
Dua Tahun Kemudian.
Sang Putri berjalan cepat, dia hendak menemui calon suaminya yaitu Sakti yang merupakan pengawal pribadi dari Raja Arezz, ya... sebentar lagi mereka akan segera menikah dan Raja Arezz memberikan restunya dengan sangat senang hati, selain baik sakti juga pengikut setianya dan tidak pernah berbuat yang macam-macam apalagi bermain wanita.
Raja langsung menyuruh mereka berdua segera menikah setelah mengetahui hubungan keduanya, dan pernikahan tersebut rencananya akan diadakan 3 minggu lagi dari sekarang.
Sang Putri tersenyum wajahnya terlihat sangat bahagia, dia pun menyapa setiap pelayan yang berpapasan dengan dirinya. Setelah lama mencari, akhirnya dia pun menemukan Sakti yang sedang berada di aula istana bersama sang raja.
Putri pun masuk ke dalamnya, dan berjalan menghampiri Sakti yang terlihat sedang berbincang dengan sang Raja yang duduk di atas singgasana.
Tuk
Tuk
Tuk
Terdengar nyaring suara sepatu yang di kenakan oleh sang putri, wajahnya seketika muram berjalan menghampiri Sakti, lalu dengan tatapan tajam dia menatap kearah raja yang berada di atas singgasana.
''Kakak tega sekali sih, masa di hari-hari menjelang pernikahan, Sakti masih tetap bekerja?'' ucap sang Putri.
Raja tersenyum geli melihat tingkah adik kesayangannya, sementara Sakti hanya menunduk merasa malu, kemudian dia pun menoleh dan menatap wajah sang putri.
''Putri, jangan seperti ini, aku malu dilihatin oleh Baginda Raja,'' ucap Sakti dengan wajah memerah.
''Kenapa harus malu sebentar lagi juga kita akan menikah?'' jawab Sang Putri dengan polosnya.
''Sudah... sudah... sepertinya adik cantikku ini sudah tidak sabar untuk menjadi seorang istri darimu Sakti. Sekarang kamu boleh cuti dan beristirahat untuk mempersiapkan pernikahan mu,'' ujar Raja Arezz dengan sedikit tersenyum.
''Tapi, yang mulia. Masih banyak pekerjaan yang harus hamba selesaikan'' jawab Sakti.
''Tidak apa-apa, aku akan menyuruh Sebastian untuk menyelesaikan tugas yang kau tinggalkan, sekarang kamu fokus aja dengan persiapan pernikahanmu,'' jawab Raja masih dengan tersenyum kecil, merasa terharu. Sakti yang merupakan pengawal pribadi sekaligus sudah dianggap seperti keluarga sebentar lagi akan menjadi keluarga sesungguhnya yaitu, adik iparnya.
Sang putri pun tersenyum bahagia, dia pun membungkukkan badannya memberi hormat lalu meraih lengan calon suaminya dan menariknya keluar dari dalam istana.
Sakti terkejut seketika, dia hanya menundukkan kepala menatap wajah sang Raja saat kakinya mulai melangkah tertarik oleh lengan calon istri.
__ADS_1
Setelah keluar dari dalam aula, Sakti pun menatap wajah sang Putri, wajahnya terlihat sedikit kesal lalu dia akan melepaskan cengkraman tangan putri dengan sedikit kasar.
''Putri...! jangan seperti ini?'' berhenti dan berdiri di samping Putri Elisa.
''Kenapa?'' Putri ikut menghentikan langkahnya, berdiri dan menatap wajah Sakti dengan wajah yang sedikit kesal.
''Aku hanya tidak suka kamu mengganggu pekerjaanku, rencananya, setelah selesai berdiskusi dengan Raja aku akan meminta cuti dan segera menemui'mu,'' jawab Sakti.
Putri hanya terdiam.
Sakti menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendahului sang sang putri, Putri Elisa pun mengejar dari belakang, dan kembali meraih lengan calon suaminya secara kasar.
''Apa kamu marah kepadaku?'' tanya'nya menatap wajah Sakti dengan tatapan tajam.
Sakti hanya terdiam.
''Kenapa diam saja?'' wajah sang putri mulai terlihat muram.
''Jika kamu merasa keberatan, aku bisa kok meminta kakakku untuk membatalkan pernikahan kita,'' ucapnya lagi yang merasa sangat kesal karena sama sekali tidak mendengar jawaban.
''Tidak... bukan seperti itu, aku hanya...'' Sakti tidak meneruskan ucapannya saat melihat sang putri mulai menitikkan air mata.
''Kamu jahat... hiks hiks hiks...'' jawab sang putri dengan terisak.
''Iya... aku minta maaf, sudah jangan menangis lagi,'' Sakti mengecup punggung lengan sang putri lalu memeluk tubuhnya mencoba menenangkan.
''Apa kamu tidak memaafkan aku,'' ucapnya lagi.
Sakti pun melepaskan pelukannya, menatap wajah Putri Elisa lalu mengusap satu persatu buliran air mata yang mengalir dengan begitu derasnya.
''Sudah, hentikan tangis'mu ini, wajah cantikmu jadi tersapu oleh air mata, nanti cantiknya luntur, lho,'' ucap Sakti sedikit menggoda.
Putri Elisa pun kembali tersenyum seketika, dia kembali memeluk tubuh calon suaminya.
''Jangan seperti ini lagi ya, aku meminta maaf jika memang aku salah, tapi jangan sekali-kali lagi kamu membentak'ku, karena aku tidak suka,'' pinta sang putri bersandar di bahu lebar Sakti.
__ADS_1
''Iya... sayang... aku sungguh minta maaf,'' Sakti mengecup pucuk kepala calon istrinya dengan terpejam penuh kasih sayang.
___---___
Tiga Minggu Kemudian.
Pernikahan pun digelar, pernikahan yang diadakan di aula istana itu di hadiri oleh orang-orang penting, rekan dan keluarga besar Sakti.
Putri Elisa tampak cantik berbalut gaun pengantin berwarna putih, rambutnya pun di tata sedemikian rupa dengan mahkota kecil menghiasi pucuk kepalanya.
Wajah sang Putri pun di poles dengan polesan make up natural layaknya seorang pengantin, dan bibirnya di warnai dengan warna merah membuat bibir mungilnya terlihat sensual.
Sang Putri dan Sakti berjalan memasuki istana dan langsung di sambut dengan suara riuhnya tepuk tangan dari semua yang hadir di sana. Mereka berdua tampak sangat serasi, berjalan beriringan dengan senyum yang mengembang dari kedua sisi bibir keduanya.
Dan akhirnya janji pun di ucapkan, janji sehidup semati, setia sampai tua nanti. Keduanya tersenyum bahagia karena akhirnya telah menjadi sepasang suami-istri, merekapun berciuman mesra di hadapan semua hadirin yang berada di sana.
Sakti memutarkan kepala dan menautkan bibirnya dengan begitu dalam, matanya terpejam merasakan kenikmatan.
Suara riuh tepuk tangan kembali terdengar, semua yang hadir di sana merasa bahagia menyaksikan kedua insan yang baru saja di satukan oleh ikatan pernikahan.
Begitupun dengan Raja Arezz yang duduk di atas singgasana bersama Pangeran Adam yang duduk di pangkuannya, Raja pun tampak menutup mata sang putra saat kedua adiknya berciuman di atas singgasana pengantin.
''Kenapa ayah menutup mataku?'' tanya pangeran Adam membuka kembali lengan sang ayah dari kedua matanya.
''Jangan di lihat, kamu masih kecil,' Raja Arezz kembali menutup mata putranya.
''Ayah... aku ingin melihat mereka berdua,'' pangeran Adam terlihat kesal.
Raja tersenyum menatap wajah pangeran Adam, semakin hari tubuhnya semakin tinggi dan wajah tampannya terlihat semakin mirip dengan dirinya, hanya bola matanya saja yang berwana coklat berkilau mirip dengan kepunyaan ibundanya.
Flora pun masih menjadi pengasuh pangeran Adam, karena pesan dari Ratu Evina yang memintanya untuk terus menjaga Adam sampai dia besar nanti.
Flora menatap pasangan pengantin dengan tatapan bahagia, meski di dalam hatinya terselip rasa iri dan ingin segera menyusul mereka ke pelaminan.
Namun apalah daya, dirinya tidak punya rasa kepercayaan diri, mana ada Laki-laki yang sudi menerima dan mencintai dirinya yang hanya berasal dari keluarga miskin, dan hanya bekerja menjadi seorang pengasuh.
__ADS_1
Tanpa dia sadari bahwa pangeran Brian sedang menatap wajah dirinya dengan sangat lekat seraya tersenyum, memendam cinta.
____________----------____________