KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Terpana dan Terpesona


__ADS_3

''Apa yang harus aku lakukan sekarang? karena sampai saat ini ingatanku belum juga kembali,'' Raja menunduk merasa menyesal.


''Apa mungkin, jika aku mempertemukanmu dengan Ratu Evina, ingatanmu akan sedikit kembali? mengingat, Dia adalah wanita yang sangat melekat di hatimu,'' Sakti memberi usulan.


Raja masih terdiam, memikirkan sejenak apa yang baru saja Sakti katakan. Dia pun memijat kepalanya yang sedikit terasa pusing.


''Bagaimana caranya? Dia seorang Ratu, tidak mudah baginya untuk keluar dari dalam istana, aku juga ingin bertemu dengan dia, aku merasa penasaran mengapa aku dulu sangat mencintainya, dan wanita seperti apa dia sehingga aku seperti itu? sampai saat ini pun jantungku masih merasa berdetak dengan kencang apabila mendengar kau menyebut namanya,'' jawab Raja kemudian.


Sakti menatap wajah Raja Arezz dengan tatapan iba, dia tahu betul bahwa rajanya tersebut sangat mencintai Evina yang sekarang sudah menjadi Ratu dan istri dari adiknya sendiri.


''Aku akan mencari cara, agar Evina, maksud saya, agar Ratu Evina bisa keluar untuk menemuimu, kebetulan sekarang Flora bekerja di sana sebagai pengasuh bayinya,'' jawab Sakti.


''Aku tunggu sesegera mungkin, mudah mudahan wanita itu dapat mengembalikan sedikit ingatan ku.''


''Apabila ingatanmu sudah kembali, tentu saja, kita bisa menyelidiki kenapa kau bisa sampai terluka dan jatuh dari atas tebing. Apakah itu benar-benar perbuatan dari penduduk di sana? penduduk yang menyekap mu sudah ditangkap dan diinterogasi di istana, dan kata mereka sepertinya mereka tidak pernah melakukan hal tersebut kepada mu,'' ucap Sakti merasa curiga.


''Benarkah? sepertinya aku harus benar-benar menyelidiki semua ini,'' ucap Raja kembali termenung.


''Apa mungkin ini perbuatan dari Raja Brendan? selama ini dia sangat membencimu, karena raja Arthur lebih memilih mu sebagai penggantinya dibandingkan dia, dan hal itu membuat dia melakukan segala macam cara agar bisa duduk di singgasana, termasuk mengambil Evina darimu.'' ucap Sakti menunduk


Di merasa sedih sedih apabila mengingat perjalanan Cinta sang raja bersama Evina yang harus berakhir menyedihkan.


Raja meraba dada kirinya. Entah kenapa jantungnya berdetak dengan begitu sangat kencang, seolah ada rasa sakit yang sedang menjalar ke seluruh tubuhnya, saat mendengar Sakti mengucap nama Evina.


''Aku minta padaMu untuk sesegera mungkin membawa Evina ke sini, aku sangat ingin bertemu dengan dia, tapi hati-hati, jangan sampai Raja Brendan tahu,'' ucap Raja masih dengan memegang dada kirinya.


''Baik yang mulai, saya akan menuruti perintah mu, apabila tidak ada halangan, saya akan segera membawa Ratu Evina. Jika tidak ada lagi yang harus di bicarakan, saya permisi, saya harus segera kembali ke istana.''


''Baiklah, aku tunggu kabar dari mu secepatnya.''

__ADS_1


Sakti pun membungkuk dengan begitu dalam, sebelum ia mulai berbalik dan akhirnya berjalan keluar dari dalam rumah.


_______------_______


Hari ini Ratu Evina sudah diperbolehkan pulang, begitu pun dengan bayi Adam, seluruh pelayan tampak berbaris di pintu masuk istana menanti kedatangan bayi Adam yang konon katanya memiliki wajah yang sangat tampan.


Seluruh pelayan membungkuk dengan sangat dalam, saat Ratu dan juga Raja berjalan memasuki istana, hal itu di lakukan untuk memberi penghormatan kepada Putra Raja yang kelak akan menjadi putra mahkota.


''Selamat datang ke istana bayi Adam,'' ucap seluruh pelayan secara bersamaan.


''Terima kasih semuanya,'' jawab sang Ratu dengan berjalan menggendong putra kesayangannya, sementara Flora berjalan di belakang sang Ratu.


Wajah Flora terlihat sangat polos, mata nya berkeliling melihat seisi istana yang terlihat megah dan juga mewah, bibirnya pun tersenyum tipis sembari melihat satu persatu pelayan istana yang berjejer rapi di kiri dan kanan nya.


Permaisuri, Putri Elisa dan juga pangeran Brian pun, tampak sudah menunggu mereka di ujung barisan para pelayan. Ketiganya memasang wajah senang menyambut kedatangan Raja bersama keluarga kecilnya.


Putri menghampiri Ratu Evina dan menatap wajah Bayi yang di gendongnya.


''Ya ampun nak, kamu tampan sekali, keponakan ku tersayang,'' ucapnya lagi sambil mengelus pipi mungil sang bayi.


''Bukankah dia sangat tampan? siapa lagi ayahnya?'' jawab Raja dengan wajah yang sedikit di angkat dan senyum yang terlihat sangat bahagia.


''Apa kamu sudah yakin, bahwa kamu benar-benar ayahnya?'' celetuk permaisuri Emilia merusak keadaan.


''IBU...'' ucap putri dan pangeran Brian secara bersamaan, memasang wajah kesal dengan tatapan tajam yang mengarah ke arah Permaisuri Emillia.


Sang permaisuri hanya melengos dengan mata yang di naikan ke atas dan memasang wajah judesnya.


Ratu Evina menunduk dengan wajah muram, mendengar perkataan Sang Permaisuri yang terasa menusuk hatinya. Pangeran Brian menghampiri Sang Ratu lalu mengucapkan selamat kepadanya.

__ADS_1


''Selamat ya kak, sekarang kalian berdua telah menjadi orang tua, semoga Bayi Adam mejadi anak yang Sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuannya,'' ucap sang pangeran dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


''Terima kasih, putri dan juga pangeran telah menyambut kami di sini,'' ucap Ratu berterima kasih.


''Sudah... sudah... acara penyambutannya sampai di sini saja, kasian putra ku ingin segera meminum ASI,'' ujar Raja, lalu memapah istri serta putra kesayangannya untuk naik ke lantai tiga di mana kamarnya berada.


Sang Ratu, Raja dan juga Flora segera naik ke lantai tiga, untuk beristirahat.


Bayi Adam di beri kamar khusus, yang terpisah dengan kamar sang Ratu dan juga Raja, meski apabila malam hari sang bayi tetap tidur bersama kedua orangtuanya.


______-----______


Keesokan harinya.


Flora sedang menjaga bayi Adam di kamar, karena sang Ratu sedang beristirahat di kamarnya sehingga dirinya hanya sendirian saja berada di sana.


''Ya ampun nak, matamu sungguh indah,'' ucap Flora, menggendong bayi di pangkuannya.


Bayi yang masih merah itu tampak tersenyum di pangkuan Flora, seolah merasa nyaman ketika tangan gadis manis itu mengusap punggung sang bayi dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Tak lama kemudian tiba-tiba pangeran Brian membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, dia hendak mengajak bermain bayi Adam ataupun sekedar menggendongnya.


Namun saat dia baru saja membuka pintu dan hendak melangkah, kakinya berhenti seketika, melihat Flora yang berdiri tak jauh darinya di dalam kamar sambil menggendong keponakannya dengan bersenandung pelan.


Sang pangeran nampak terpesona dan terpana, oleh kecantikan Flora dan ketulusan yang terpancar dari wajah sang gadis, yang terlihat menatap bayi Adam dengan tatapan sayu dan penuh kasih sayang.


Pangeran pun tanpa sadar tersenyum dan terus menatap wajah cantik gadis itu, seolah telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada gadis berambut ikal yang bernama Flora.


______________----------______________

__ADS_1


__ADS_2