
Pangeran Brendan memandangi wajah Evina dengan tersenyum dan tatapan tajam yang terlihat seperti seorang pemangsa yang telah menemukan mangsa barunya, membuat Evina merasa tidak nyaman.
Sementara itu Pangeran Brian dan Putri Elisa melakukan hal sama namun dengan sorot mata yang berbeda, tatapan mata mereka lebih terlihat polos.
Setelah semua selesai menyantap makanan dan memakan pencuci mulut, satu persatu dari mereka pergi meninggalkan meja makan yang diawali oleh raja Arthur.
Meja pun sudah sedikit kosong, tinggal tersisa Pangeran Arezz dan juga Brendan. Membuat para pelayan yang akan membereskan meja makan masih berdiri di sana menunggu kedua Pangeran tersebut pergi.
''Aku dengar ayahanda akan segera turun tahta dan mewariskan tahtanya padamu?'' Pangeran Brendan memulai percakapan.
''Begitulah... Mengapa kamu terlihat gusar mendengar hal tersebut? apakah ada masalah?''
''Tentu saja, Tahta itu seharusnya diwariskan pada ku bukan padamu, aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Ayahanda, mengapa beliau melakukan ini, padahal aku juga anak kandungnya, dan tentu saja aku lahir dari rahim yang mulia Ratu, jadi aku lebih berhak dengan Tahta itu,'' ucap Pangeran Brendan.
''Jika kamu merasa keberatan, kamu bisa bicara dan memintanya langsung kepada Ayahanda, mengapa kamu malah memprotes semua ini padaku.''
''Baiklah aku akan mengatakan semuanya kepada Ayahanda, dan aku akan meminta hakku kepadanya.''
''Lakukanlah aku akan menunggu hasilnya, karena aku sendiri sama sekali tidak menginginkan Tahta ini,'' ucap pangeran Arezz dengan tersenyum.
''Kita lihat saja nanti, siapa yang akan duduk di singgasana, dan kamu jangan merasa besar kepala karena ayahda telah memilihmu, karena aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi,'' ucap Pangeran Brendan, lalu berdiri dan pergi dari tempat itu.
Evina mendengar dan menyaksikan percakapan antara kedua pangeran, lalu ia memandang wajah Pangeran Arezz dengan masih sedikit menunduk.
''Saya meminta semua pelayan yang ada di sini pergi meninggalkan tempat ini, kecuali kamu,'' tangan menunjuk ke arah Evina namun matanya menatap semua pelayan.
Evina tampak terkejut, dirinya menoleh ke arah Sakti, dan memberinya isyarat mata sekolah bertanya ada apa, Sakti tidak menjawab, dia hanya menggerakkan kedua bahunya ke atas.
''Kamu juga Sakti, tinggalkan kami berdua.''
__ADS_1
Kemudian yang berada di sana pergi meninggalkan Ruang makan, kecuali Evina yang saat ini berdiri mematung, dengan perasaan yang masih campur aduk.
Pangeran Arezz bangkit lalu meraih satu buah kursi dan di letakan nya tepat di hadapan kursinya, lalu dirinya menarik tangan Evina dan memintanya untuk duduk di kursi tersebut.
Sekarang keduanya sudah duduk saling berhadapan.
''Ada apa?'' tanya Evina.
''Sebenarnya aku ingin menanyakan banyak hal padamu, namun untuk saat ini aku hanya ingin menanyakan satu hal saja, mengapa kamu menghindariku dan acuh kepadaku.''
''Kamu pikir saja sendiri mengapa aku seperti ini, kamu sungguh sudah membodohiku selama ini, apa karena kamu berpikir aku hanya gadis yatim piatu yang tinggal di kota kecil, sehingga dirimu bisa seenaknya membohongi dan membodohiku begitu saja?'' jelas Evina.
''Aku minta maaf, Aku tidak bermaksud berbuat seperti itu, sungguh...''
Evina hanya terdiam.
''Sebenarnya beberapa hari yang lalu aku kembali ke kota Barsom untuk menjemputmu, namun kamu tidak berada di sana, aku sudah berniat akan mengatakan siapa aku sebenarnya, ketika aku akan menjemputmu kemarin, namun kamu menghilang tanpa jejak dan semua yang ada di sana pun tidak tahu kamu di mana. Lalu tiba-tiba kamu ada di sini di tempat yang sangat dekat denganku,'' Pangeran memandang wajah lalu meraih kedua tangannya.
''Jangan seperti ini, aku tidak mau ada pelayan lain yang melihat kita berdua, sekarang aku hanya seorang pelayan rendahan sementara dirimu adalah pangeran yang merupakan pewaris tahta dan Raja masa depan, mana mungkin aku pantas untuk bersanding dengan mu?'' Evina menundukkan kepalanya.
''Aku memang seorang pangeran, dan mungkin juga suatu saat nanti aku akan menjadi seorang Raja negeri ini dan duduk di singgasana, namun itu tidak merubah apapun, kamu tetap orang yang aku cintai, dan hanya kamu seorang wanita yang aku inginkan untuk mendampingiku duduk di singgasana, aku ingin kamu menjadi Ratu ku Ev...''
Evina tampak sangat terkejut.
''Apa... Ratu...?'' Evina membelalakan kedua matanya lalu tertawa.
''Apa sekarang aku sudah menjelma seperti Cinderella? dari seorang pelayan rendahan naik pangkat menjadi seorang Ratu?'' Evina masih tertawa kecil merasa tidak percaya.
''Itu tidak mungkin terjadi, aku yakin semua yang ada di istana tidak akan ada yang setuju dengan apa yang kamu inginkan, aku seorang pelayan yatim piatu, tidak mungkin menjadi Ratu negeri ini,'' jawab Evina dengan nada yang penuh penekanan.
__ADS_1
''Mengapa tidak bisa? jika aku telah menjadi seorang raja aku bisa meminta siapapun untuk menemani ku, tidak ada satu wanita pun yang bisa menolak keinginan raja.''
''Mohon Maaf namun sepertinya kita sudah terlalu lama berbicara berdua Aku tidak ingin Ada kecemburuan dari pelayan lain yang melihat kita seperti ini, jadi kita sudahi dulu percakapan kita. Saya permisi pangeran.''
Evina bangkit dari tempat duduk nya lalu membungkuk kepada pangeran Arezz, setelahnya ia pun berbalik dan pergi meninggalkan pangeran Arezz sendiri di tempat itu.
Sang pangeran hanya diam memandangi tubuh Evina yang berjalan menjauh darinya. Sepertinya dia harus memulai dari awal lagi untuk bisa mendapatkan hati wanita yang dicintainya.
Batinnya berucap.
***
Terlihat seorang putri cantik yang sedang berdiri di pinggir jendela kaca sebuah kamar, tangannya tampak memegang satu buah buku yang sedang di bacanya, matanya sesekali melihat ke arah luar.
Kamar sang putri terletak di lantai dua istananya, sehingga ia bisa dengan leluasa melihat para penghuni istana yang sedang berlalu lalang di bawahnya.
Wajahnya nampak berseri saat melihat kakaknya yaitu pangeran Arezz serta Sakti melintas di bawah sana, matanya tampak tak henti menatap wajah sakti yang terlihat tampan di matanya meski dari kejauhan.
Dia adalah putri Elisa, putri kesayangan Baginda Raja. Putri memiliki paras yang sangat cantik, kulitnya bersih berkilau seperti bongkahan berlian, serta memiliki senyum manis dengan lesung pipi yang menghiasi pipi mulusnya.
Tubuh nya terlihat ramping dengan tinggi semampai serta rambut lurus panjang menutupi punggunynya, membuat penampilannya sebagai seorang putri sangat memukau bagi siapapun yang melihatnya.
Umur sang putri baru menginjak 17 tahun.
Sudah sejak lama sang putri memendam perasaan kepada pengawal pribadi kakaknya, namun ia tidak berani untuk mengungkapkannya, dirinya hanya bisa mencuri pandang jika sesekali mereka bertemu atau berpapasan di jalan.
Baginya Sakti adalah sosok laki laki yang menjadi idamannya, tubuh tinggi kekar, wajah tampan serta memiliki banyak kemampuan adalah tipe calon pendampingnya kelak, dan Sang Putri melihat semua itu ada pada diri Sakti.
Wajahnya kembali membaca buku setelah Pangeran Arezz dan juga Sakti sudah tidak terlihat lagi olehnya.
__ADS_1
*****