pulang? apa kalian tidak tahu jika aku sangat cemas dan sudah menunggu di luar selama lebih dari 4 jam,'' ujar Sakti dengan nada kesal.
''Marah marahnya nanti saja ya, bantu aku dulu untuk membuka pintu kediaman Evina, tadi dia terjatuh,'' jawab Arezz.
''Mana kunci nya?'' pinta Sakti.
Kemudian Evina mengambil kunci dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Sakti.
Sakti memutar kunci lalu membuka pintu, kemudian Arezz segeran membawa Evina masuk ke dalam dan membaringkannya.
''Sakti, tolong ambil kotak P3k, lukanya harus segera di obati,'' pinta Arezz yang langsung di patuhi oleh Sakti.
Evina menggulung celananya sampai ke lutut, dirinya melihat luka di lututnya yang menyebabkan celana jeans nya pun ikut terkoyak tampak berdarah, meski darah yang keluar tidak terlalu banyak, namun lukanya sudah cukup untuk membuatnya meringis kesakitan.
Tak lama kemudian Sakti kembali dengan membawa kotak P3K yang dia ambil dari kediamannya lalu segera menyerahkannya kepada Arezz.
Arezz membuka kotak lalu mencari Betadine yang biasa ia gunakan untuk mengobati bagian tubuhnya yang terluka, setelah mencari akhirnya ia pun menemukanya.
''Tahan sebentar ya, rasanya agak perih jika memakai obat ini,'' ujar Arezz lalu meneteskan Betadine di atas luka Evina.
Evina tampak kesakitan, namun sebisa mungkin ia tahan, hanya wajahnya saja sedikit meringis menahan perih di lututnya, setelah bagian lutut di beri obat, kini tinggal bagian siku tangannya nya yang juga terluka.
Evina kembali menahan sakit saat Arezz mulai meneteskan obat tersebut ke atas luka di siku tangannya.
''Sebenarnya apa yang terjadi? mengapa Evina bisa seperti ini?'' tanya Sakti yang masih penasaran.
''Kepo...'' Arezz dan Evina menjawab secara bersamaan sambil sedikit tertawa, membuat Sakti benar benar mati Kutu dengan jawaban keduanya.
Jam dinding sudah menunjukan pukul 02.00 ternyata Arezz dan Evina menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk bekerja di Penginapan tersebut.
__ADS_1
Tak lama kemudian Arezz dan Sakti berpamitan dan kembali ke kediamannya, meninggalkan Evina yang kini masih meringis menahan perih di kedua lutut serta siku tangannya.
*****