
Arezz dan Sakti berteriak dengan sangat kencang, suara teriakannya sampai menggelegar dan memantul di seluruh dinding yang membentang di rumah itu.
Para tikus yang sudah sedari tadi memperhatikan mereka pun ikut berlari berhamburan meninggalkan mereka bertiga.
Ketiganya nampak berlari keluar dari tempat mereka bersembunyi, dengan diikuti sosok yang menakutkan di belakangnya.
Sosok perempuan berbaju putih serta berambut panjang dengan mata berwarna merah menyala itu pun seolah olah terbang mengejar mereka bertiga dengan di iringi suara tertawa yang sangat nyaring hingga membuat seluruh bulu kuduk ketiganya benar benar berdiri.
Dan akhirnya mereka benar-benar bisa keluar dari bangunan tua tersebut.
Mereka terus berlari tanpa tahu kemana sebenarnya arah tujuan mereka, ketiganya hanya berlari dengan sangat cepat agar bisa terus menjauh dari sana.
Tangan Arezz tampak menggenggam jemari Evina dengan sangat erat. Begitupun sebaliknya, Evina menautkan jemarinya di tangan kokoh Arezz seolah pria tersebut adalah satu satunya harapannya untuk bisa bertahan hidup.
Dengan napas yang hampir habis serta keringat bercucuran deras dari seluruh tubuh, akhirnya ketiganya sampai di sebuah sungai besar dengan pemandangan air terjun tinggi menjulang, serta air jernih yang mengalir di bawahnya.
Entah sudah berapa jauh mereka berlari, hingga akhirnya tanpa mereka sadari merekapun sampai di tempat itu.
Tanpa di sadari ternyata Evina masih menggenggam erat telapak tangan Arezz, sampai akhirnya dia pun tersadar lalu melepaskan nya.
Tiba-tiba Sakti tertawa sangat keras, kemudian dirinya membaringkan tubuhnya di atas batu besar yang terletak di sisi sungai, sembari memandang langit biru yang membentang luas di atas kepalanya.
Melihat hal tersebut, Arezz dan Evina pun melakukan hal yang sama, keduanya berpikir mungkin saja dengan melakukan hal tersebut dapat sedikit mengurangi rasa lelah yang saat ini mereka rasakan.
Lalu ketiganya benar benar tertawa bersama, dengan nafas yang masih berat dan jantung yang masih berdetak sangat kencang, karena hari ini mereka bertiga telah benar benar melihat dan di kejar oleh hantu di siang bolong.
''Yang tadi itu apa ya?'' Sakti menghentikan tawanya dan bertanya kepada Evina.
''Aku sering dengar dari orang orang jika rumah itu berhantu, aku pikir itu hanya omong kosong belaka, ternyata memang di rumah itu benar-benar ada hantu,'' jawab Evina.
Membayangkan kejadian yang baru saja dilaluinya,benar-benar membuat bulu kuduknya merinding.
''Kamu tahu siapa pemilik dari rumah tersebut?'' tanya Arezz.
Evina menggelengkan kepalanya.
''Waaah... hari ini benar benar sesuatu banget ya,'' ujar Sakti dengan sedikit tersenyum.
__ADS_1
''Oh iya, aku masih belum mendengar jawaban kalian. Sebenarnya kalian berdua siapa? mengapa para pengawal kerajaan mengejar kalian?''
Arezz dan Sakti tampak sangat terkejut mendapat pertanyaan seperti itu kembali, mereka berdua saling menatap satu sama lain.
''Jangan-jangan kalian buronan yang sedang dicari oleh istana ya?'' Evina menambah kan.
Sakti tampak menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan.
Dirinya merasa lega karena identitas mereka tidak di ketahui oleh Evina. Meskipun dia sendiri tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Evina.
''Waah airnya jernih banget,'' ujar Arezz.
Dirinya mencoba mengalihkan perhatian Evian dengan memasukan kakinya ke dalam sungai, air yang terdapat di sungai tersebut memang terlihat sangat jernih, tepi sungai nya pun sangat bersih.
''Kamu mau ngapain?'' tanya Evina.
''Aku mau mandi,'' jawab Arezz dengan sedikit berteriak.
''Aku juga mau rezz,'' ucap Sakti, kemudian dirinya langsung memasukan seluruh tubuhnya ke dalam air tanpa berpikir terlebih dahulu.
''Ev... Ayo ikutan mandi dengan kita, rasanya segar sekali,'' Sakti berteriak ke arah Evina.
''Aku tidak bawa pakaian ganti, kalian saja yang mandi aku nunggu di sini,'' jawab Evina.
Sakti hanya mengangguk.
Mereka berdua menikmati tiap aliran air yang membasahi tubuh mereka, rasanya baru kali ini keduanya merasakan sensasi bermain air di bawah air terjun, dengan air yang sangat bersih juga jernih seolah tanpa setitik noda sedikitpun.
Setelah hampir dua jam mereka bermain air di sungai itu, akhirnya keduanya naik ke permukaan, Arezz dan Sakti menghampiri Evina dalam keadaan baju yang masih basah kuyup.
''Kalian jangan dekat dekat aku ya, nanti baju aku basah,'' ujar Evina yang kemudian mundur beberapa langkah ke belakang.
Arezz tampak membuka baju yang di kenakan nya lalu memerasnya dengan tangan. Sontak membuat Evina langsung membalikkan badannya, dirinya akan merasa sangat malu jika harus melihat seorang pria dalam keadaan telanjang dada.
Sakti pun melakukan hal yang sama, membuka baju lalu memerasnya dengan tangan, dirinya bahkan membentangkan baju basah nya di atas batu besar agar terkena sinar matahari dan bisa kembali kering.
Kemudian Sakti dan Arezz duduk di sebuah batu besar dengan bertelanjang dada, sementara Evina duduk jauh di belakang mereka berdua, dirinya sebisa mungkin tidak melihat ke arah kedua pria tersebut.
__ADS_1
''Kamu tidak rindu dengan Baginda Raja?'' tanya Sakti secara tiba-tiba.
Arezz nampak tersenyum tipis.
''Sejujurnya aku merindukan Baginda, namun aku tidak mau jika harus dipaksa kembali ke istana lalu menggantikan posisinya.''
''Mengapa Pangeran tidak menerima saja tawaran dari Baginda Raja? saya yakin Pangeran mampu menjalankan tugas sebagai seorang Raja?''
Arezz nampak mengangkat kepalanya ke atas, memandang langit biru sambil mengingat sosok ibunda yang sangat di rindukannya, sudah lebih dari satu tahun dirinya tidak berjumpa dengan sang ibunda, yang merupakan selir kesayangan dari Baginda Raja.
''Pangeran...'' Sakti menggoyang tubuh Arezz.
Mendengar panggilan Sakti benar benar membuyarkan lamunannya, lalu dirinya kembali menundukkan kepalanya.
''Mengapa Pangeran tidak menjawab pertanyaan saya?''
''Entahlah, mungkin karena aku ingin hidup bebas seperti sekarang, tembok istana yang begitu tinggi seolah mengekang tiap langkahku, lagi pula masih ada adik adikku yang lahir dari rahim sang Ratu,mereka lebih pantas untuk menerima tahta, sedangkan aku, hanya putra dari seorang selir biasa,'' jawab Arezz.
Sakti hanya terdiam mendengar ucapan Pangeran nya.
''Hei kalian, cepat pakai baju kalian, hari semakin sore,kita harus segera pulang,'' Evina tapak sedikit berteriak.
Arezz berbalik memandang wanita yang berada di belakang nya. Dirinya hanya tersenyum tipis melihat Evina yang berbicara tanpa melihat ke arah dirinya sama sekali.
''Baiklah, kita pulang sekarang,'' ujar Sakti sambil meraih kembali baju nya yang masih dalam keadaan sedikit basah.
Setelah kedua nya selesai berpakaian, mereka menghampiri Evina.
''Kamu tahu jalan pulang?'' tanya Arezz.
''Kita ikuti saja aliran sungai ini, setahuku sungai ini mengalir tepat di belakang tempat tinggal kita,'' jawab Evina.
''Benarkah...?'' Sakti merasa senang karena dirinya tidak lagi harus melintasi bangunan berhantu tadi.
Lalu ketiganya mulai berjalan menyusuri sungai, di bawah sinar matahari yang perlahan mulai meredup.
*****
__ADS_1