
Saat Evina sedang membersihkan debu yang berada di pelipis wajahnya sambil bercermin, dengan Pangeran Brendan yang berdiri tak jauh dari tempat nya berdiri, tiba tiba pemilik dari kamar tersebut datang dan memasuki kamar yang kini telah rapi dan bersih.
Dia adalah pangeran Brian, putra ketiga dari Raja Arthur bersama Ratu Emillia, pangeran Brian memang baru kembali dari luar negeri, karena ia menimba ilmu di salah satu kota besar di negara Italia.
Sudah lebih dari dua tahun pangeran Brian tidak berada di istana, dan hari ini dirinya kembali ke istana karena telah menyelesaikan pendidikannya.
Wajah dari pangeran Brian sangat mirip dengan putri Elisa bisa di bilang wajah putri versi laki laki, karena perbedaan umur yang hanya terpaut satu tahun dari adiknya tersebut membuat sang pangeran memiliki wajah yang hampir sama dengan adiknya perempuan nya, sehingga banyak yang bilang jika mereka seperti saudara kembar.
Kulit nya yang putih dengan rambut berwarna kecoklatan serta tinggi badan yang juga hampir sama dengan sang putri, hanya postur tubuhnya saja yang berbeda karena pangeran Brian seorang laki laki membuat tubuh nya lebih berisi dan berotot.
''Sedang apa kalian berdua di kamar ku?'' tanya pangeran Brian, yang sudah berdiri tepat di depan pintu yang sudah dalam keadaan terbuka.
Evina tampak terkejut melihat laki laki tampan berwajah hampir mirip dengan sang putri, dirinya sudah dapat menebak jika laki laki yang sedang berdiri di depan pintu tersebut adalah pangeran ke tiga.
Ia pun membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada pangeran Brian.
Sementara Sang kakak, pangeran Brendan tampak tersenyum senang menyambut kehadiran adik laki laki yang sudah lebih dari dua tahun tidak di temui nya tersebut.
''Adikku... kapan kau pulang, mengapa tidak mengabari kakakmu ini terlebih dulu sebelum kau pulang, mungkin saja aku bisa menjemputmu ke sana,'' ujar pangeran Brendan, lalu memeluk sang adik.
''Sebenarnya aku tidak berencana untuk pulang secepat ini, namun Ayahanda mendadak memberi kabar kepadaku agar aku segera pulang ke istana,'' jawab pangeran Brian.
''Oh ya...? ada apa gerangan ayahanda mendadak menyuruhnya segera pulang ke istana?'' pangeran Brendan melepaskan pelukannya.
''Entahlah...! beliau tidak memberi tahu ku secara detail. Ngomong ngomong apa dia pelayan baru di istana ini? sepertinya aku baru melihat wajahnya sekarang?" pangeran Brian menatap ke arah Evina.
Evina hendak memperkenalkan diri, namun Pangeran Brendan menjawab terlebih dahulu pertanyaan dari adiknya tersebut.
"Perkenalkan dia calon kakak ipar mu," ujar pangeran Brendan dengan percaya diri.
Evina membelalakan mata nya sambil melirik ke arah pangeran Brendan.
"Mohon maaf pangeran Tapi itu sama sekali tidak benar," jawab Evina dengan tubuh yang menghadap kepada pangeran Brian, namun pandangan nya tampak menunduk.
"Seperti nya cintamu bertepuk sebelah tangan kak," ucap pangeran Brian dengan sedikit bercanda.
"Mohon maaf Pangeran, saya permisi kembali ke belakang," ucap Evina sambil meraih peralatan kebersihan yang tadi ia gunakan.
__ADS_1
"Baiklah..."
Evina hendak melangkah, namun pangeran Brian menghentikan langkah nya.
"Tunggu...! siapa namamu?"
"Nama saya Evina pangeran."
Lalu Evina kembali melanjutkan langkahnya, setelah sebelumnya membungkuk memberi hormat terlebih dahulu kepada kedua pangeran.
Keduanya tampak menatap kepergian Evina, pangeran Brian yang masih berumur 18 tahun itu tampak sedikit menggoda kakaknya.
"Apa Kaka benar benar menyukai gadis itu? aku perhatikan matamu seperti tidak berkedip sedikitpun saat memandangi wajah gadis itu," ujar pangeran Brian, sambil membaringkan tubuhnya di ranjang empuk dan megah miliknya tersebut.
"Entahlah...! aku tak tahu apakah ini bisa di sebut cinta atau hanya sekedar mengangumi kecantikan wajahnya."
"Sebentar lagi juga kau akan segera bosan terhadapnya, bukankah selama ini kakak sudah terbiasa bergonta-ganti pasangan."
Pangeran Brendan hanya tersenyum, selama ini dirinya memang tidak pernah bertahan lama dalam mencintai seorang gadis. Apabila dirinya sudah merasa bosan dengan gadis tersebut, maka dengan sesuka hati ia pun bisa mencampakkan gadis itu begitu saja.
"Tidak...! beliau cuma memberitahuku jika sebentar lagi akan ada pengumuman besar yang akan segera dia sampaikan ke seluruh penjuru negeri."
"O ya....?" Pangeran Brendan tampak terkejut.
Dia berfikir apakah pengumuman yang dimaksud oleh adiknya adalah tentang sang ayahanda yang akan segera turun tahta dan di gantikan oleh Pangeran Arezz? batin nya berucap.
Kemudian pangeran Brendan beranjak pergi dari kamar sang adik tanpa mengatakan sepatah katapun, wajahnya terlihat merah menahan amarah dan mengepalkan kedua tangannya.
Sang adik hanya mengerutkan kening tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada sang kakak.
Tidak terlintas sedikitpun di dalam otaknya jika kedua kakaknya kini sedang bersaing untuk mendapatkan tahta sang ayah.
***
Pangeran Brendan pergi dengan tergesa-gesa, diri nya berjalan cepat sambil mengepalkan kedua tangannya, sang pangeran hendak menuju kamar ayahanda nya.
Tok tok tok
__ADS_1
Pangeran Brendan mengetuk pintu tiga kali, lalu masuk ke dalam kamar sang ayah.
Raja Arthur terlihat sedang duduk dengan santai di sebuah kursi, yang di temani dengan secangkir teh hangat di tangannya.
''Saya di sini Ayahanda,'' sapa pangeran Brendan dengan membungkukkan tubuhnya.
''Ada apa kemari? apa ada yang ingin kau sampaikan pada ayah?'' jawab Sang ayah.
Kemudian Pangeran Brendan duduk di kursi sebelah Raja Arthur.
''Saya mohon maaf Ayahanda, jika saya mengganggu waktu istirahat ayah,'' jawab pangeran Brendan.
Raja Arthur hanya mengangguk lalu meneguk teh hangat yang berada di tangannya sedikit demi sedikit.
''Saya ingin menanyakan suatu hal kepada Ayahanda. Apakah benar ayahanda akan segera turun tahta dan menyerahkannya kepada kakakku yaitu Pangeran Arezz?''
Sang ayah tampak tersenyum mendengar pertanyaan dari putra keduanya tersebut, ia sudah dapat menebak jika pangeran Brendan akan segera bertanya prihal Tahta kepadanya.
''Apa yang kamu katakan benar, ayah sudah lelah dan ingin menikmati hari tua ayah dengan beristirahat, dan ayah akan segera menyerahkan Tahta kepada Pangeran Arezz, ayah merasa jika kakak mu itu sudah pantas untuk menerimanya.''
''Lalu apakah aku tidak pantas?''
''Apa maksudmu? jangan bilang kau juga menginginkannya?''
''Tahta itu seharusnya di wariskan padaku ayah, aku lebih berhak menerima tahta itu, karena aku putra sah mu sebagai Raja dan ibu ku sebagai Ratu negeri ini,'' ujar pangeran Brendan dengan intonasi yang sangat tegas.
''Anakku...! ini bukan tentang kau dan kakak mu yang lahir dari ibu yang berbeda, kalian berdua sama sama anakku yang sangat ayah sayangi, namun ayah merasa jika kakak mu lebih pantas untuk menerimanya, karena dia anak tertua dan memiliki kemampuan memimpin yang lebih baik dari mu,'' ujar sang ayah.
''Ini sungguh tidak adil ayah. Bagi ku kakakku tidak lebih dari seorang anak haram yang lahir dari selir rendahan,'' ucap pangeran dengan suara yang sedikit berteriak.
''Brendan....!''
Raja tampak berteriak dan marah mendengar ucapan putranya yang sangat tidak sopan di hadapannya, hampir saja sang Raja melemparkan cangkir yang berada di tangannya.
Namun hal tersebut segera urungkan nya dan menyuruh sang putra tersebut segera pergi dari hadapan nya, sebelum Raja menjadi semakin terbakar emosi dan hilang kendali.
*****
__ADS_1