
Suara riuh terdengar dari luar cafe,para penduduk setempat sudah berjejer rapi di pinggir jalan untuk menyambut kedatangan raja mereka.
Arezz dan Sakti memperhatikan dari balik jendela, mereka berdua melihat para pengawal sudah berjejer rapi di sepanjang jalan untuk memberikan penjagaan yang ketat agar Raja bisa melintas dengan aman.
Ada lebih dari 20 orang pengawal kerajaan yang sedang berada di sana, semua nya terlihat mengenakan setelan jas berwarna hitam lengkap dengan kaca mata dengan warna yang sama.
Di pinggang mereka masing masing terdapat satu pucuk pistol yang biasa nya akan di gunakan apabila terjadi situasi darurat yang mungkin saja membahayakan keselamatan sang Raja.
Arezz menarik tangan Sakti.
''Bagaimana ini?'' ujar Arezz berbisik di telinga Sakti.
''Kita keluar saja dari pintu belakang,'' jawab Sakti.
Lalu mereka berdua mengendap endap berjalan ke arah pintu belakang, yang memang pintu tersebut merupakan pintu khusus yang hanya bisa di masuki oleh karyawan bekerja di sana.
Evina melihat mereka berdua keluar dengan gelagat yang mencurigakan, karena dirinya penasaran Evina pun mengikuti mereka berdua.
''Mereka mau kemana? kerjaan sedang banyak banyak nya malah keluar,'' ujar Evina, yang kemudian dirinya hendak mengejar mereka berdua.
Saat Evina hendak keluar, dirinya memperhatikan Arezz dan Sakti sedang berjalan pelan sambil sesekali menengok ke arah kanan kiri mereka, membuat Evina semakin curiga dengan tingkah keduanya.
Tanpa ragu lagi Evina berjalan berjalan menghampiri mereka dan memanggil namanya.
''Arezz... Sakti... Kalian mau kemana?'' panggil Evina dengan suara yang sangat keras.
Sontak Arezz dan Sakti terkejut mendengar namanya di panggil dengan begitu kerasnya, dan tentu saja hal itu membuat salah satu pengawal yang sedang berdiri tak jauh dari tempat itu mendengar suara Evina.
''Arezz...?'' gumam salah satu pengawal.
Lalu pengawal tersebut berjalan mencari arah dimana suara itu terdengar, dirinya sangat yakin jika tadi ada suara perempuan yang memanggil nama Pangeran yang selama ini sedang di cari keberadaanya oleh Raja.
Arezz berjalan cepat ke arah Evina dan menarik tangan nya lalu berlari yang di ikuti oleh Sakti di belakangnya.
Evina sungguh kaget, mendapati pergelangan tangannya sudah di genggam erat oleh Arezz, dan bahkan mereka sekarang berlari seolah sedang di kejar
Mereka bertiga berlari menyusuri gang sempit, Evina hanya pasrah mengikuti ke manapun Arezz membawanya, kakinya ikut berlari meski dirinya tidak tahu apa yang sebenarnya yang terjadi.
Lalu mereka tiba di sebuah Bangunan Tua dengan cat usang, dan seperti nya Bangunan tersebut sudah lama di tinggal oleh penghuninya.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam bangunan tersebut.
__ADS_1
Suasana tampak gelap saat pertama kali mereka menginjakan kaki di dalam bangunan. Evina menggenggam erat pergelangan tangan Arezz, sejujurnya dirinya kurang merasa nyaman jika berada di ruangan gelap.
Lalu mereka bertiga masuk lebih dalam lagi, suasana terasa sangat mencekam tatkala mereka mulai memasuki ruangan yang sangat luas dengan dinding di penuhi debu dan lantai yang sangat kotor.
''Kita keluar saja yu, perasaan aku sudah tidak enak,'' ujar Evina yang makin mempererat pegangan tangan nya.
''Apa kamu takut?'' tanya Arezz, wajah nya menoleh ke arah Evina, hingga akhirnya nya pandangan mereka pun beradu.
Evina tampak merasa gugup karena wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Arezz, lalu dirinya memalingkan wajah ke arah samping.
Tanpa di sangka Evina melihat tepat bawah kakinya ada seekor tikus yang berukuran sebesar kepalan tangan manusia sedang mengendus kakinya, yang sontak langsung membuatnya berteriak dan meloncat hingga membuat Arezz refleks menangkap tubuh dirinya dengan kedua tangan nya.
Evina masih terlihat ketakutan, dirinya tanpa sadar sudah berada di pangkuan Arezz, dengan kedua tangan yang ia lingkarkan di lehernya.
''Ada apa,?'' tanya Sakti dengan sedikit terkejut.
Evina menunjuk satu jarinya ke arah bawah dimana tikus itu berada.
''Ti..tikus besar di sana,'' ujar Evina.
Sementara itu Arezz tampak hanya terdiam, menyaksikan gadis yang berada di pangkuannya dalam keadaan gemetar.
Sakti melihat ke arah yang tunjuk oleh Evina, dirinya memang melihat tikus besar yang sedang menatap mereka bertiga.
Lalu Sakti menyingkirkan tikus tersebut dengan kakinya.
''Sudah tidak ad Ev...'' ucap Sakti.
Evina tampak melepaskan lingkaran tangan nya dari leher Arezz, dirinya baru tersadar jika tubuhnya sudah berada di pangkuan Arezz, lalu dirinya mencoba untuk turun, namun tangan Areez melingkar dengan kuat hingga dirinya tidak bisa melepaskan diri dari dekapan nya.
''Sudah tak usah turun, di bawah banyak tikus lho,'' ujar Arezz dengan sedikit bercanda.
''Saya mau turun.''
''Nanti kalau ada tikus lagi bagaimana?''
Wajah Arezz tampak tersenyum nakal.
''Lepasin...'' Evina sedikit membelalakan matanya.
Akhirnya Arezz menurunkan Evina dengan sangat hati hati, hingga Evina kembali berdiri.
__ADS_1
''Kita balik ke cafe lagi ya, Bos pasti sudah mencari kita, karena kita bertiga tidak ada di sana, apa lagi keadaan cafe sedang banyak pengunjung, beliau pasti marah besar,'' ujar Evina.
Sakti dan Arezz saling beradu pandang.
Evina tampak membalikan badan hendak melangkah, namun dirinya mengurungkan niat nya saat melihat dua orang dengan berpakaian jas hitam sedang berjalan ke arah tempat mereka bersembunyi.
Evina menarik tangan Arez dan Sakti dengan kedua tangannya lalu masuk ke dalam kamar kosong, yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Mereka bertiga bersembunyi di dalam sana.
''Kamu yakin melihat mereka lari ke arah sini?'' tanya salah satu pengawal.
''Saya yakin, tadi saya mendengar suara seseorang memanggil nama Pangeran, saat saya hendak mencari sumber suara tersebut, saya melihat tiga orang berlari, dan seperti nya salah satu dari mereka adalah pangeran yang sedang kita cari.''
Ucap salah satu pengawal.
''Tapi mereka lari kemana? rasanya tidak mungkin jika mereka bersembunyi di rumah kosong ini, lihat saja Bangunan nya terlihat sangat menyeramkan, bulu kuduk saya saja sampai berdiri.''
Pengawal lainya menjawab dengan melihat ke sekitar dengan agak ketakutan.
Dan tak lama kemudian mereka berdua pergi meninggalkan tempat tersebut.
Evina, Arezz serta Sakti merasa lega akhirnya kedua orang tersebut pergi dari tempat itu.
Lalu Evina terlihat berdiri tegak dengan tangan di simpan di kedua pinggang nya.
''Sebenarnya kalian berdua siapa? mengapa para pengawal kerajaan mengejar kalian? Jangan jangan kalian sebenar nya adalah---''
Belum sempat Evina melanjutkan ucapannya tiba tiba dirinya melihat bayangan putih yang melintas di belakang Arezz dan juga Sakti.
Sontak Evina langsung menghentikan ucapanya dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
''Ada apa?'' tanya Sakti.
Dirinya merasa heran melihat ekspresi wajah Evina yang semula tegas kini terlihat ketakutan.
''Ha...hantu... di belakang kalian,'' jawab Evina dengan tergagap gagap.
Lalu mereka berdua menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Evina. Kemudian Arezz dan Sakti berteriak kencang, karena mereka benar benar melihat sosok wanita berbaju putih, serta berambut panjang berantakan, dengan mata merah menyala sedang menatap mereka bertiga.
*****
__ADS_1