
Setelah saling berpamitan, mereka pun memasuki mobil untuk kembali ke istana, Raja Arezz memandang mobil berwarna hitam dengan logo kerajaan di belakangnya, dia menatap dengan tatapan yang seperti menahan rasa pilu dengan air mata yang memenuhi pelupuknya.
'Selamat tinggal cinta pertama'ku'
Gumamnya dalam hati.
Perlahan mobil itu pun berjalan menjauh dari halaman, dan tidak lama kemudian semakin menjauh melaju di jalanan.
Alberto mengusap punggung sang Raja, dirinya seperti dapat merasakan kesedihan yang kini di rasakan oleh Raja yang sangat dia hormati ini, kesedihan karena harus berpisah untuk yang kesekian kalinya dengan wanita yang sangat di cintai'nya.
_____----_____
Satu Minggu Kemudian.
Raja Arezz dan Sakti sudah menyusun rencana untuk mengambil alih kembali Tahta yang kini di duduki oleh Raja Brendan, rencana itu akan mereka jalankan dengan meminta bantuan dari Sebastian yang merupakan kepala pengawal.
Kebetulan Sebastian adalah pengikut setia sang Raja, sehingga dirinya dapat dengan mudah mengumpulkan pasukan, dan rencananya akan di laksanakan besok pagi jika tidak ada hambatan.
Malam ini Sebastian dan Sakti berada di rumah Alberto, untuk berdiskusi dengan sang Raja, ketiganya duduk di kursi ruang tamu.
''Apakah yang mulia Raja sudah yakin dengan rencana yang kita buat?'' tanya Sebastian.
''Iya, besok pagi-pagi aku akan ke istana dengan di temani oleh kalian, jangan lupa kerahkan pasukan sebanyak-banyaknya untuk berjaga-jaga apabila ada kejadian yang tidak di inginkan, namun sebisa mungkin jangan sampai ada pertumpahan darah, aku hanya ingin memastikan Adikku si Brendan, dan juga permaisuri Emillia di tangkap dan di jebloskan ke penjara,'' jawab Raja dengan perasaan yang menggebu-gebu.
''Lalu bagaimana dengan Ratu Evina?'' tanya Sebastian.
Raja terdiam sejenak, menunduk merasa sedih, baru kemudian menjawab.
''Di karenakan Evina memiliki seorang bayi, maka dia tidak aku masukan ke dalam penjara, dia hanya akan mendapatkan tahanan kamar, sampai hukuman yang sebenarnya benar-benar di jatuhkan,'' jawab Raja.
''Baik yang mulia, kami akan menjalankan titah mu,'' ucap Sakti dan Sebastian secara bersamaan.
__ADS_1
____-----____
Malam ini entah mengapa sang Ratu tidak dapat memejamkan mata, hatinya tiba-tiba saja diliputi rasa gundah gulana, kegelisahan memenuhi relung jiwanya. Dia pun menatap punggung sang suami yang terlihat sudah tertidur pulas dengan membelakangi dirinya.
Untuk mengobati rasa gundahnya, dia pun keluar dari dalam kamar, berjalan menuju kamar putra kesayangannya.
Ceklek
Ratu membuka pintu kamar Adam, dia mendapati putra kesayangan belum tertidur sama seperti dirinya. Tidak biasanya Adam larut malam seperti ini masih belum tertidur, dia masih di gendong oleh pengasuhnya. Flora bahkan terlihat menahan kantuk dengan Adam yang berada di dalam pangkuannya.
''Flora...'' Ratu menggoyangkan tubuh gadis itu yang terlihat sedang berusaha menahan kantuk dengan mata yang sesekali terpejam.
Flora terbangun seketika, dia terkejut mendapati Ratu Evina berada dia kamarnya.
''Maafkan saya Ratu, saya sungguh tidak tahu jika ternyata Ratu sedang berada di sini.''
''Tidak apa-apa, kamu beristirahat saja, Adam biar saya yang jaga,'' pinta Ratu Evina lalu meraih tubuh Adam yang terlihat sedang menatap dirinya.
''Sudahlah, saya tahu kamu lelah, tidurlah sebentar, kebetulan malam ini saya tidak bisa tidur, saya berencana untuk tidur disini bersama Adam.''
''Ba-baiklah kalau begitu, kebetulan saya sudah sangat mengantuk,'' jawab Flora lalu tidur di atas matras yang tergerai di atas lantai.
''Adam sayang, kenapa kamu belum tidur? ganteng nya ibu...'' sang Ratu menatap wajah sang putra lalu mengajaknya berbincang.
Ratu Evina menimang Adam dengan penuh kasih sayang, dia pun menepuk punggung putra kesayangannya secara pelan, dan tak lama kemudian sang bayi pun tertidur di pangkuan sang Ratu.
Hingga akhirnya Ratu pun tertidur di kamar Adam dengan masih dalam posisi duduk dan Adam berada di dalam gendongannya.
_____-------_____
Akhirnya pagi pun menjelang, suara Kokok ayam jantan menggema di setiap sudut kota di dalam kerajaan, sinar matahari pun perlahan naik ke permukaan, memberikan penerangan bagi setiap insan yang baru saja terjaga setelah beristirahat semalaman.
__ADS_1
Hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi seluruh penghuni istana yang biasa hidup tenang dengan sejuta kemewahan, kegaduhan akan segera terdengar karena memilik asli dari Tahta yang saat ini di pegang oleh pangeran Brendan akan segara datang untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Raja Arezz memasuki istana dengan memakai pakaian perang lengkap dengan senjata yang melingkar di sisi kiri dan kanan pinggangnya.
Dia berjalan memasuki istana dengan di dampingi oleh Sebastian dan juga Sakti, lalu para prajurit pun mengikuti dari belakang, layaknya akan berperang.
Para pelayan istana yang sedang berlalu-lalang menjalankan tugas, segera berhamburan dan berlari kebelakang, mata mereka terlihat memandang Raja Arezz dengan tatapan terkejut dan perasaan heran.
Sang Raja memasuki Aula istana lalu duduk di singgasana, sedangkan Sebastian dan juga Sakti pergi ke kamar Raja Brendan dan Ratu Emillia untuk menjemput mereka secara paksa.
Tak lama kemudian terlihat Sebastian yang membawa Raja Brendan dengan paksa dan memborgol kedua tangannya.
''Lepaskan aku, Sebastian. Berani-beraninya kamu memperlakukan seorang Raja seperti ini, aku akan menjatuhkan hukuman mati untukmu,'' ujar Raja Brendan mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangan Sebastian.
''Sekarang kamu bukan lagi seorang Raja, kamu lihat, Raja yang asli sudah kembali,'' jawab Sebastian menunjuk ke arah singgasana yang yang sudah terdapat Raja Arezz duduk di atasnya.
''A--apa?'' Raja Brendan terkejut menatap sang Kaka, dengan tubuh yang terlihat gemetar.
''Apa kabar adikku tersayang, masih ingatkah kamu dengan kakakmu ini, yang kau celaka'i dengan tanpa berperasaan, mendorong ku dari atas tebing sambil tersenyum seolah tidak merasa bersalah sama sekali,'' Raja Arezz merentangkan kedua tangannya lalu turun dari singgasana.
''Ma--maafkan aku kak, waktu itu aku tidak sengaja, sungguh...!'' Raja Brendan berucap dengan terbata-bata dan air mata yang memenuhi pelupuknya, merasa takut.
''O ya...? hmmm... aku yakin ada orang lain yang mendorongmu untuk melakukan hal itu kan? ngaku...!'' Raja Arezz berteriak kencang hingga suaranya menggema di seisi Aula istana.
Raja Brendan pun berlutut seketika meminta ampun, dengan menempelkan kedua telapak tangannya.
''Tidak ada kak, semua ini hanya rencana jahat ku saja, aku yang serakah karena ingin mengambil tempatmu, tapi sungguh... tidak ada orang lain yang mendorongku untuk melakukan hal itu,'' jawabnya ingin mencoba melindungi sang Permaisuri Emillia, yang memang dia adalah dalang dari semua peristiwa itu.
Tak lama kemudian Sakti pun datang dengan membawa Permaisuri Emillia.
__________----------____________
__ADS_1