
''Arezz...'' sapa'nya lirih, dengan air mata yang mulai berjatuhan.
Raja membalikan badan dan melepaskan tubuh sang putri, dia menatap wajah Ratu Evina, wanita yang katanya sangat ia cintai.
Dengan langkah yang pelan, sang Ratu menghampiri Raja Arezz, menatap wajah tampan itu dengan perasaan tak percaya, Ia pun menempelkan kedua lengannya di pipi sang Raja, meraba satu persatu Indra yang berada di wajahnya, mata, alis, hidung dan bahkan bibirnya. Masih dengan lelehan air mata.
''Apakah ini benar-benar kamu? hiks... hiks... hiks...'' tanya nya lagi mencoba memastikan.
Raja mengangguk, menatap wajah cantik itu lalu mengusap tiap buliran air mata yang kini memenuhi pipi sang Ratu, mata sang Raja pun terlihat berkaca-kaca, merasakan kesedihan dan kebahagiaan yang tiba-tiba saja datang secara bersamaan.
Dan sedetik kemudian.
Grep...
Keduanya saling berpelukan, Ratu Evina menangis sesenggukan di dalam dekapan sang Raja, hingga suara tangisnya terdengar sangat pilu bagi siapa saja yang mendengarnya.
Begitupun dengan raja, dia menangis tersedu-sedu membuat semua orang yang berada di sana merasa heran. Bukankah sang Raja sedang hilang ingatan? Lalu mengapa sang Raja menangis seolah merasa sedih dan mengenali Ratu Evina? semua yang berada di sana menatap keduanya dengan tatapan heran.
''Aku sangat merindukanmu, hiks... hiks... hiks...'' ucap Evina di sela-sela tangis pilunya.
''Aku juga merindukanmu, Evina,'' jawab Raja, membuat semua orang yang hadir di sana meras terkejut dan ikut menangis seolah merasakan kesedihan yang saat ini sedang di rasakan oleh sepasang manusia yang masih saling mencinta.
Namun yang lebih membuat mereka merasa terharu adalah, saat Raja Arezz mengucap nama Evina. Apakah itu berarti sang Raja sudah mengingatnya? rasanya Sakti sudah tidak sabar untuk bertanya, namun dia tidak ingin merusak suasana.
''Maafkan aku, karena telah membuat mu khawatir,'' Raja Arezz melepaskan pelukannya dan mengusap satu persatu buliran air mata yang memenuhi pipi wanita yang di cintai nya.
__ADS_1
''Apa yang terjadi? jika kau masih hidup, mengapa tidak segera kembali ke istana?'' tanya Evina menatap lekat wajah sang raja.
''Aku sempat kehilangan ingatanku,'' jawab Raja Arezz menunduk.
''Benarkah? Lalu sekarang...?'' tanya Evina terkejut sekaligus merasa heran.
''Entah mengapa, setelah melihat mu ingatanku kembali pulih, padahal selama ini otakku sudah bekerja sangat keras untuk dapat mendapatkan kembali ingatan ku, tak di sangka hanya dengan bertemu denganmu, semua ingatan ku kembali dan tak ada satupun yang tertinggal, mungkin karena rasa cinta ku yang begitu besar kepada mu, Evina.'' jawab sang Raja, dengan menatap lekat wajah sang Ratu.
Semua yang ada di sana mengucap syukur seketika secara bersamaan, terutama Sakti, dia hampir saja berlari memeluk junjungannya jika saja dia tidak menghargai sang Ratu yang sedang berdiri dengan sangat dekat dengan sang raja.
Mereka pun akhirnya meninggalkan Ratu Evina dengan Raja Arezz, memberikan waktu kepada kedua insan yang masih saling mencintai itu, untuk meluapkan kerinduannya masing-masing.
Dan sekarang, mereka hanya berdua saja, saling menatap seolah sedang mengobati rasa rindu yang sama sekali tidak bisa lagi mereka tahan, Raja dan Ratu Evina pun kemudian duduk di kursi secara berdampingan, keduanya saling berpegangan tangan dan saling menggenggam satu sama lain.
''Apa kamu tahu bagaimana perasaanku saat mendengar kabar bahwa kau tewas? hatiku sungguh hancur, jiwaku seakan terasa terbang hendak menyusul mu ke alam sana,'' ucap Ratu Evina, masih dengan lelehan air mata.
''Kamu pasti sangat menderita?'' lirih Evina.
''Aku sudah tidak apa-apa sekarang, berkatmu, berkat ketulusan dan besarnya cintaku padamu membuat ingatanku kembali begitu saja saat melihat wajahmu,'' jawab dan Raja.
Evina hanya menatap wajah Laki-laki yang masih sangat di cintai nya itu, menatap dengan tatapan penuh cinta, masih merasa tak percaya, bahwa Laki-laki ini, cinta pertamanya, masih hidup dan sehat.
Wajah sang Raja perlahan mendekat ke arah wajah Evina, bibirnya pun dengan lembut menyentuh bibir wanita itu dengan lembut dan penuh kerinduan, sang wanita pun menyambut sentuhan bibir sang Raja, menahan dan menautkan'nya dengan sangat erat, hingga bibir keduanya tenggelam begitu dalam.
Entah apa yang ada di pikiran keduanya, sehingga mereka melakukan hal tersebut, sang Raja seolah tidak peduli bahwa wanita yang saat ini berada sangat dekat dengan dirinya itu adalah istri dari adiknya sendiri.
__ADS_1
Setelah mereka saling melepaskan bibir masing-masing, keduanya pun saling berpelukan, dengan sangat erat seolah tidak ingin lagi terpisahkan.
Tak lama kemudian terdengar suara tangis bayi dari dalam kamar, Ratu dan Raja Arezz pun segara masuk ke dalamnya untuk melihat keadaan bayi Adam. Sang bayi sedang berada di dalam pangkuan Flora.
Ceklek...
Raja membuat pintu dan masuk ke dalam kamar, menghampiri Flora dan langsung meraih Bayi Adam dengan kedua tangannya.
Sekejap kemudian Adam menghentikan tangisnya, menatap wajah Raja Arezz lalu tersenyum dengan sangat manisnya.
''Kenapa dia langsung berhenti menangis saat ku gendong?'' tanya Raja Arezz, menatap wajah Adam dengan tersenyum.
''Hallo sayang, kamu sungguh tampan,'' cakap Raja.
Adam tersenyum menatap wajah sang Raja.
''Sepertinya dia menyukaimu, buktinya dia langsung terdiam saat berada di dalam gendongan mu,'' ucap Ratu memandang wajah putra kesayangannya.
''Benarkah? siapa namanya?''
''Namanya, Adam.''
''Wah, nama yang bagus, halo, Adam...!'' Raja berucap sembari memandang wajah Adam terlihat seperti sedang mengajak sang bayi berbicara.
Ratu tersenyum melihat Adam di dalam pangkuan Raja Arezz, kebersamaan keduanya sudah terlihat layaknya seorang ayah dan anak.
__ADS_1
Sedetik kemudian terlintas dalam fikiran'nya. Bagaimana jika ternyata Adam adalah putra dari Raja Arezz? Apa yang akan terjadi dengan dirinya dan juga putra kesayangannya tersebut jika hal itu sampai benar-benar terbukti.
_____________------------______________