
Pangeran tersenyum sesaat setelah melepaskan ciuman nya di bibir manis Evina, dirinya mengusap bibir mungil Evina yang terlihat sedikit basah dengan jemarinya.
Evina pun tersenyum memandang wajah tampan sang pangeran, ternyata dirinya sama sekali sudah tidak bisa lagi menahan gejolak kerinduan yang terasa telah membuncah dan menjalar di seluruh tubuhnya, sehingga dia dengan begitu saja menerima dan membiarkan bibir Pangeran menyentuh bibirnya dan ********** dengan sangat agresif.
Evina bahkan hanya membiarkan ketika tangan pangeran menyentuh dan mengusap bagian tubuhnya ketika mereka berciuman tadi.
Kini mereka berdua saling melayangkan tatapan mesra, dalam posisi saling menyandarkan tubuh mereka di kursi yang mereka duduki saat ini seraya melayangkan senyuman manis dari bibir mereka masing masing.
Lalu Pangeran kembali mengecup tipis bibir mungil Evina.
''Bisakah kamu bersabar sedikit lagi, jika kamu tak ingin meninggalkan istana ini, maka kamu harus menunggu ku naik tahta agar aku bisa benar-benar melindungimu,'' ujar pangeran Arezz dengan suara lembut.
Evina mengangguk lalu tersenyum, lalu ia memeluk tubuh sang pangeran dengan sangat erat, mulai saat ini dirinya tidak akan lagi bersikap munafik di hadapan pria yang di cintai nya ini.
''Aku mencintaimu...'' ucap Evina secara tiba tiba.
Pangeran tersenyum senang mendengar ucapan Evina yang selama ini sangat ingin ia dengar dari bibir wanita yang di cintai nya ini.
''Begitupun dengan ku, aku juga sangat mencintaimu, bahkan rasa cintaku padamu mungkin lebih besar dari lautan, dan lebih luas dari daratan,'' jawab pangeran Arezz.
Lalu mereka kembali membenamkan bibir mereka seperti sebelumnya, namun kali ini lebih dalam dan lebih menggelora hingga tangan pangeran Arezz menyentuh setiap bagian sensitif tubuh Evina, dan membuat wanita itu sedikit mendesah dan mengeratkan pelukannya di tubuh laki laki yang di cintai nya.
Setelah saling meluapkan kerinduan masing masing dengan saling berciuman dan bercengkrama dengan begitu mesra, akhirnya Evina pun pamit hendak kembali ke tempat nya bekerja.
''Apakah kamu masih harus bekerja seperti ini, aku tak tega harus melihatmu kelelahan mengerjakan pekerjaan dapur yang terlihat seperti tidak ada habisnya,'' ucap pangeran seperti tak rela di tinggal oleh wanita yang di cintai nya.
''Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan berat, apa kamu lupa dulu Aku bahkan melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam satu hari,'' jawab Evina dengan rasa percaya diri.
Pangeran pun tersenyum, tangannya tampak merapikan rambut Elvina yang sedikit tidak beraturan.
''Rasanya aku ingin segera menjadikanmu pendampingku, agar dirimu tak perlu lagi bekerja seperti ini.''
Evina hanya tersenyum mendengar ucapan pangeran.
Lalu ia berdiri dan merapihkan pakaian yang di kenakan nya, dan ia pun benar benar berpamitan kemudian keluar dari kamar pangeran Arezz dengan sebelumnya membungkuk terlebih dahulu kepada nya.
__ADS_1
Pangeran Arezz pun tampak mengantarkan wanita pujaan hatinya tersebut sampai di depan pintu, yang sudah ada Sakti di sana menjaga pintu agar tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke dalam kamar.
''Tolong antar Evina sampai ke tempat kerjanya, aku tak mau jika Adikku kembali mengganggunya,'' ujar sang pangeran.
''Baik pangeran.''
Sakti dan Evina berjalan beriringan, entah mengapa setiap pelayan istana yang melihat mereka berdua, tampak melayangkan tatapan aneh kepada Evina, apa mungkin karena kejadian yang menimpanya tadi, sehingga kabar pun dengan cepat menyebar dan menimbulkan rumor yang tidak baik tentang dirinya, batin Evina berucap.
''Mengapa semua orang menatapku dengan tatapan aneh,'' ujar Evina kepada Sakti.
''Sudah abaikan saja, mungkin mereka semua iri karena kau di perebutkan oleh dua orang pangeran sekaligus,'' jawab Sakti.
''Bisa saja kamu, aku sendiri merasa tidak nyaman dengan tatapan seperti itu dari mereka,'' jawab Evina dengan masih dalam keadaan berjalan.
Sakti hanya tersenyum tipis.
Akhirnya mereka pun sampai, Sakti segera pergi dari sana setelah Evina memasuki dapur istana, namun sebelumnya Evina pun mengucapkan ucapan terima kasih terlebih dahulu kepadanya.
Evina memasuki dapur istana, semua pelayan yang berada di sana tampak sedang berbisik satu sama lain sambil terus melayangkan tatapan sinis kepadanya.
Evina hanya terdiam mendengar ucapan pelayan tersebut, lalu dirinya berjalan menuju tempat cuci piring dan hendak mencuci semua piring kotor yang berada di sana.
Namun saat dirinya sedang melangkah, tiba tiba saja kaki salah satu dari pelayan menyandung kakinya, hingga dirinya pun jatuh tersungkur ke atas lantai.
''Aaawww''
Evina mengerang kesakitan, pergelangan tangan yang tadi di balut oleh perban, kini menyentuh lantai dengan keras sehingga membuat luka nya tersebut menjadi terasa sangat sakit.
Dia kembali berdiri tanpa menghiraukan perbuatan dari rekannya tersebut, dirinya hanya ingin fokus dalam bekerja, dan tidak ingin mencampur adukan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.
Evina pun meraih satu persatu piring kotor di hadapan nya, dirinya mencoba untuk tetap mengerjakan tugasnya, meski sebenarnya pergelangan tangannya terasa sangat sakit.
Akhirnya ia pun sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit itu, dan piring yang sedang di genggam nya pun jatuh ke atas lantai dan pecah berhamburan sehingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.
Prangg....
__ADS_1
Piring pun terjatuh, semua pelayan yang ada di sana menyaksikan hal tersebut, dan melayangkan tatapan sinis kepadanya.
Kepala pelayan yang kebetulan melintas di sana, menyaksikan kejadian tersebut dan langsung menghampiri Evina.
''Kalau sudah tidak ingin bekerja lagi di sini, saya akan mengirim mu pulang,'' ujar nya dengan intonasi tegas.
''Saya mohon maaf, saya benar benar tidak sengaja,'' jawab Evina sambil meraih satu persatu pecahan piring yang berhamburan di atas lantai.
''Cepat bersihkan semuanya, jika hal ini sampai terulang kembali maka saya tidak akan segan segan memecat kamu.''
''Baik kepala pelayan, saya akan segera membersihkannya, sekali lagi saya mohon maaf dan jangan pecat saya, karena saya masih membutuhkan pekerjaan ini,'' jawab Evina, tangan nya tampak masih meraih satu persatu pecahan piring.
''Jika memang begitu makanya kerja yang becus,'' jawab kepala pelayan dengan tatapan sinis.
Lalu kepala pelayan pergi meninggalkan Evina, dan pelayan lain yang menyaksikan kejadian tersebut tampak hanya berdiri tanpa membantu nya sama sekali.
Saat dirinya sedang meraih satu persatu pecahan piring, tiba tiba saja tangannya mengenai serpihan piring yang tajam dan membuat tangannya terluka hingga mengeluarkan darah segar.
Namun lagi lagi semua orang yang berada di sana tidak memperdulikan dirinya sama sekali dan masih sibuk dengan pekerjaan masing masing.
***
Malam hari Evina sudah bersiap untuk beristirahat, dirinya baru saja selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan pakaian sehari hari, rambutnya pun tampak di gerai memenuhi punggungnya dan terlihat basah.
Saat ia akan memasuki kamar tempat nya biasa beristirahat, tiba tiba saja ada seorang pelayan yang menghampiri nya dan memintanya keluar.
''Siapa yang mencari ku malam malam begini?'' tanya Evina.
Lalu pelayan tersebut tampak berbisik di telinga Evina dan mengucapkan sesuatu, yang membuat Evina tersenyum senang mendengar nya.
Dengan perasaan gembira Evina pun berlari keluaran hendak menemui orang tersebut, namun saat dirinya sampai di sana ternyata orang yang mencari nya bukanlah orang yang ia harapkan berada di sana.
*****
__ADS_1