
Kedua pangeran keluar dari aula kerajaan, wajah keduanya terlihat menunjukan ekspresi wajah yang berbeda.
Pangeran Arezz nampak sangat kecewa sehingga wajahnya terlihat merah menahan amarah, sedangkan sang adik terlihat bahagia, wajahnya pun berseri dengan senyum mengembang dari kedua sisi bibirnya.
Meski mereka masih berjalan secara beriringan namun kedua nya sama sekali tidak bertegur sapa, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah lorong sempit jalan menuju ke dalam istana.
''Tunggu kak..'' pangeran Brendan menghentikan langkah sang Kaka.
Pangeran Arezz menghentikan langkah kakinya.
''Ada apa? apa kau mau berkelahi lagi dengan ku, kebetulan aku sedang sangat kesal sekarang,'' pangeran Arezz membulatkan bola matanya.
Sang adik tersenyum.
''Ampun kak aku takut,'' ujar sang adik dengan nada mengejek.
Wajah Pangeran Arezz terlihat semakin kesal. Ia pun mencengkram kerah baju sang adik dengan kedua tangannya.
''Brengsek kamu...'' dengan menahan emosi.
''Tenang kak, aku punya penawaran yang sangat bagus buatmu,'' ujar pangeran Brendan lalu melepaskan kedua tangan kakaknya.
''Apa maksudmu?''
''Bagaimana jika kita menukar gadis pujaan mu dengan tahta?''
''Maksudnya, jika aku menyerahkan tahta padamu maka kau akan menolak untuk menikahi Evina?'' Pangeran Arezz mengerutkan kening.
''Nah.... pintar,'' sang adik nge jentikkan kedua jarinya lalu tersenyum.
Pangeran Arezz terdiam seperti sedang berfikir. Ia sedang menimbang tawaran sang adik, yang ada di fikiran nya saat ini hanyalah Evina, Evina dan Evina.
Dia merasa jika tawaran adiknya sama sekali tidak ada yang salah, toh ia sama sekali tidak pernah menginginkan Tahta atau duduk di Singgasana sebagai seorang Raja. Ia hanya ingin hidup dengan tenang dimana saja asal bukan di istana, dan tentunya bersama wanita yang ia cinta.
''Aku akan pertimbangkan tawaranmu,'' ucap pangeran Arezz dengan berjalan meninggalkan Pangeran Brendan sendirian di tempat itu.
''Jangan berfikir terlalu lama kak, aku tidak suka menunggu,'' pangeran Brendan berteriak, namun tak di jawab oleh sang Kaka.
__ADS_1
Ia pun kembali melangkahkan kakinya, sambil sesekali berputar seperti menari dengan mendendangkan sebuah lagu yang di gemari nya.
***
Sementara itu di Rumah sakit, Evina di temani oleh Putri Elisa dan juga Sakti, karena pangeran Arezz harus segera kembali ke istana, terpaksa putri Elisa menggantikan kakaknya berada di sana.
Sang putri tidak merasa keberatan sama sekali, karena di sana ia tidak sendirian, ada Sakti dan juga beberapa pelayan yang ikut menemani dirinya.
Sakti tampak duduk di sebuah kursi di luar kamar, mata nya tampak sedikit terpejam seperti menahan kantuk.
Tak lama kemudian Putri Elisa keluar dari dalam kamar dan berjalan menghampiri sakti yang terlihat sedikit menunduk.
Sang putri memperhatikan wajah Sakti, laki laki yang ia sukai.
Ia pun tersenyum geli, entah mengapa wajah sakti yang sedikit terpejam terlihat sangat Sexy di matanya.
''Jika ngantuk istirahat saja di dalam,'' ujar sang putri yang membuat Sakti sontak berdiri.
''Ia putri saya mematuhi perintah mu,'' seperti tidak sadar karena dalam keadaan sangat mengantuk.
Dan sedetik kemudian Sakti pun segera tersadar dan dirinya langsung meminta maaf kepada Putri Elisa.
Putri duduk di kursi yang berada tepat di sebelah Sakti.
''Duduk lah, kaki mu bisa pegal jika terus berdiri seperti itu,'' ucap sang putri.
Sakti mengangguk lalu duduk.
Sebenarnya Ia merasa sangat gugup, karena tubuh tegap dan gagahnya berada sangat dekat dengan tubuh sang putri, untuk sesaat mereka berdua sama sama terdiam, mencoba mengatur nafas dan detak jantung masing masing karena sepertinya jantung keduanya berdetak tidak beraturan.
''Kapan kamu akan membayar hutang mu padaku?'' tanya Putri memulai pembicaraan.
Sakti hanya terdiam mencoba mencerna ucapan Putri Elisa kepadanya, karena dia dalam keadaan baru terbangun dari tidurnya sehingga membuat otak pintarnya seperti sedikit terganggu.
''Mengapa diam saja?'' tanya Putri dengan perasaan heran.
''Maaf putri, saya sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan mu barusan,'' ucap Sakti sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
__ADS_1
''Sakti... kamu kan pernah berjanji padaku, akan mengajak ku ke suatu tempat sebagai permintaan maaf karena telah menjatuhkan aku waktu itu, dan aku menganggap itu sebagai hutang, apa jangan jangan kamu lupa?''
''Maaf putri saya akan mencoba mengingat nya,'' ujar Sakti sambil tersenyum.
Sang putri menatap wajah Sakti, dengan masih tersenyum manis, dan senyum manis nya itu sukses membuat jantung Sakti kembali berdetak tak beraturan.
''Saya ingat putri,'' tanpa menoleh karena dirinya gugup.
''O.. ya..'' putri merasa senang.
''Tapi sayangnya akhir akhir ini aku sibuk sekali, lagi pula aku tidak tahu apakan pangeran Arezz akan mengijinkan kita pergi bersama atau tidak,'' jawab Sakti menekan perasaan gugupnya.
''Kalau urusan Kaka ku biar nanti aku yang urus, kamu tinggal pikirkan saja dulu tempat yang bagus dan menyenangkan untuk kita kunjungi,'' putri masih menatap tanpa berkedip.
''Baik putri,'' jawab Sakti yang merasa jika jantungnya akan benar benar berhenti berdetak, karena tatapan putri Elisa bagaikan busur panah yang melesat tepat mengenai jantungnya.
Kemudian Putri pun berdiri dan hendak berjalan masuk kembali ke dalam kamar, namun ia menghentikan gerakan langkahnya dan kembali berucap kepada Sakti.
''Aku tunggu secepatnya nya,'' ujarnya lalu benar benar masuk ke dalam kamar Rawat Inap di dalam Rumah Sakit.
Sakti mengangguk lalu tersenyum.
Setelah sang putri masuk ke dalam kamar, Sakit tampak menarik nafas panjang lalu memegang dada sebelah kirinya yang terasa sangat berdebar, lalu ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi besi yang berada di belakang tubuhnya.
***
Baginda Raja Arthur masih duduk di kursi singgasana, dirinya sedang memikirkan kejadian yang menimpa kedua putranya, sepertinya keadaan istana tidak akan damai jika kedua anaknya masih berada di satu tempat yang sama.
Raja Arthur pun berdiri, lalu berjalan mondar mandir di depan kursi megah berwana kuning keemasan miliknya, seperti nya sang Raja sedang memikirkan cara agar salah satu dari mereka keluar dari istana, dan tentu saja orang tersebut harus putra keduanya, karena putra pertama nya akan segera mengganti kan posisi dirinya sebagai seorang Raja.
Lama berfikir, namun ia sama sekali belum menemukan alasan yang cocok untuk membuat putra pertamanya itu keluar dari istana, dan tentu saja sang Ratu pasti tidak akan pernah setuju tentang rencana nya tersebut.
Lalu tak lama kemudian Ratu Emillia yang merupakan Istri sah dari Baginda Raja Arthur memasuki Aula kerajaan. Ia berjalan dengan sangat anggun dengan gaun panjang berwarna ungu yang membalut tubuh nya, karisma seorang Ratu seolah terpancar dari paras cantiknya dengan rona bibir berwarna terang menyala menghiasi bibir sensual nya.
Dengan wajah yang sangat kesal dia menghampiri suaminya yaitu Raja Arthur.
*****
__ADS_1