KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Masih Terjebak


__ADS_3

Pangeran Brendan mencari keberadaan istrinya, iya berkeliling mencari diantara banyaknya pengungsi yang berada di sana namun ia sama sekali tidak bisa menemukan Evina.


Akhirnya ia pun bertanya kepada salah satu penduduk yang sedang sibuk membuat tenda.


''Apakah kalian melihat istriku?''


''Maksudny Evina?''


''Iya...''


''Tadi saya melihat beliau pergi dengan pangeran Arezz bersama beberapa pengawal.''


''Apakah kau tahu mereka pergi kemana?''


''Saya dengar mereka menuju cafe Monalisa.''


''Apa...? di manakah tempat tersebut?''


''Tempatnya di dekat pintu gerbang memasuki kota ini.''


''Baiklah, terima kasih.''


Tanpa berpikir panjang Pangeran Brendan pun langsung menyusul Evina kesana, ia berjalan sendirian tanpa di temani oleh siapapun. Mencari keberadaan istrinya, karena takut kejadian yang buruk akan menimpa wanita yang baru di nikahi nya selama beberapa hari itu.


Akhirnya ia sampai di cafe yang di maksud, di sana ia sudah melihat pangeran Brian sedang mengevakuasi beberapa orang dari dalam bangunan yang hampir roboh tersebut.


''Dimana Evina?'' pangeran Brendan bertanya kepada Brian.


''Sepertinya dia berada di dalam.''


''Apa...? mengapa dia bisa berada di dalam? bukannya bangunan itu sepertinya akan segera roboh,'' tanya pangeran Brendan dengan perasaan cemas.


''Siapa yang mengijinkan istriku masuk ke dalam sana?'' tambahnya lagi.


Ia pun berlari hendak masuk ke dalam cafe Monalisa, namun segera di tahan oleh pangeran Brian.


''Jangan kak, di sana berbahaya, kamu bisa tertimpa tembok yang akan segera roboh,'' ucap sang adik dengan memegangi tangan sang Kaka dengan begitu kencang.


''Lalu kenapa kamu membiarkan istriku masuk ke dalam sana?'' mencoba berontak dan melepaskan tangannya dari cengkraman pangeran Brian.


''Aku juga tak tahu kak, istri mu memaksa masuk sendiri ke dalam sana,'' jawab Brian dengan masih menggenggam erat tangan sang Kaka.


''Lepaskan aku Brian, aku akan menolong istriku.''


''Jangan kak, itu sangat berbahaya.''

__ADS_1


Dan benar saja, bangunan yang berada di depan cafe dengan cat berwarna ungu itu pun Roboh seketika dan hampir menimpa kedua pangeran.


Bruuk...


Tembok itu roboh dan menimbulkan suara bergemuruh.


''Evina...?'' Pangeran Brendan berteriak memanggil nama sang istri.


''Dimana kak Arezz? mengapa aku tidak melihatnya bukankah dia di sini bersama kalian?''


''Kak Arezz di dalam kak,bersama Evina, mereka berdua sedang meng Evakuasi karyawan cafe yang sedang terjebak di sana.''


''Apa...?'' pangeran Brendan terkejut, lalu mengepalkan tangannya, hatinya seperti diliputi rasa cemburu.


''Apa yang akan kita lakukan kak? semua yang terjebak di dalam sana sudah berhasil di keluarkan, tinggal satu orang lagi bersama kak Arezz dan Evina di sana,'' tanya Brian dengan wajah cemas.


''Aku akan mencoba masuk ke dalam sana?''


''Apa...?''


''Tak ada cara lain lagi dek, hanya itu satu satunya cara agar Kaka bisa menyelamatkan istri ku,'' pangeran Brendan berjalan ke arah belakang bangunan, tempat yang tadi di masuki oleh pangeran Arezz dan juga Evina.


Namun celah yang tadi terbuka nampak sudah tertutup rapat, karena tembok penyanggahnya telah roboh dan menutupinya.


*


Evina dan pangeran Arezz masih berusaha untuk menyingkirkan tembok yang roboh menimpa kaki Bos Alberto.


Meski Bos Alberto melarang, namun keduanya masih tetap berusaha dan meyakini bahwa ia bisa menyelamatkan Bos Alberto dan dapat keluar dari bangunan tersebut dalam keadaan selamat.


''Kalian keluar saja, biarkan aku mati di sini, ini bangunan milikku, mungkin sudah takdirku mati di tempatku sendiri,'' ucap Alberto dengan meringis kesakitan.


Arghh...


Alberto mengerang saat tangan Evina dan juga pangeran Arezz mulai mengangkat tembok itu dari atas kakinya.


''Sebentar lagi bos, kau bisa menarik kakimu saat kami berhasil mengangkat tembok ini,'' ujar pangeran Arezz.


''Dalam hitungan tiga ya,'' ucap Evina sambil tangannya memegangi kaki Alberto, sementara pangeran Arezz mencoba mengangkat tembok itu sendirian.


''1..2..3..''


Pangeran Arezz mencoba mengangkat dengan sekuat tenaganya, dan berhasil sedikit mengangkat tembok itu, lalu Evina dapat menarik kaki Alberto dari bawahnya.


Arghhh...

__ADS_1


Alberto berteriak, kakinya nampak remuk dan terkulai lemas dengan darah segar yang memenuhi kaki itu.


Dan tiba tiba saja, suara gemuruh kembali terdengar.


Bruuukk....


Suara sesuatu yang roboh.


''Bagaimana cara kita keluar dari sini?'' ucap Evina.


''Sepertinya jalan yang tadi kita gunakan untuk masuk ke sini sudah tertutup oleh tembok yang roboh barusan,'' jawab pangeran Arezz.


''Sepertinya kita hanya bisa pasrah, menunggu yang lain masuk ke dalam sini dan menyelamatkan kita bertiga.''


''Duduklah kau pasti lelah,'' ucap sang pangeran kepada Evina.


Ia duduk di lantai kotor dengan melebarkan kedua kakinya, Evina pun duduk di samping Bos Alberto dan juga Pangeran Arezz, dengan suara nafasnya yang terlihat sangat berat dan juga terengah engah.


''Terima kasih, karena kalian telah menyelamatkan aku, aku benar-benar berhutang nyawa kepada kalian berdua,'' ucap bos Alberto.


''Sudahlah tidak usah di fikirkan, sudah kewajibanku sebagai calon raja negeri ini membantu rakyatnya yang sedang berada di dalam bahaya,'' jawab pangeran Arezz dengan tersenyum.


Sementara itu Evina hanya terdiam, sebenarnya, pergelangan tangan nya terasa sangat sakit, karena sempat tertimpa oleh tembok yang tadi berada di kaki Alberto, wajahnya tampak menahan sakit, dengan tangan yang menutupi luka di pergelangan tangan kirinya.


''Kamu kenapa Ev?'' tanya Pangeran.


''Tidak apa apa, aku hanya terluka sedikit.''


Sang pangeran menarik tangan Evina, di pun terkejut karena terdapat luka gores yang lumayan besar dengan darah yang sudah bercucuran membasahi tangan yang tadi ia gunakan untuk menutup luka tersebut.


''Tangan kamu terluka Ev..! mengapa kamu tidak bilang jika tangan mu terluka,'' pangeran Arezz terlihat begitu cemas.


''Tidak apa apa Pangeran, aku hanya tergores sedikit,Argh...'' dengan meringis kesakitan.


''Sedikit apanya? luka mu lumayan besar, jika di biarkan seperti ini maka luka mu akan terus mengeluarkan darah.''


Lalu sang pangeran membuka baju kemeja yang di kenakan nya, lalu merobek bagian belakangnya, setelah itu, ia pun membalut luka Evina dengan kain yang ia robek tersebut.


Dengan sangat hati-hati, tangan pangeran tampak membalut luka yang menganga di tangan Evina, darah segar tampak keluar dari dalam luka, membuat Evina kembali meringis kesakitan.


''Tahan sebentar ya, aku akan menekan lukanya agar darah berhenti mengalir, bisa bahaya nanti jika tubuhmu mengeluarkan banyak darah seperti ini,'' ucap Pangeran, lalu menekan dengan lumayan keras hingga kain yang ia gunakan untuk membalut luka itu terikat dengan kuat.


''Arghh....! sakit pangeran,hiks..hiks..'' Evina mulai menangis.


''Tahan sebentar lagi, aku akan mencari cara agar kita bisa segera keluar dari sini.''

__ADS_1


''Percuma pangeran, sebaiknya kau menyimpan tenaga mu untuk sekedar bernafas, jika terlalu banyak bergerak kau bisa kehabisan oksigen,'' ujar Alberto.


*****


__ADS_2