KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Jawaban yang di harapkan


__ADS_3

Sudah tiga hari Arezz sakit demam, dan selama itu pula Evina selalu berada di sampingnya untuk merawatnya.


Arezz sudah meminta izin kepada Bos Alberto agar dirinya, Sakti serta Evina bisa absen bekerja.


Siang ini Evina tampak mengunjungi Arezz di kediamannya hendak melihat kondisi dirinya.


''Bagaimana keadaanmu?'' tanya Evina.


''Aku sudah baik baik saja, berkat kamu yang selalu merawat ku dengan tulus,'' jawab Arezz dengan memandang lekat wajah Evina yang kini duduk di sampingnya.


''Syukurlah...'' jawab Evina singkat.


''Berarti mulai sekarang aku tidak usah merawatmu lagi,'' tambahnya lagi.


''Apa aku sudah bisa menagih janjimu untuk meminta jawaban atas perasaanku,'' ucap Arezz masih dalam keadaan memandang wajah cantik Evina.


Evina terdiam, dirinya memang sudah berjanji akan memberikan jawaban atas pernyataan cinta Arezz beberapa hari yang lalu.


''Nanti jika kamu sudah benar-benar sembuh, baru aku akan memberikan jawaban nya,'' jawab Evina memberi alasan.


''Sekarang aku sudah benar-benar sembuh kok,'' Arezz berdiri dan berjalan di tempat memperlihatkan kepada Evina jika tubuhnya sudah benar-benar sehat.


Evina tersenyum geli melihat tingkah lucu Arezz, dirinya meraih tangan Arezz dan meminta nya untuk berhenti, karena jika arezz melakukan hal tersebut maka tubuhnya akan kembali sakit.


Akhirnya Arezz pun berhenti, sekarang dirinya berdiri tepat berhadapan dengan Evina.


Evina nampak salah tingkah dan sedikit gugup saat Arezz berdiri sangat dekat dengan dirinya.


''Jangan membuatku menunggu terlalu lama Ev, aku bersungguh sungguh dengan perasaan ku,'' ucap Arezz dengan memasang wajah serius.


''Serius kamu ingin mendengar jawabannya sekarang?'' tanya Evina mencoba mengulur waktu.


Arezz mengangguk.


Kemudian Evina maju satu langkah ke hadapan Arezz, kakinya tampak berjinjit lalu wajahnya pun di dekatkan ke wajah Arezz dan kemudian...


Cuuup....


Evina mengecup pelan bibir Arezz.


''Ini jawabanku,'' ucapnya lalu langsung berlari meninggalkan Arezz yang hanya berdiri mematung.


Wajah Arezz tampak memerah, tangannya meraba bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir mungil Evina.


Selama lebih dari 10 menit Arezz berdiri dengan pandangan kosong, sampai pada akhirnya Sakti menghampirinya lalu membuyarkan lamunannya.


''Pangeran, kamu kenapa?'' Sakti menggoyangkan tubuhnya.


''Haaah... Apa...'' Arezz sedikit Ter gagap.


''Apa kamu baik baik saja? mengapa wajahmu terlihat merah merona?'' Sakti kembali bertanya.


Kemudian Arezz meraba wajah dengan kedua tangannya dan berkata bahwa dia baik baik saja.

__ADS_1


Lalu Arezz membaringkan tubuhnya di atas kasur, sambil terus meraba wajah serta bibirnya, dirinya berusaha mengontrol detak jantungnya yang sempat tak beraturan.


''Yakin kamu baik-baik saja?''


Arezz hanya mengangguk.


Sebenarnya ia ingin menanyakan kepada Sakti prihal apa yang baru saja di alaminya, tentang jawaban Evina yang hanya memberikan kecupan kecil di bibirnya.


Namun dirinya terlalu malu untuk menanyakan hal tersebut, dirinya tak ingin ditertawakan kembai oleh Sakti seperti waktu itu.


''Pangeran, seperti nya saya akan menyusuri jalanan, untuk mencari selebaran yang mungkin saja masih ada yang belum sempat dilepaskan,'' ujar Sakti.


''Baiklah, aku serahkan urusan ini padamu,'' jawab Arezz.


Kemudian Sakti pergi meninggalkan Arezz, tak lupa dirinya pun menggunakan topi serta masker agar tidak ada yang bisa mengenalinya.


***


Evina tampak sedang duduk termenung, dirinya mengingat kembali kejadian saat dengan beraninya ia mengecup bibir Arezz.


Mengapa ia melakukan hal itu? sungguh kejadian tadi sangat di luar dugaannya, karena dirinya sama sekali tidak berniat untuk melakukan hal tersebut.


Dasar bodoh


Evina mengumpat diri sendiri, lalu dirinya memeluk kedua lutut dan menundukkan kepala nya di atas lututnya.


Sampai akhirnya suara ketukan membuyarkan lamunannya.


Evina mendengar Tiga kali ketukan di pintu, lalu ia pun bangkit dan berjalan menuju pintu dan membukanya.


''Arezz...'' ucap Evina.


''Hai...'' Arezz hanya melambaikan tangan dengan tersenyum kikuk.


''Ada apa kemari?'' tanya Evina yang sama di kikuknya dengan Arezz.


''Boleh Aku masuk dulu?'' pinta Arezz karena dirinya masih berdiri di depan pintu.


''Oh ia silahkan masuk.''


Lalu mereka berdua duduk berdampingan dengan hanya beralaskan karpet tebal berwarna merah.


Selama sekitar 10 menit mereka berdua hanya terdiam tanpa mengatakan apapun. Sampai akhirnya Evina memecah keheningan dengan memulai percakapan terlebih dahulu.


''Aku minta maaf karena telah mengejutkan mu tadi,'' ucap Evina.


''Tidak apa apa, meskipun aku sungguh terkejut dan sama sekali tidak mengerti dengan arti dari jawaban yang kamu berikan tadi,'' jawab Arezz dengan sedikit malu malu.


''Kamu tidak mengerti?'' tanya Evina.


Arezz mengangguk.


Evina tertawa kecil.

__ADS_1


''Memangnya kamu tidak pernah berpacaran?''


Arezz menggelengkan kepalanya.


Evina kembali tertawa.


''Aku tak percaya laki laki seperti kamu tidak pernah berpacaran sama sekali,'' ujar Evina dengan masih dalam keadaan menahan tawa.


''Sungguh, aku sama sekali belum pernah berpacaran, kamu wanita kedua yang aku cintai setelah ibuku,'' jawab Arezz.


Evina termenung mendengar ucapan Arezz, apa lagi ketika Arezz menyebut kata ibu, yang sontak membuatnya membayangkan sosok ibu nya yang sudah tiada dari semenjak dirinya masih kecil.


Bahkan wajah sang ibu sudah sedikit memudar di memori otaknya, karena dirinya tidak menyimpan satu pun potret atau pun kenang kenangan lainya dari sang ibu.


Arezz tampak heran melihat wajah Evina yang terlihat sedikit murung.


''Kamu kenapa? apa ada ucapan ku yang menyinggung perasaanmu?''


Evina menggeleng dan menatap kembali wajah Arezz di hadapannya.


''Sejujurnya aku pun menyukaimu, entah dari kapan perasaan ini ada, aku juga tidak mengerti,'' ucap Evina.


Arezz tersenyum senang, apakah itu berarti wanita yang berada di hadapannya ini telah menerima perasaanya.


''Berarti kamu menerima aku?'' ucap Arezz dengan polosnya.


Evina mengangguk lalu tersenyum.


Arezz meraih tubuh Evina dan memeluk nya, bibirnya tak berhenti tersenyum karena gembira, akhirnya dirinya mendapat kan jawaban yang sesuai dengan harapannya.


Sampai akhirnya kedatangan Sakti membuat mereka berdua harus melepaskan pelukan masing masing.


''Arezz... ada sesuatu yang harus aku katakan,'' ucap Sakti dengan sedikit ter engah engah seperti habis berlari.


Arezz menghampiri Sakti dengan perasan heran.


Sakti tampak berbisik di telinga Arezz membuat Arezz membelalakan matanya saat Sakti sudah selesai dengan ucapanya, yang sama sekali tidak terdengar oleh Evina.


''Ada apa?'' tanya Evina.


Belum sempat Keduanya menjawab, tiba tiba para pengawal kerajaan terlihat berjalan menghampiri mereka bertiga, di antaranya ada Sebastian yang merupakan pengawal pribadi sekaligus pengawal yang paling di percaya oleh Baginda Raja.


Evina sangat terkejut melihat ada lebih dari 10 orang pengawal yang semuanya sedang berjalan ke arahnya.


''Silahkan ikut saya ke istana,'' ucap Sebastian kepada Arezz dengan sebelumnya membungkuk terlebih dahulu kepadanya.


''Saya tidak mau,'' jawab Arezz tegas.


Sementara Sakti sudah berdiri dengan kuda kuda nya, dirinya bersiap untuk melindungi pangeran apabila para pengawal yang menggunakan kekerasan untuk membawa pangeran kembali ke istana.


Evina hanya berdiri mematung, dirinya sungguh diliputi berbagai pertanyaan di dalam otak kecilnya, tentang apa yang sebenarnya terjadi di hadapannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2