KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Tanggung Jawab


__ADS_3

Pangeran Arezz menangis di dalam pelukan ayahandanya. Dia seolah mencurahkan setiap kesedihan yang sudah sedari tadi ia tahan.


"Mengapa ayahanda tega memisahkan aku dengan wanita yang sangat aku cintai..hiks..hiks"


Raja tidak berkata apapun, ia hanya mengelus punggung sang putra dengan perasaan iba.


Suara tangis dari pangeran Arezz bahkan sampai terdengar oleh Sebastian yang berdiri di luar pintu, suaranya begitu pilu di telinga sehingga siapapun yang mendengarnya akan merasa iba, termasuk Sebastian, ia jiga mengetahui prihal kedekatan sang pangeran putra mahkota dengan wanita yang sekarang jadi istri dari adiknya sendiri.


Ia pun ikut merasa prihatin dengan apa yang menimpa pangeran Arezz, namun apalah daya ia pun hanya bisa ikut berduka tanpa bisa melakukan apapun untuk membantunya.


''Maafkan ayah mu ini nak, karena telah membuat dirimu seperti ini,'' ucap sang ayah pelan.


Raja sendiri tidak pernah melihat putra kesayangannya sampai bersedih seperti ini, sehingga hatinya diliputi rasa bersalah yang amat dalam.


Raja pun pergi meninggalkan putra kesayangannya di dalam kamar, menangis sendirian meratapi nasib cintanya yang terasa begitu menyakitkan.


Sepeninggal Raja, sang pangeran putra mahkota meringkuk di atas ranjang, ia meluapkan seluruh kesedihan dengan menangis sejadi jadinya, sungguh, meskipun ia mencoba untuk tegar dalam menerima semua ini, namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia sama sekali merasakan kesakitan yang teramat dalam.


Sampai akhirnya ia pun terlelap, matanya kemudian terpejam, meski buliran air mata itu semakin deras tak tertahankan.


***


Ke esokan harinya.


Evina membuka matanya, ia mencoba terbangun dari tidurnya, mencoba terbangun tanpa menyadari jika keadaan tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang pun.


Ia mencoba turun dari atas ranjang, dan mengambil satu persatu pakaian yang berserakan di atas lantai.


mencoba memakai nya meskipun bagian inti nya masih terasa sakit akibat roket yang di hujam kan begitu kuatnya tadi malam.


Setelah seluruh pakaiannya lengkap ia kenakan ia pun beranjak ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri.


Pagi ini menurut tradisi kerajaan, setiap anggota keluarga kerajaan harus menyapa ke kamar raja dan memberi hormat terhadapnya.


Evina mencoba membangunkan suaminya yang terlihat masih terlelap.


''Pangeran bangun..! sudah hai sudah siang.''


Evina menggoyangkan tubuh pangeran, berkali kali namun sang pangeran masih saja terpejam.


''Pangeran...!'' dengan suara keras.


Akhirnya sang pangeran membuka mata nya, bukannya bangun dan membersihkan diri, ia malah menarik kembali tubuh istrinya ke dalam selimut dan mendekapnya erat sambil kembali terpejam.

__ADS_1


''Apa yang kau lakukan? aku sudah mandi, cepat pakai pakaian mu, kita harus menyapa Baginda Raja di kamarnya.''


Evina berusaha melepaskan diri, dan keluar dari dalam selimut.


''O..iya...! hampir saja lupa, jam berapa sekarang?''


''Sudah jam 7 pangeran.''


''Baiklah, tunggu aku sebentar, aku mandi dulu,'' ia pun turun dari ranjang dengan bertelanjang, tanpa merasa malu ataupun risi dengan tubuh polosnya.


Evina hanya memalingkan wajahnya, tanpa menoleh sedikit pun ketika suaminya mulai berjalan ke kamar mandi dalam keadaan polos.


30 menit kemudian keduanya sudah bersiap, Evina nampak cantik dengan balutan gaun pendek berwarna hijau dengan rambut yang tata dengan sangat rapih.


Begitupun pangeran Brendan, ia sudah bersiap dengan kemeja pendek berwarna merah marun, dengan rambut rapih dan wajah yang cerah karena senyuman senantiasa mengembang dari kedua sisi bibirnya.


''Tunggu...!''


Pangeran menghentikan langkah Evina yang akan membuka pintu dan berjalan ke luar dari dalam kamar.


''Ada apa?''


Evina menoleh dan menghentikan langkahnya.


Ia menghampiri Evina dan meraih pergelangan tangannya.


''Ingat, kau harus selalu tersenyum di hadapan ayahanda, agar kita terlihat sangat bahagia,'' ujar pangeran Brendan.


''Baiklah....!''


Evina menautkan tangannya di pergelangan tangan suaminya, mencoba tersenyum meski sangat terlihat jika senyum itu sungguh sangat di paksakan.


Trok trok trok...


Pangeran mengetuk pintu kamar Baginda dan membukanya.


''Kami di sini Ayahanda.''


''Oh kalian, sepasang pengantin baru,'' ujar Raja.


Pangeran Brendan dan Evina berjalan dan akhirnya duduk di kursi dengan masih bergandengan tangan.


Ratu Emillia yang duduk berdampingan dengan suaminya hanya menatap dengan tatapan kesal ke arah putra dan juga menantunya.

__ADS_1


''Bagaimana, keadaan yang mulia Raja serta Ratu Emillia? semoga kalian berdua sehat selalu dan di limpahkan banyak kebahagiaan,'' ucap Evina dengan sedikit membungkuk.


''Kami dalam keadaan baik, menantuku, mulai saat ini, kau akan membantu dan menemani Ratu Emilia apabila ada acara kerajaan yang harus di hadiri nya di luar istana,'' ucap Raja.


Evina terkejut.


''Mengapa harus dia?'' ujar sang Ratu.


''Tentu saja harus dia, karena dia anggota keluarga kerajaan baru, jadi dia juga harus di ikut sertakan apabila ada acara kerajaan, dia juga bisa membantu mu dalam menyelesaikan pekerjaan mu di yayasan,'' jawab sang Raja Arthur.


Ratu hanya terdiam tanpa menjawab.


''Baik saya akan mengikuti perintah Baginda Raja,'' jawab Evina.


''Kamu pangeran Brendan,'' menunjuk ke arah putra keduanya.


''Iya ayahanda.''


''Mulai saat ini kau adalah seorang suami, meski umur mu masih sangat muda, namun kau harus bisa menjadi suami yang baik, dan berhenti main main, kau juga nanti akan membantu kakakmu dalam menjalankan tugas kerajaan apabila dia sudah di Lantik sebagai seorang Raja.''


''Baik ayahanda, hamba akan mengikuti perintah ayahanda.''


Tak lama kemudian, pintu pun kembali di ketuk, ketiga anak nya yang lain datang ke dalam kamar secara berbarengan.


Pangeran Arezz, pangeran Brian dan juga Putri Elisa masuk lalu duduk berdampingan.


Pangeran Arezz tampak sedikit melirik ke arah Evina, pangeran Brendan yang menyadari hal itu langsung merapatkan tempat duduknya dengan istri nya, lalu merangkul sang istri dengan tangan sambil tersenyum licik ke arah kakaknya yang terlihat sedang menatap dengan tatapan kesal.


''Kalian semua sudah berkumpul di sini, ayahanda ingin memberitahukan, jika satu Minggu lagi ayah akan segera menyerahkan tahta kepada pangeran Arezz, ayah harap kalian bisa membantu kakakmu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang Raja.''


''Apa...?''


Ratu terlihat sangat terkejut.


''Ada apa lagi? bukankah kau juga sudah tahu akan hal ini?''


Raja menatap tajam ke arah Ratu Emillia, membuat sang Ratu menunduk dan tak berani kembali menatap suaminya yang terlihat membulatkan bola matanya.


''Keputusan ku sudah sangat bulat, tidak ada yang bisa menganggu gugat atau merubahnya, jika ada yang berani menentang maka ayah persilahkan untuk keluar dari kerajaan ini,'' ujar Raja dengan sangat tegas.


''Baik ayahanda, kami semua akan mengikuti semua perintah mu,'' jawab seluruh putra putrinya secara serentak.


*****

__ADS_1


__ADS_2