
Di istana memang sudah tersebar rumor tentang kedekatan Raja Arezz dengan Adik iparnya, tanpa mengetahui jika sebenarnya mereka adalah sepasang kekasih yang harus di pisahkan karena keadaan.
Entah dari mana asal muasal rumor itu di mulai, namun hal itu cukup untuk membuat para pelayan bergosip di belakang Raja.
Kebanyakan dari mereka, mengira jika Evina lah yang mengejar ngejar Raja meski sudah memiliki suami seorang pangeran.
Seperti yang sedang terjadi saat ini, tapak para pelayan sedang bergosip di sela sela pekerjaan mereka, putri Elisa yang kebetulan melintas di depan mereka dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang di bicarakan para pelayan tersebut, sang putri nampak menghentikan langkahnya saat mendengar salah satu dari mereka berbicara.
"Seharusnya si Evina itu beruntung sudah menikah dengan pangeran tampan, bukan malah mengejar yang mulia Raja, dasar tidak tahu diri," ucap salah satu pelayan.
Sang putri membalikan badan dan menghampiri pelayan tersebut.
"Hey kamu..." panggil sang putri, dengan nada marah.
Pelayan tersebut tersentak lalu menunduk.
"Maaf Putri Elisa..." ucap pelayan tersebut.
"Mulut mu itu sungguh berbisa, siapa namamu, berani beraninya kau menjelekkan Kaka ipar ku yang sedang mengandung, apa mau saya pecat kamu sekarang juga," putri merasa murka.
"Ampun Putri, mohon maafkan saya, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," pelayan tersebut bersimpuh di atas lantai.
"Jika kamu berani berbicara yang tidak tidak lagi, aku tidak akan segan segan untuk menghukum mu," putri pergi begitu saja setelah mengucapkan hal tersebut.
Sakti yang melihat kejadian tersebut langsung menghampiri putri Elisa dari belakang.
"Putri... Tunggu...!"
Sang putri berhenti lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Sakti..." ucap sang putri, wajah yang semula terlihat kesal kini berubah tersenyum menyambut kedatangan kekasihnya yang sudah beberapa hari tidak di temui nya.
"Ada apa? mengapa tadi kamu marah kepada pelayan itu?" sakti berdiri di samping sang putri.
"Kita bicara di kamarku saja, ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu."
"Baiklah..."
Sakti berjalan di belakang sang putri dan mengikutinya untuk berbicara berdua di dalam kamar nya.
__ADS_1
Ceklek...
Putri membuka kamarnya.
"Aku kesal dengan para pelayan itu, mereka bergosip tentang Kaka iparku tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Sebenarnya siapa yang menyebarkan Rumor tidak benar seperti itu," putri mengeluarkan unek uneknya.
"Sabar putri, kecantikan mu bisa luntur jika marah marah seperti itu," Sakti menggoda kekasihnya.
"Oya...!? apa kecantikan ku luntur jika aku marah marah seperti ini?" berjalan ke depan cermin, memandang wajah dirinya dari pantulan cermin, ia pun tampak merapikan topi merah yang menutupi separuh rambut lurusnya.
Sakti tersenyum melihat sang kekasih memutarkan badan sambil merapikan make up tipis yang memoles wajah cantiknya.
Ia pun berdiri lalu berjalan menghampiri sang putri.
''Tidak ko sayang, aku hanya bercanda, wajahmu tetap terlihat cantik meski sedang marah seperti itu, namun akan lebih cantik lagi jika kamu tersenyum,'' Sakti berdiri tepat di depan sang kekasih lalu merapikan rambut panjang yang terurai memenuhi punggung Putri Elisa.
''Benarkah...?'' putri tersenyum lebar, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang kekasih tercinta nya.
Sakti mengangguk lalu tersenyum.
''Di istana yang besar ini kita tidak akan bisa menutup mulut setiap pelayan yang membicarakan rumor yang tidak berdasar itu, yang bisa kita lakukan hanya lah menutup telinga kita dengan rapat agar perasaan kita tidak terprovokasi oleh setiap ucapan mereka,'' ujar Sakti.
''Iya aku mengerti Bagaimana perasaanmu, aku juga kesal mendengarnya, namun mau apa lagi, rumor sudah terlanjur menyebar.''
Sakti memeluk tubuh ramping sang putri lalu mengecup ujung kepalanya.
''Aku merasa sangat iba melihat sang Raja, sampai saat ini dia seolah menutup hatinya dengan rapat, tidak memberi kesempatan kepada wanita manapun untuk memasukinya apalagi menjadi pendamping nya, seperti nya cintanya hanya untuk kak Evina saja,'' wajah sang putri terlihat sedih.
''Aku juga sedih putri, aku yang tahu perjalanan cinta mereka dari awal mula mereka bertemu, merasa sangat iba apabila mengingat cinta mereka tidak bisa bersatu, yang mulia Raja itu sangat mencintai Evina dengan sepenuh hatinya, itu sebabnya sampai saat ini dia masih menutup hatinya untuk wanita manapun.''
''Hhmmm...'' Putri Elisa menarik nafas panjang.
''Tak ada yang bisa kita lakukan untuk merubah keadaan,'' putri menenggelamkan wajah nya di dada bidang Sakti.
''Mudah mudahan kisah cinta kita tidak berakhir tragis seperti yang di alami oleh yang mulia Raja," ujar Putri dengan wajah sedih, lalu mendongakkan wajahnya, menatap wajah kekasih nya.
Sakti hanya terdiam, dia pun tak tahu apakah sang Ratu akan merestui jalinan cinta mereka berdua, sampai saat ini pun hubungan mereka masih di jalani secara sembunyi sembunyi, siapapun tak ada yang mengetahui prihal hubungan mereka kecuali mereka sendiri, bahkan Raja Arezz pun tak tahu hal tersebut.
"Kita hanya bisa berdoa, semoga Sang Ratu, ibumu dapat menerima ku sebagai calon pendamping mu kelak."
__ADS_1
Putri menganggukan kepalanya.
"Aku mencintaimu Sakti."
"Aku pun mencintaimu, putri Elisa..."
*
*
Raja Arezz sedang duduk di atas singgasana, ia sedang memikirkan tawaran dari perdana menteri untuk menjadikan putrinya sebagai istri sekaligus Ratu negeri ini.
Ia sama sekali tidak pernah berjumpa dengan wanita itu, bagaimana mungkin dia bisa langsung menjadikannya seorang istri? menemani hari harinya sebagai seorang Raja. Namun ia harus segera menghentikan rumor yang saat ini sedang beredar di dalam istana.
Ia pun mengusap wajah dengan kedua tangannya, menarik napas lalu menghembuskan nya perlahan.
Sekertaris kerajaan tiba tiba saja menghadap Raja dengan membawa kabar duka.
"Hamba di sini yang mulia, hamba membawa kabar buruk dari perbatasan."
"Kabar buruk apa itu?"
"Sepertinya di daerah perbatasan telah terjadi huru hara, karena kekeringan, yang menyebabkan penduduk di sana saling berebut air bersih dan saling baku hantam hingga daerah tersebut terbagi menjadi dua kubu, yang memperebutkan sumber air bersih yang berada tepat di tengah tengah daerah tersebut.''
"Apa...? benarkah..?" Raja memijat kepalanya yang tidak merasa pusing sama sekali.
''Iya benar yang mulia.''
''Sepertinya aku sendiri yang harus datang ke sana untuk menenangkan mereka,'' jawab sang Raja.
''Tapi di sana sangat berbahaya yang mulia, lebih baik yang mulia mengutus pangeran Brendan atau pun pangeran Brian untuk pergi ke sana,'' sekertaris kerajaan membungkukkan tubuhnya.
Raja menggelengkan kepalanya.
''Tidak..! mereka tidak akan berani menyakiti Raja mereka sendiri, aku akan membawa serta adik adikku agar dapat menemani ku di sana,'' ucap sang Raja.
''Baik yang mulia, hamba akan segera memanggil kedua pangeran untuk menghadap yang mulia di sini.''
*****
__ADS_1