KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama


__ADS_3

Trok trok trok


Pangeran Brian mengetuk pintu, mengejutkan Flora yang sedang menggendong bayi Adam di dalam pelukannya.


Flora menoleh ke arah pintu, menatap wajah sang pangeran lalu membungkuk, memberi hormat, setelah itu pun ia terus menundukkan kepalanya.


''Boleh aku masuk?'' tanya Pangeran Brian, dengan senyum kecil yang masih menghiasi kedua sisi bibirnya.


''Tentu saja Pangeran,'' Flora menjawab masih dengan menundukkan kepalanya.


Pangeran Brian masuk ke dalam kamar, berjalan menghampiri keponakannya yang saat ini berada di dalam pelukan pengasuhnya.


''Halo Adam, kesayanganku, keponakan tampanku,'' Pangeran berucap dengan mengelus pipi sang bayi.


Flora hanya memandang wajah tampan sang pangeran, yang saat ini berada sangat dekat dengan dirinya. Wajah imut sang pangeran dengan kulit putih dan rambut yang tertata sangat rapi membuat buat Flora sedikit ia terkesima.


''Apakah boleh aku menggendongnya, sebentar?'' tanya pangeran Brian dengan memandang wajah Flora yang saat ini seperti sedang dalam keadaan gugup karena berdekatan dengan dirinya.


''Oh, iya, tentu saja boleh,'' Flora menyudahi pandangannya dan kembali menundukkan kepalanya.


''Baiklah, sini sayang di gendong Om ganteng,'' Pangeran meraih tubuh kecil bayi Adam dari pangkuan Flora dengan kedua tangannya.


Hal itu membuat tangan keduanya saling bersentuhan, dan membuat Pangeran Brian serta Flora terkejut seketika sembari saling menatap satu sama lain, pandangan mereka pun bertemu dalam satu titik yang sama dan hal itu membuat jantung keduanya berdetak sangat kencang seperti merasakan sebuah getaran.


''Maaf pangeran saya tidak sengaja,'' ucap Flora saat lengannya bersentuhan, dia tidak mau di bilang tidak sopan karena berani menyentuh tubuh Pangeran.


''Tidak apa-apa ko, memang aku yang salah karena berdiri terlalu dekat dengan dirimu,'' jawab pangeran dengan tersenyum manis.


Flora mengangguk lalu mundur beberapa langkah kebelakang setelah Adam berada di pangkuan pangeran Brian.


Ia pun memperhatikan wajah pangeran dengan seksama, tatapan matanya terlihat sangat tulus, saat memandang wajah Bayi Adam yang saat ini berada di dalam dekapan sang pangeran.

__ADS_1


Pangeran Brian menimang bayi itu dengan sesekali mengajaknya berbicara, ia pun menatap dengan tatapan penuh kasih sayang kepada bayi Adam.


''Kenapa wajahmu tampan sekali nak? hidung serta matamu mengingatkan ku pada kakak Arezz yang kini telah tiada,'' ucap sang pangeran dengan pandangan yang tak luput dari wajah bayi Adam.


Flora sontak terkejut mendengar pangeran Brian mengucap nama Arezz, dia bertanya-tanya dalam hati, apakah Arezz yang di maksud adalah Ryan, laki-laki yang di tolong oleh kakeknya dan sempat di rawat oleh dirinya? karena merasa penasaran, di pun memberanikan diri untuk bertanya kepada sang pangeran, yang saat ini sedang berdiri tak jauh darinya.


''Mohon maaf, Pangeran. Bolehkah saya bertanya? Arezz itu siapa ya?''


''Kak Arezz?''


Flora mengangguk.


''Dia adalah mendiang kakakku, dia seorang Raja sebelum Raja sekarang naik Tahta, beliau sudah di nyatakan meninggal, meskipun sampai saat ini jasadnya belum di ketemukan,'' jawab sang pangeran dengan raut wajah yang terlihat memendam kesedihan yang sangat mendalam.


Flora terdiam seketika, mendengar dan melihat pangeran berucap dengan nada dan raut wajah yang memendam kesedihan membuatnya ingin sekali memberitahukan kepada pangeran Brian, bahwa Kaka yang dia maksudkan, masih hidup dan dalam keadaan sehat-sehat saja tanpa kurang satu apapun.


Namun ia segera mengurungkan niatnya tersebut. Dirinya takut jika salah bicara dan bisa menyebabkan Raja Arezz dalam bahaya.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya?"


"Tentu saja, aku sangat menghormati dia, kakakku ini adalah orang yang sangat penyayang, dan merangkul semua Rakyatnya, terutama Adik-adiknya, dan semenjak dia tiada, aku sangat merindukan beliau, dan melihat bayi Adam sungguh mengingatkanku pada dirinya," jawab Pangeran dengan memandang lekat wajah bayi yang sekarang berada di pangkuannya.


"Ternyata begitu, saya doakan semoga beliau tenang di alam sana, dan mendapatkan tempat yang terbaik di sisinya," ucap Flora berbohong.


"Amin...! O ya... aku belum tahu namamu, bolehkan aku mengetahui namamu?" tanya pangeran menatap wajah manis Flora.


''Nama saya, Flora. Pangeran...!" Flora membungkuk memperkenalkan namanya.


"Flora...! nama yang bagus dan cantik, secantik orangnya," jawab Pangeran dengan tersenyum.


"Terima kasih atas pujiannya," Flora tersipu malu.

__ADS_1


Sedang asyik berbincang, bayi Adam tiba-tiba saja menangis, hak itu membaut Flora segara meraih dan menggendong sang bayi dari pangkuan Pangeran Brian.


Tanpa menunggu lama bayi itu pun terdiam di dalam dekapan hangat lengan Flora, membuat sang Pangeran di buat terheran-heran, karena selain manis dan cantik, gadis ini juga pandai dalam mengasuh bayi.


''Kakakku sungguh beruntung mendapatkan pengasuh sepertimu, Adam terlihat sangat nyaman berada di dalam pelukanmu.''


Flora tersenyum merasa sangat tersanjung. Wajahnya pun terlihat merah merona, karena sang Pangeran terus memandangi wajah dirinya.


''Mmm... kalau begitu aku permisi,'' ucap pangeran dengan sedikit terbata-bata.


''Baik, Pangeran.''


Pangeran Brian pun berbalik hendak melangkahkan kakinya, namun ia menghentikan langkahnya lalu kembali berbalik, menatap wajah Flora dan berbicara.


''Mmm... bolehkan sekali-kali aku kembali lagi ke sini untuk membantumu mengasuh Adam?'' tanya sang Pangeran, sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.


''Tentu saja, istana ini milikmu, dan Adam adalah keponakanmu, mana berani aku melarang mu datang kemari,'' jawab Flora dengan senang hati.


''Baiklah, aku permisi,'' Pangeran Brian kembali berbalik dan berjalan meninggalkan kamar bayi Adam, meski dengan sesekali kembali membalikkan kepalanya hanya untuk melihat wajah manis Flora.


____----____


Sudah selama beberapa hari ini, Putri Elisa tidak bertemu dengan kekasihnya, entah apa yang sedang di lakukan oleh sang kekasih sehingga sama sekali tidak memiliki waktu meski hanya sekedar mengunjunginya untuk menyapa atau melihat wajahnya.


Hari ini rencananya sang Putri akan mencari sendiri kekasih yang bernama Sakti tersebut, karena rasa rindu yang sudah tidak dapat lagi di tahan, sekaligus ia merasa penasaran apa yang sebenarnya Sakti kerjakan sehingga dia sama sekali tidak memiliki waktu sedikitpun untuk dirinya.


Putri berjalan ke tempat dimana biasanya Sakti berada, ruangan khusus yang biasanya di gunakan untuk para pengawal beristirahat.


Putri tiba di ruangan tersebut, sebuah kamar besar yang di isi lebih dari 10 orang pengawal. Dia tampak bertanya kepada salah seorang pria yang bertubuh tinggi dan juga gagah, yang sedang berjalan hendak masuk ke dalam kamar.


''Selamat siang tuan putri, ada apakah gerangan putri jauh-jauh datang kemari?'' Pria bertubuh tinggi itu menyapa putri Elisa.

__ADS_1


''Saya mau mencari Pengawal yang bernama Sakti, apa kau bisa memanggilkan nya untuk ku?''


_____________------------_______________


__ADS_2