
Setelah Pangeran Arezz serta Sakti masuk ke dalam mobil, putri Elsa kembali menatap buku novel yang sedang di pegang nya.
Saat sang putri sedang larut dengan novel yang di bacanya, terdengar suara pintu di ketuk, Baginda Raja pun masuk ke dalam kamar putri bungsu kesayangan nya.
''Ada apa ayahanda kemari? tidak biasanya ayah mengunjungi ku di jam sibuk seperti ini?'' ucap putri Elisa
''Sekarang ayah sudah tidak terlalu sibuk, karena sebagian tugas saya sudah diambil alih oleh kakakmu Pangeran Arezz.''
''Benarkah?''
Raja menganggukan kepala.
''Ayah datang kemari karena ayah merindukanmu, rasanya sudah lama sekali kita tidak ngobrol berdua,'' ujar Raja sambil memandang wajah putri kesayangannya.
''Aku juga merindukanmu Ayahanda,'' jawab putri lalu memeluk ayahandanya.
''Ayah akan sangat senang jika kamu segera mendapatkan pendamping hidup, dengan begitu ayah tidak akan khawatir jika suatu saat nanti meninggalkanmu.''
''Mengapa ayah berbicara seperti itu? seolah olah akan benar-benar meninggalkan aku,'' putri terlihat sedih.
Baginda Raja hanya tersenyum.
''Lagi pula aku masih terlalu muda untuk menikah, umurku pun baru 18 tahun, aku ingin menikmati masa mudaku terlebih dahulu,'' ujar sang putri.
''Ayah hanya ingin melihat semua putra-putri ayah menikah sebelum Ayah pergi.''
''Ayahanda kenapa? apa ayah sakit? mengapa dari tadi selalu mengucapkan kata pergi?'' wajah Putri Elisa terlihat cemas,lalu dirinya memandang lekat wajah sang Ayah.
''Ayah tidak apa-apa ya baik-baik saja, wajar jika seorang ayah yang sudah tua memikirkan kebahagiaan putrinya.''
''Ayah yakin ayah baik baik saja, wajah ayah terlihat lebih pucat dari biasanya.''
Baginda Raja tersenyum tipis, tidak ada yang mengetahui penyakit yang sedang di derita oleh dirinya kecuali pangeran Arezz dan pengawal pribadinya Sebastian.
''Kamu pikirkan baik baik ucapan ayah tadi, jika kamu sudah memiliki tambatan hati, ayah berharap kamu segera mengenalkannya kepada ayah, namun jika belum, ayah akan mencarikan pasangan yang cocok untukmu,'' ujar sang ayah lalu dirinya pergi meninggalkan Putri kesayangannya.
Putri Elisa hanya termenung memandangi punggung ayahanda yang keluar dari dalam kamarnya. Hatinya diliputi berbagai macam pertanyaan, mengapa ayahandanya ingin segera melihat putra putrinya menikah.
__ADS_1
Apakah ayahanda sedang dalam keadaan sakit dan sebentar lagi akan meninggal dunia? tiba-tiba saja pikiran seperti itu melintas di dalam otaknya, namun dengan segera dia menyingkirkan perasaan itu karena ia sama sekali belum siap jika harus di tinggalkan oleh Baginda Raja.
***
Malam hari Evina nampak sedang bersiap untuk menyelesaikan pekerjaannya di dapur istana, setelah para anggota keluarga kerajaan menyelesaikan makan malamnya.
Dirinya sedang mencuci tangan dan hendak beristirahat sampai akhirnya satu pelayan menghampirinya.
''Evina... Pangeran Brendan memintamu untuk mengantarkan whisky ke kamarnya.''
''Benarkah? tapi kenapa harus aku?'' ucapnya heran.
''Entahlah... tapi pangeran menegaskan jika harus kamu yang mengantarkan minuman itu ke kamar nya.''
''Baiklah jika begitu, aku akan segera mengantarkannya sekarang,'' jawab Evina lalu dirinya mengambil satu botol whisky dari lemari khusus dan menempatkannya di nampan lalu pergi mengantarkannya ke kamar pangeran Brendan.
Sebenarnya dirinya merasa tidak nyaman jika malam-malam begini harus memasuki kamar laki-laki, apalagi mengantarkan sebotol minuman yang notabenenya minuman tersebut sangat memabukkan apabila di minum.
Namun apalah daya, sebagai seorang pelayan rendahan, dirinya tidak dapat menolak perintah dari seorang pangeran.
Dan Akhirnya ia pun sampai di kamar itu, kamar yang terletak di ujung lorong lantai tiga.
Evina berdiri di depan pintu, pintu besar dengan gagang pintunya yang terbuat dari emas, dan ukiran indah terlihat terukir di depan pintu.
Tok tok tok
Evina mengetuk pintu tiga kali, lalu terdengar suara Pangeran Brendan menyuruhnya segera masuk.
Evina masuk ke dalam kamar dengan perasaan cemas, entah mengapa perasaannya sudah mulai tidak enak sejak pertama kali kakinya memasuki kamar tersebut.
Matanya berkeliling melihat seisi kamar, kamar mewah dan megah layaknya kamar seorang pangeran, dengan ranjang besar dengan ukiran burung Phoenix di tiap sisi ranjangnya.
''Pangeran...'' Evina memanggil pangeran yang terlihat tidak berada di kamarnya.
Ia mencoba memanggilnya lagi, sampai akhirnya pangeran Brendan dari kamar mandi dengan hanya mengenakan kimono berbahan handuk dengan tali yang tak di ikat, sehingga mengekspos dada sixpack nya.
Evina tampak tidak nyaman melihat pangeran Brendan dalam keadaan seperti itu, dia hendak berbalik dan pergi setelah meletakan botol whisky di atas meja.
__ADS_1
Namun Pangeran Brendan mendekat ke arahnya, dan mencegahnya untuk pergi.
''Kamu mau ke mana? bisakah kamu temani saya minum malam ini,'' ujar pangeran dengan tatapan licik dan mata yang memandang ke arah wajah hingga tubuh Evina dengan tatapan menggoda.
''Mohon maaf Pangeran, tapi tugas saya di sini hanya mengantarkan minuman ini bukan untuk menemani pangeran,'' jawab Evina dengan sedikit terbata-bata dan rasa takut di dalam hatinya.
''Kamu itu hanya seorang pelayan istana, tugasmu adalah mematuhi perintah, apapun perintahku kamu harus patuhi, jika aku memintamu menemani ku minum maka tidak ada alasan untukmu menolaknya, mengerti.''
Ujar pangeran Brendan dengan memutari tubuh Evin dan memainkan rambutnya lalu meletakan tangannya di pipi tirus Evina, sehingga membuat Evina memejamkan mata.
''Ba...baik Pangeran...'' Evin menjawab dengan terbata bata.
''Bagus itu baru pelayan yang setia,'' pangeran tertawa licik.
Lalu Pangeran duduk di kursi mewah berwarna hitam, dan meminta Evina untuk duduk di sampingnya, namun Evina menolak dan lebih memilih duduk di lantai.
Ia menuangkan botol whisky ke dalam gelas kosong yang sudah berada di atas meja, lalu memberikannya ke pangeran Brendan.
Pangeran menerima gelas tersebut dengan tangannya dan dengan sengaja menyentuh jemari Evina, membuat Evina langsung menarik tangannya sehingga gelas yang berisi whisky pun jatuh dan menumpahkan isinya.
''Saya mohon maaf pangeran,'' ucap Evina dengan mencoba membersihkan tangan pangeran yang basah dengan tangannya.
''Kamu sengaja melakukan ini kan?'' pangeran tampak membelalakan matanya.
''Saya sungguh tidak sengaja pangeran, mohon maafkan saya,'' suara Evina terdengar sedikit bergetar.
Tiba tiba tangan pangeran Brendan meraih dagu Evina dan mendekatkan wajahnya, namun dengar segera Evina menyingkirkan tangan pangeran dan berdiri hendak pergi dari sana.
Pangeran meraih tangan Evina dengan kedua tangannya lalu mencoba untuk menciumnya yang sontak membuat Evina berteriak dan berusaha melepaskan diri dari dekapan pangeran yang seolah olah akan melahap dirinya hidup hidup.
Namun usahanya sia-sia karena tangan kokoh pangeran mendekap dirinya dengan sangat erat.
Evina hanya bisa berteriak dengan kencang saat pangeran Brendan mulai mendekatkan wajahnya hendak mencium bibirnya.
Belum sempat Bibirnya menyentuh bibir mungil Evina tiba tiba pangeran Arezz masuk ke dalam kamar dengan di ikuti oleh Sakti di belakang nya.
*****
__ADS_1