KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Di paksa kembali ke Istana


__ADS_3

''Silahkan ikut saya kembali ke istana,'' ucap Sebastian kepada Arezz setelah sebelumnya membungkuk terlebih dahulu padanya.


''Saya tidak mau,'' jawab Arezz tegas.


''Izinkan saya untuk berbicara empat mata dengan Pangeran,'' ucap Sebastian.


Kemudian Arezz dan Sebastian berbicara berdua di dalam kamar, pintu pun di tutup sangat rapat agar siapapun tidak dapat mendengar pembicaraan mereka.


Sakti berdiri masih dengan tatapan waspada, sementara Evina hanya diam saja dengan beribu tanya di dalam kepalanya, dan menatap ke para pengawal yang sedari tadi terus memperhatikannya.


''Saya mohon maaf jika kedatangan kami membuat pangeran terkejut, saya hanya menjalankan titah Baginda Raja untuk segera membawa Pangeran ke istana,'' ujar Sebastian.


''Saya juga mohon maaf jika saya tidak bisa mematuhi titah Ayahanda untuk kembali ke istana,'' jawab Arezz.


''Sebenarnya kesehatan Raja sedang tidak baik baik saja,'' Sebastian.


''Apa...?'' Arezz nampak sangat terkejut.


''Iya pangeran, semenjak pangeran meninggalkan istana kesehatan Baginda mulai menurun, namun Baginda Raja menyembunyikan kondisinya, tidak ada satupun orang di istana yang mengetahui hal ini, kecuali saya, dan sekarang pangeran.''


Arezz tampak termenung, dirinya tidak menyangka jika kepergiannya akan membuat ayahanda nya jatuh sakit.


''Saya harap pangeran bisa ikut dengan saya pulang ke istana,'' Sebastian menambahkan.


''Tunggu... izinkan saya berpikir sejenak,'' jawab Arezz.


Arezz kembali termenung, terlihat memikirkan sesuatu, matanya tampak melihat ke arah luar, memperhatikan Evina yang kini sedang berdiri menunggu dirinya.


Baru saja dirinya merasakan kebahagiaan karena telah resmi berpacaran dengan wanita tersebut, sekarang malah dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit, antara kembali ke istana atau tetap di sini dengan wanita yang baru saja mengisi hatinya.


Lama berfikir akhirnya Arezz membuat pilihan, dia akan kembali ke istana mengingat kondisi ayahanda nya yang sedang tidak sehat, baginya kesehatan Raja adalah prioritas utamanya saat ini, namun dia berjanji dalam hatinya bahwa dia akan kembali ke sini untuk menjemput Evina.


''Baiklah, saya akan ikut denganmu untuk kembali ke istana, namun sebelumnya saya minta satu hal padamu,'' ujar Arezz.


''Sebutkan permintaanmu Pangeran, saya pasti akan melaksanakannya,'' jawab Sebastian.


''Wanita yang di luar itu adalah orang yang saya cintai, dan dia sama sekali tidak tahu identitas saya sebagai seorang pangeran. Saya ingin ketika kita keluar nanti kamu jangan memanggil saya dengan sebutan pangeran,'' ujar Arezz dengan memandang ke arah luar.

__ADS_1


''Baik Pangeran saya akan mengikuti perintah mu.''


Lalu Tak lama kemudian mereka berdua keluar, Arezz berbicara kepada Sakti jika mereka akan kembali ke istana sekarang juga.


Sakti tampak sangat terkejut namun dirinya juga merasa senang.


''Apa kamu serius?'' tanya Sakti.


Arezz mengangguk.


Kemudian Arezz menghampiri Evina dan menggenggam kedua tangannya.


''Tunggu aku di sini, aku pasti akan kembali untuk menjemputmu, aku minta maaf karena harus pergi seperti ini, di saat dirimu baru saja menerima perasaan cintaku,'' ucap Arezz dengan perasaan sedih.


''Kamu mau kemana?'' tanya Evina yang sudah sedikit berkaca kaca.


''Ada sesuatu yang harus aku selesaikan, sekali lagi aku mohon maaf,'' Arezz meraih tubuh Evina dan memeluknya dengan erat, dirinya sungguh tidak menyangka akan meninggalkan tempat ini dengan begitu cepat.


Bulir bulir air mata mulai membasahi pipi tirus Evina, seharusnya tadi dia tidak menerima cinta Arezz jika akan langsung ditinggalkan seperti ini.


Kedua tangannya melingkar di punggung laki-laki yang baru saja resmi menjadi kekasihnya itu, dengan perasaan sedih dan linangan air mata, kemudian Evina melepaskan kembali pelukannya.


Arezz mengusap air mata yang kini telah membasahi pipi sang kekasih dengan jarinya, mencoba meyakinkan jika dia akan benar benar kembali untuk menjemputnya.


''Kita harus segera pergi Arezz,'' pinta Sebastian.


''Tunggu sebentar,'' jawab Arezz.


''Jaga diri kamu baik baik, jangan bekerja terlalu keras, dan makan yang banyak agar tubuhmu sedikit berisi.''


Evina mengangguk.


Lalu Arezz mengecup kening Evina, setelah itu dirinya pun berbalik dan mulai berjalan menjauh, dengan di ikuti oleh Sakti, dan juga para pengawal yang tampak berjalan di belakang mereka berdua.


Evina menatap kepergian sang kekasih dengan perasaan sedih dan terluka.


Aku akan menunggumu di sini Arezz

__ADS_1


Batinnya berucap.


Sementara itu di depan cafe Monalisa, para pelayan cafe sudah berdiri di depan jendela, menyaksikan kepergian Sakti dan Arezz dengan perasaan heran, mereka menyaksikan hal tersebut karena mobil yang dikendarai para pengawal di parkir tepat di depan cafe Monalisa.


Hanya bos Alberto saja yang nampak tidak heran melihat pemandangan tersebut, karena selama ini dirinya sudah mengetahui jika Arezz adalah seorang pangeran yang sedang mengasingkan diri dari istana.


Arezz berhenti sejenak ketika dirinya hendak memasuki mobil, ia melihat bos Alberto sedang memandangi dirinya, lalu Arezz berjalan menghampiri bos Alberto.


Mereka berbicara berdua sekitar 10 menit, setelah itu Arezz kembali dan masuk ke dalam mobil.


Sakti duduk di sebelah Arezz sementara Sebastian di depan nya.


Mobil sedan berwarna hitam dengan lambang kerajaan di belakangnya itu perlahan berjalan menjauh dari kota Barsom, kota yang memiliki sejuta keindahan serta keunikan, juga kota yang mempertemukan Arezz dengan Evina, yang kini harus berpisah ketika mereka baru saja saling mengungkapkan perasaan masing-masing.


Evina tampak menyaksikan dari jauh mobil kerajaan itu pergi menjauh meninggalkan kota Barsom, meninggalkan dirinya yang baru saja merasakan bahagianya memiliki teman dan juga kekasih.


***


Sudah satu bulan sejak kepergian Arezz dari kota Barsom, sementara Evina masih berada di sana dengan keyakinan bahwa kekasihnya akan kembali untuk menjemput dirinya.


Namun sampai saat ini sang kekasih masih belum juga datang. Hari ini adalah hari dimana tepat satu bulan sejak mereka berpacaran.


Evina nampak sedang berjalan hendak bekerja di cafe Monalisa, saat akan memasuki cafe, Evina melihat selebaran kertas yang di pasang di dinding cafe.


Evina membaca selebaran tersebut, isinya adalah tentang pengumuman bahwa istana sedang membuka lowongan pekerjaan sebagai pelayan wanita.


Evina nampak sedikit tertarik dengan pekerjaan tersebut, jika dirinya bekerja di istana mungkin saja ia bisa bertemu kembali dengan kekasihnya.


Evina mengambil selebaran tersebut lalu memasukkannya ke dalam tas, lalu diri nya melanjutkan langkahnya kembali untuk bekerja di cafe Monalisa.


***


Di dalam istana, para pelayan wanita sedang mengintip di balik pintu,mereka sedang menantikan pangeran Arezz yang akan melintas di depan mereka.


Pangeran yang baru saja kembali ke istana itu menjadi idola para pelayan, karena parasnya yang rupawan dan tampan, serta sikapnya yang tidak sombong dan tidak ragu untuk menyapa siapa pun yang ditemuinya.


Akhirnya Pangeran Arezz melintas di hadapan mereka, wajah tampannya tampak tersenyum kearah semua pelayan yang sudah berjejer rapi menyambut kedatangannya.

__ADS_1


Dia adalah Pangeran Arezz, dengan rambut tertata sangat rapih, serta jas hitam dengan sapu tangan berwarna merah di saku kanannya, berjalan menuju mobil kerajaan, karena hari ini dirinya hendak menghadiri pertemuan penting menggantikan Baginda Raja.


*****


__ADS_2