
''Arezz....'' Ratu Emilia memanggil pangeran Arezz yang saat ini sudah berstatus sebagai putra mahkota kerajaan Underland.
''Dimana kamu anak sialan,'' Suara sang Ratu menggelegar.
Ia pun berkeliling kamar besar nan megah itu dengan kepalan tangan dan wajah yang terlihat geram. Tanpa mengetahui jika orang yang di panggil sedang tenggelam di dalam selimut tebal.
Sang pangeran bangun dan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
''Ada apa Ratu mencari saya?'' ujar sang pangeran sambil merentangkan kedua tangannya serta membuka lebar mulutnya nya tanda menguap.
''Kamu di sini rupanya,'' Ratu berjalan dan menghampiri sang pangeran.
''Dari tadi saya memang di sini,'' jawab nya datang.
''Hei Arezz, sebaiknya kamu segera bawa wanita yang kamu cintai pergi dari kerajaan ini, saya tidak Sudi harus memiliki menantu dari Rakyat jelata seperti dia,'' ujar sang Ratu dengan tatapan tajam.
''Dia terpaksa harus jadi menantu mu karena kelakuan bejad putramu sendiri, mengapa aku harus membawa nya pergi?'' ujar pangeran Arezz santai.
''Apa kamu tidak keberatan jika wanita yang kau cintai menjadi istri laki laki lain?'' Ratu mengerutkan keningnya.
''Ha.. ha.. ha..! siapa yang bilang aku mencintai wanita yang akan menjadi menantu mu itu?'' masih dengan suara dan tawa yang santai.
''Apa maksudmu?''
''Putra mu itu, meniduri Evina karena dia memang menyukai gadis itu, tak ada sangkut pautnya dengan aku, ibunda Ratu.''
''Sudahlah aku tak butuh penjelasan dari mu. Sekarang saya minta cepat bawa gadis itu pergi bersamamu, dan serahkan Tahta yang akan di berikan oleh suamiku kepada Brendan, karena dia lebih berhak dari pada dirimu,'' ucap sang Ratu, dengan melayangkan tatapan sinis dan juga tajam serta satu jarinya tampak menunjuk ke arah wajah mengerang Arezz.
''Ha.. ha.. ha...'' pangeran Arezz kembali tertawa, kali ini suara tawanya terdengar sangat renyah di telinga.
__ADS_1
''Apa ibunda Ratu berfikir aku akan bersedia menukar Tahta yang berharga dengan wanita yang sudah ternoda itu?'' pangeran Arezz melayangkan tatapan yang sangat serius lalu terdiam sejenak.
''Jawabanya adalah 'TIDAK'...'' tambahnya lagi.
''Apa...'' Ratu murka.
Dia tampak mengangkat telapak tangannya dan hendak melayangkan tamparan keras ke arah pipi sang pangeran, namun dengan segera tangan kokoh pangeran meraih pergelangan tangan ibu tirinya tersebut dan melepaskan nya dengan kasar, dan sontak saja hal itu membuat yang mulia Ratu semakin murka.
''Jangan berani berani nya ibunda menyentuh calon Raja masa depan kerajaan ini?'' ucap pangeran.
''Kurang ajar kamu, kamu lihat saja, saya akan membuat hidup wanita yang kau cintai menderita, menangis darah hingga seluruh tubuhnya tak berdaging lagi. Dan saya pastikan kamu akan menyesal karena kamu tidak membawanya pergi, dan lebih memilih TAHTA...'' Sang Ratu berbalik lalu hendak pergi.
''Silahkan ibunda Ratu melakukan apa yang ibunda inginkan, aku sama sekali tidak peduli dengan wanita itu,'' ucap pangeran, yang sangat bertentangan dengan isi hatinya yang sebenarnya.
Ratu pun kembali melangkah ke luar dari dalam kamar, hatinya sungguh di buat merasa kesal oleh putra pertama dari suaminya tersebut.
Sepeninggal Ratu dari kamar nya, pangeran merasakan sekujur tubuh nya teras lemas, kemudian ia duduk di atas ranjang lalu mengusap dengan kasar wajah tampannya dengan kedua telapak tangannya.
Ia pun bangkit dan berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, menyudahi meratapi nestapa nya dan mencoba untuk kembali bangkit dari keterpurukannya.
*
Di Rumah Sakit.
Rupanya setelah meluapkan rasa kesalnya kepada pangeran Arezz, Ratu Emilia pergi ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Evina calon menantu nya, ia ingin melihat seperti apa wajah gadis yang sedang di perebutkan oleh kedua pangeran.
Ceklek...
Pelayan tampak membukakan pintu untuk sang Ratu.
__ADS_1
Ratu pun masuk ke dalam ruangan dan melihat Evina sedang berbaring sendiri di atas ranjang dengan selimut yang menutupi separuh tubuh kurusnya.
Menyadari kehadiran ratu di ruangannya, Evina pun langsung bangkit dan duduk lalu membungkuk memberi salam.
''Ada apa yang mulia Ratu mengunjungi saya di sini?'' tanya Evina dengan nada lembut dan sopan.
''Jadi kamu wanita yang sedang diperebutkan oleh kedua Pangeran itu?'' ucap sang ratu sambil menatap tajam wajah Evina dengan kedua matanya.
''Mohon maaf yang mulia Ratu, saya sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari ucapan yang mulai. Saya hanya pelayan rendahan yang sama sekali tidak pantas untuk sekedar bermimpi sekalipun di perebutkan oleh kedua pangeran,'' Evina membungkukkan tubuhnya dengan dalam, meski dirinya sedang duduk di atas ranjang.
Lalu Ratu Emilia meraih dagu runcing Evina dan menengadahkan nya ke atas sambil berujar.
''Syukurlah jika kamu tahu diri. Karena titah dari suamiku yang menyuruh untuk menikahkan mu dengan putra berhargaku, aku terpaksa memiliki menantu wanita rendahan seperti mu,'' melepaskan dengan kasar wajah wanita yang sedang tidak dalam keadaan sehat itu.
Evina sungguh terkejut, ia tidak menyangka bisa melihat sifat asli dari wanita yang bergelar Ratu negeri ini, yang selama ini ia lihat, sang Ratu adalah wanita anggun dan selalu tersenyum, tak pernah sedikitpun terlintas dipikirannya bahwa Ratu Emilia sebenarnya adalah wanita yang sangat jahat dan bermulut pedas.
''Kamu dengar kan baik baik wanita rendahan,'' ucap Ratu dengan menunjukan satu jarinya tepat ke wajah pucat Evina.
''Sedikitpun saya tidak akan pernah menganggap kamu sebagai menantu saya, saya pastikan akan membuat hidupmu menderita, karena kesalahan dari kekasihmu itu yang tidak membawa mu pergi dari kerajaan ini,'' ucapnya lagi, dengan bola mata bundarnya seolah akan melompat dari tempatnya.
Evina hanya terdiam mendapatkan perlakuan seperti itu dari calon ibu mertua nya, hatinya seperti di Landa nestapa yang tak berkesudahan.
Pertama, ia harus kehilangan kesuciannya, berpisah dengan kekasihnya serta harus menikahi orang yang sama sekali tidak di cintai nya, dan sekarang dia harus kembali merasakan pil pahit karena perlakuan dari Ratu Emillia yang merupak wanita yang di junjung tinggi di kerajaan Underland ini.
Namun sebisa mungkin ia tidak menangis, ia ingin mencoba untuk kuat dalam menjalani semua cobaan yang yang sedang dia alami, karena ia merasa yakin, di depan sana cobaan yang lebih besar lagi, sedang menanti dirinya.
Ia pun kembali berbaring, sendirian, di dalam ruangan sepi dan dingin itu, ia merasa sangat kesepian karena sang pangeran yang biasanya setia menemani dirinya di sana, kini tidak pernah mengunjungi nya lagi.
*****
__ADS_1
Ia mengusap dengan kasar wajah cantik nan tirus nya itu, mencoba meyakinkan diri sendiri, bahwa ia kuat, dan bisa menjalani hidupnya dengan penuh ke ikhlaskan.