KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Curi Curi Perhatian


__ADS_3

Putri Elisa tampak memperbaiki posisi duduknya, ia yang semula duduk sembarangan dengan menaikkan kedua kakinya diatas kursi, kini terlihat menurunkan kedua kakinya duduk bersilang seolah ingin terlihat anggun oleh pria yang di sukai ya.


''Ada perlu apa?'' tanya pangeran Arezz kepada sakti.


''Maaf pangeran, saya kemari ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan pangeran,'' jawab Sakti, sedikit menoleh kearah Putri Alisa.


''Apakah ada masalah penting yang harus kalian bicarakan?'' tanya sang putri yang menyadari jika dirinya harus segera pergi dari dalam kamar kakaknya.


Sakti mengangguk.


''Ya sudah, jika begitu aku permisi dulu, ingat yang tadi aku katakan ya kak,'' ucap putri memandang wajah kakaknya.


Pangeran Arezz mengangguk lalu tersenyum.


Kemudian Putri Elisa bangkit dari duduknya dan hendak berjalan, namun saat sang putri akan melangkahkan kaki nya, tiba tiba saja kaki kanannya menginjak gaun panjang yang ia kenakan sehingga membuatnya hampir terjatuh.


Tubuh putri pun terjungkal ke depan hampir menyentuh lantai, namun dengan segera Sakti meraih punggung Putri dengan tangannya lalu menangkap tubuh langsing sang putri hingga tak jadi menyentuh lantai.


Kini tubuh sang putri berada dalam dekapan kedua tangan sakti, dan wajah mereka pun berada sangat dekat satu sama lain membuat jantung Sakti terasa berdetak sangat kencang.


Putri Elisa menatap wajah Sakti yang terlihat sangat tampan di matanya, bibirnya tersenyum tipis, membuat Sakti benar benar gemetar dan terpesona melihat senyum serta wajah cantik Sang Putri.


Pangeran Arezz yang menyaksikan kejadian tersebut hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Sang adik.


Lalu dirinya berdehem dengan sangat keras, sehingga membuat Sakti terkejut dan melepaskan tangannya dari punggung Putri Elisa, yang sontak saja membuat Putri Elisa benar benar terjatuh ke atas lantai.


''Aawww....'' Putri terdengar meringis kesakitan.


''Maaf putri saya tidak bermaksud untuk menjatuhkanmu, saya tidak sengaja melakukanya,'' ujar Sakti lalu dirinya membantu Sang Putri untuk berdiri kembali.


''Jika akan dilepaskan kembali tanganmu seperti ini, seharusnya tadi kau tidak usah menolongku sekalian, sakit tahu,'' ujar Putri sambil mengusap punggung dengan kedua tangannya.


''Sekali lagi saya mohon maaf Putri,'' ujar Sakti dengan tergagap dan memandang wajah putri yang sedikit meringis.


''Kalau jalan hati hati dong Putri, sebenarnya kamu sedang memikirkan apa hingga terjatuh? apa kamu sedang terpesona dengan ketampanan Sakti sehingga membuat langkah mu tersandung seperti itu?'' pangeran Arezz


Pangeran Arezz terlihat memperolok sang putri, hingga membuat wajah Putri sedikit memerah karena malu, karena memang yang katakan kakaknya itu benar adanya, dirinya terlalu fokus melihat wajah Sakti.


''Kakak apaan si?'' ucap putri, lalu dirinya pergi dari kamar sang Kaka, dengan sedikit mengangkat gaunnya, dan melangkah dengan sangat cepat.

__ADS_1


Sakti terlihat tersenyum melihat adik dari junjungan nya tersebut, dan tanpa sadar matanya terus memandangi sang putri sampai tubuh putri Elisa benar benar keluar dari dalam kamar.


Pangeran Arezz menyadari hal tersebut dan kembali berdehem, kali ini dengan suara lebih keras hingga membuat Sakti terlihat gugup.


''Maafkan saya pangeran, saya tidak bermaksud...'' ujar Sakti yang tidak meneruskan ucapannya.


''Bermaksud apa...?'' tanya pangeran menggoda pengawal pribadinya.


''Eu... Anu... bermaksud apa ya? saya lupa lagi pangeran,'' jawab Sakti dengan suara yang sedikit terbata bata.


''Ha... ha.. ha..''


Pangeran Arezz tertawa dengan keras, ia dapat mengetahui jika Sakti sebenarnya sedang terpesona dengan kecantikan sang adik.


''Sudahlah jangan terlalu di pikirkan,'' ucap Pangeran.


Sakti hanya terdiam sambil menunduk.


''Tadi kata mu ada hal penting yang ingin kamu bicarakan,'' tanya pangeran.


''Oh ia pangeran, saya ingin melaporkan jika Pangeran Brendan seperti nya sedang menyusun rencana untuk mengacaukan rencana pengangkatan mu sebagai seorang Raja.''


''Saya melihat pangeran Brendan sedang berbicara dengan para pengawal istana di kamarnya, entah mereka sedang membicarakan apa, namun dari gerak geriknya seperti nya mereka sedang merencanakan sesuatu yang sangat besar.''


Pangeran Arezz terlihat tidak terkejut sama sekali dengan apa yang di laporkan oleh pengawal pribadinya tersebut, sebagai seorang Kaka pastinya dia sudah tahu persis watak dari adiknya yang bernama Brendan.


Pangeran Brendan akan melakukan berbagai cara untuk bisa mencegah dirinya duduk di singgasana sebagai seorang Raja, jika bukan karena keinginan dari Baginda Raja yang merupakan ayah nya, pangeran Arezz sama sekali tidak ingin memangku tahta yang tentu saja memiliki tanggung jawab besar serta akan membatasi gerak langkahnya sebagai seorang manusia.


''Baiklah saya mengerti, saya minta sama kamu untuk terus memantau setiap gerak-gerik dari pangeran Brendan, dan segera melaporkannya kepada saya jika ada tindakan nya yang mencurigakan lagi.''


''Baik pangeran,'' jawab Sakti, lalu dirinya membungkuk dan hendak pergi dari hadapan sang pangeran.


''Tunggu...''


Pangeran menghentikan langkah Sakti.


''Ada apa lagi Pangeran? apa masih ada tugas lain yang harus saya jalankan?''


''Saya hanya ingin bertanya, Bagaimana keadaan Evina?''

__ADS_1


''Aepertinya Evina baik-baik saja pangeran, tadi pagi saya melihat dia sedang beraktivitas seperti biasa melakukan pekerjaannya di dapur istana.''


''Apakah adikku kembali mengganggunya?''


''Sepertinya tidak pangeran.''


''Baiklah kamu boleh pergi sekarang, dan saya juga minta satu hal padamu, tolong jaga Evina jika adikku kembali mendekatinya segera melaporkan kepada saya.''


''Baik pangeran,'' jawab Sakti lalu dirinya pergi dari hadapan sang pangeran setelah sebelumnya membungkuk terlebih dahulu.


***


Putri kembali ke dalam kamarnya, dia merasa jengkel karena telah di perolok oleh sang Kaka. Lalu dirinya teringat kembali pada sosok pelayan cantik yang tadi ia temui di kamar sang Kaka.


Karena merasa penasaran ia pun keluar dari dalam kamar hendak menemui pelayan tersebut.


Putri Elisa berjalan menuju dapur istana, hendak menemui Evina. Di perjalanan menuju ke sana Putri berpapasan kembali dengan pria yang tadi telah menjatuhkan nya ke atas lantai.


Sakti terlihat gugup saat putri Elisa berjalan di hadapannya, tiba tiba saja dirinya teringat tatapan serta senyum manis dari sang putri yang tadi mengembang di bibirnya.


Sakti terlihat membungkukkan tubuhnya saat Putri Elisa sudah berjalan tepat di sampingnya, dan dia hendak kembali berjalan setelah tubuh sang putri melewatinya.


''Tunggu...'' putri menghentikan langkah Sakti.


Langkah Sakti pun terhenti lalu berbalik ke arah putri, dan kini mereka pun berdiri saling berhadapan.


''Ada apa Putri?'' Sakti dengan pandangan menunduk.


''Kamu harus bertanggung jawab karena telah membuat punggungku terluka,'' ucap sang putri dengan pandangan tepat mengarah ke wajah Sakti. Membuat Sakti benar benar salah tingkah di buatnya.


''Sekali lagi saya mohon maaf Putri, saya benar benar tidak sengaja melakukanya.''


''Untuk menebus kesalahan mu aku minta kamu mengajakku jalan jalan ke suatu tempat.''


''Maksud putri?'' Sakti terlihat tidak mengerti dengan maksud sang putri.


''Jika kamu tidak mengerti, maka pikirkan dengan baik ucapan ku tadi sampai kau benar benar mengerti.''


Kemudian Putri melanjutkan kembali langkahnya, meninggalkan Sakti yang berdiri mematung sambil mencerna perkataan sang putri yang baru saja di ucapkan pada dirinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2