KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Rencana Jahat sang Ratu


__ADS_3

Kini segala urusan mengenai pemulihan kota yang terkena bencana sudah selesai.


Istana kembali di sibukkan dengan persiapan penurunan Tahta dan penyerahan Tahta kepada pangeran putra mahkota, yaitu pangeran Arezz yang akan di laksanakan dalam beberapa hari lagi.


Sang pangeran putra mahkota pun tampak sudah bersiap, menyiapkan fisik serta mentalnya agar terlihat bugar saat acara nanti di gelar.


*


Pangeran Brendan nampak sedang duduk di dalam kamarnya, ia pun terlihat sedang menyiapkan mentalnya untuk mulai menerima kenyataan jika ia gagal duduk di atas Tahta menggantikan ayanhanda,namun sebagai gantinya ia telah memiliki istri yang kini sangat di cintai nya.


Meski hatinya masih merasa berat untuk mengikhlaskan Tahta itu kepada sang kakak, namun sebisa mungkin ia akan mencoba menerima semuanya.


''Kamu sedang mikirin apa suami ku?'' Evina duduk di samping pangeran Brendan.


''Entahlah... sepertinya banyak yang sedang aku fikirkan!''


''Apakah kau sedang memikirkan kakakmu yang akan segera memangku Tahta?''


Pangeran Brendan hanya terdiam.


''Aku berharap, kamu bisa berlapang dada dan menerima semuanya dengan ikhlas,'' ucap Evina menenangkan suaminya.


''Apa kamu bilang,'' Ratu Emilia tiba tiba saja masuk ke dalam kamar dan mendengar semua ucapan Evina kepada suaminya.


''Dasar wanita tidak tahu diri, semua ini gara gara kamu hadir di istana ini, dan mengacaukan hidup putra kesayangannya saya, yang semula calon terkuat untuk menerima Tahta,'' Ratu Emilia menunjuk satu jarinya tepat ke arah wajah Evina, membuat gadis itu terperangah.


''Ibunda...'' pangeran Brendan memanggil Ratu Emilia dengan suara keras.


''Apa kamu? dasar anak tidak tahu diri,'' menatap dengan tajam wajah pangeran Brendan.


''Cukup ibu, tak ada gunanya ibu marah marah seperti ini.''


''Diam kamu anak sialan,'' Ratu Emilia semakin murka.


''Jika saja kamu tidak meniduri dan harus menikahi pelayan rendahan ini, mungkin saja ibu akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadikanmu pewaris Tahta, semua ini gara gara kamu,'' Ratu Emilia mendorong bahu Evina dengan sangat keras sehingga membuat gadis itu terjengkang.


Bruukk...


Evina pun jatuh ke atas lantai.

__ADS_1


Pangeran Brendan segera menghampiri dan meraih tubuh istrinya.


''Cukup Bu, Evina tidak salah apapun,'' ucap sang pangeran sambil meraih tubuh istrinya dan membantunya untuk kembali berdiri.


''Sudah berani ya kamu melawan sama ibu, hanya karena gadis tidak tahu diri seperti dia,'' ucap sang Ratu dengan wajah yang sangat geram serta suara yang menggelegar.


''Aku yang salah Bu, mohon ampuni dia,'' pangeran Brendan bersimpuh di kaki Ratu Emilia.


''Kamu sudah benar benar mengecewakan perasaan ibu.''


''Mohon maafkan putramu ini ibunda, karena tidak berbakti kepada ibunda.''


''Ibu sangat kecewa dan benci sama kamu, Brendan,'' Ratu pun pergi meninggalkan kamar itu, meninggalkan putranya yang masih dalam keadaan bersimpuh di atas lantai.


Setelah Ratu Emilia meninggalkan kamar putranya, Evina segera menghampiri suaminya dan membantunya untuk kembali berdiri.


''Bangunlah suamiku,'' ujar Evina dengan perasaan sedih.


''Kamu tidak apa apa kan Ev, apa ada yang sakit,'' sang pangeran memutarkan tubuh istrinya, melihat dengan seksama keadaan istrinya.


''Aku tidak apa apa.''


Evina hanya terdiam.


Mereka pun kembali duduk dan saling menguatkan perasaan masing-masing, meskipun perasaan itu belum juga hadir di hati Evina, namun dirinya sudah sangat bersyukur karena sekarang suaminya telah berubah menjadi laki laki yang lebih baik dari sebelumnya, dan itu semua membuat hati Evina sedikit tersentuh dan akan berusaha untuk mencoba membuka hati untuk suaminya.


*


Ratu kembali ke kamar pribadinya, hatinya sungguh sangat geram karena putra kesayangannya sekarang telah berubah dan lebih memilih istrinya di bandingkan dirinya yaitu ibunya sendiri.


Seperti nya ia harus segera mencari cara agar bisa memisahkan putranya tersebut dari istrinya, agar Sang putra bisa kembali memihak dirinya dan menuruti semua kemauan nya.


Dan seperti nya, sang Ratu akhirnya menemukan cara agar Pangeran Brandan kembali membenci Evina, dia pun tampak tersenyum licik saat otaknya mulai menemukan cara yang di rasa akan cukup ampuh membuat putra kesayangannya kembali memihak dirinya.


Ia berbaring di atas Ranjang besar dan Mewah kepunyaannya, seraya matanya menatap langit langit kamar, dan akhirnya ia pun tertawa sendiri seperti orang gila,dan berencana akan segera melaksanakan apa yang sekarang sedang di fikirkan di dalam otaknya.


''Ha..ha..ha..otak mu sungguh pintar Ratu Emilia,'' ia berbicara pada diri sendiri.


**

__ADS_1


Malam hari, seluruh anggota keluarga Kerajaan tampak sudah berkumpul di depan meja makan, mereka semua akan makan malam bersama yang dipimpin oleh raja Arthur.


''Pangeran Arezz, sebelum kau benar-benar menerima Tahta dua hari lagi, Ayahanda memberimu kesempatan untuk mengadakan pesta perpisahan bersama teman-teman terdekatmu, dan anggap saja ini sebagai hadiah terakhir dari ayahanda untukmu, sebelum kau memangku tugas besar sebagai seorang Raja,'' ucap Raja Arthur di sela sela makan nya.


''Baik Ayah...''


''Dimana rencananya kamu akan mengadakan pesta tersebut?'' tanya sang Ratu Emilia.


''Jika tidak ada halangan, besok malam saya akan mengadakan pesta kecil kecilan di paviliun istana, tidak akan terlalu banyak orang akan di undang, mungkin hanya kawan terdekat serta keluarga saja.'' jawab pangeran.


''Baiklah, ibu doakan acaranya lancar,'' ucap Ratu dengan senyum menyeringai dari bibir mungilnya.


''Aku pasti di undang kan kak?'' putri secara tiba tiba.


''Pestanya di khususkan untuk orang dewasa, anak kecil di larang datang,'' ujar pangeran Brian dengan nada bercanda.


''Kaka juga anak kecil, jadi Kaka tak bisa datang,'' putri menjawab candaan kakaknya.


''Evina...! ibu harap kamu juga bisa datang mendampingi suami mu untuk datang ke acara tersebut," Ratu Emilia menatap wajah Evina.


"Baik Ratu."


"Tentu saja dia akan datang bersama ku Bu, mana mungkin aku hanya bersenang senang sendiri tanpa membawa serta istri tercinta ku ini," ujar Pangeran Brendan sambil mengusap bahu istrinya.


Seolah sedang merencanakan sesuatu Ratu Emilia tersenyum licik sambil menatap wajah Evina dan putranya.


Kita lihat saja, setelah kejadian ini apakah kamu masih akan mencintai istrimu seperti ini lagi (batin Ratu Emilia)


***


Ke esokan hari nya.


Semua nampak sudah berkumpul di paviliun istana yang terletak di bangunan bagian paling belakang dari Istana besar itu.


Bangunan tersebut memang jarang di gunakan, hanya sekali kali saja apabila ada acara khusus seperti yang saat ini sedang di laksanakan.


Semua yang hadir nampak memakai topeng, agar semua yang ada di sana setara dan sejajar tanpa ada perbedaan.


Evina pun hadir di sana bersama suaminya, ia nampak anggun menggunakan gaun panjang berwarna Fink serta memakai topeng dengan warna yang sama, sementara sang suami pun memakai jas dengan warna yang senada dengan sang istri membuat keduanya tampak sangat serasi.

__ADS_1


*****


__ADS_2