
''Maukah kau menemani ku di sini sampai besok, karena besok hari dirimu harus segera kembali ke istana?'' ucap Raja, mencoba melupakan sejenak masalah yang sedang dia hadapi sekarang.
''Tentu saja aku mau,'' Ratu tersenyum bahagia.
Sang Raja meraih tubuh Ratu Evina, lalu mendekapnya dengan sangat erat, wajahnya bahkan sengaja di tenggelamkan di leher sang Ratu dengan mata yang terpejam, seolah sedang merasakan kehangatan yang mungkin saja tidak akan pernah lagi dia rasakan.
'Maafkan aku, mungkin setelah pertemuan ini, kau akan sangat membenciku, karena aku harus melakukan sesuatu yang kejam kepada keluarga kecilmu.'
Ucap Raja dalam hati yang menahan pilu, hatinya sungguh serasa di rundung duka yang sangat mendalam, tatkala mengingat hukuman yang akan di jatuhkan kepada keluarganya karena pengkhianatan.
Meski Ratu Evina tidak bersalah sama sekali, namun hukuman itu sudah menjadi tradisi dan sudah di tulis di dalam undang-undang kerajaan, bahwa setiap pengkhianat harus di berantas sampai ke akarnya agar tidak ada dendam di kemudian hari.
Ratu Evina melepaskan pelukan sang Raja, dia menatap wajah tampan dengan mata yang terlihat sedikit berkaca-kaca.
''Kamu kenapa?'' tanya sang Ratu dengan merasa sangat heran.
''Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin menikmati setiap detik waktu yang kita punya, karena setelah ini kita mungkin saja tidak akan pernah bertemu lagi,'' jawab Raja dengan buliran air mata yang perlahan jatuh membasahi pipinya.
''Maksud kamu apa? kita masih bisa bertemu kapanpun, jika kamu sudah kembali naik Tahta, dan aku menjadi rakyat biasa, maka kamu bisa mengunjungi ku kapan saja, aku sudah berniat untuk berpisah dengan Raja Brendan, dan hanya ingin menjalani hidup berdua saja dengan putra kesayangan ku, Adam.''
''Benarkah? bagus kalau begitu,'' jawab raja, lalu mengusap pipinya yang terasa semakin basah dengan air mata.
Ratu Evina mengangguk lalu tersenyum.
__ADS_1
'Maafkan aku, Ev... aku sungguh minta maaf, sepertinya apa yang kamu harapkan tidak akan pernah terwujud.'
Raja kembali berucap di dalam hatinya sembari menatap lekat wajah Ratu Evina dengan pandangan yang terlihat menahan kesedihan dengan air mata yang seperti di tahan.
Ratu mengusap pipi sang Raja, ia tersenyum tipis menatap setiap buliran air mata, dirinya ingin mencoba menghibur hati sang Raja meski sebenarnya hatinya pun terasa tersiksa.
''Jangan bersedih seperti ini, kamu adalah Raja yang sah di kerajaan ini, kamu harus selalu terlihat kuat, jika jiwa mu rapuh seperti ini, bagaimana kau akan bisa menghadapi mereka yang menjadi musuh'mu?'' Ratu mengusap dan memegang wajah Raja Arezz dengan kedua tangannya.
''Bagaimana aku tidak bersedih, musuhku adalah suamimu, adikku sendiri,'' jawab sang Raja dengan tatapan yang terlihat memendam luka.
''Aku tahu,'' Ratu melepaskan tangannya lalu menunduk merasa sedih.
Sang Raja Arezz meraih lengan Ratu Evina dan menggenggam jemarinya seraya menatap dengan penuh cinta.
''Aku minta maaf padamu.''
Raja hanya terdiam, dia belum mengatakan hal yang sebenarnya, tentang orang yang telah menyakiti dia adalah Raja Brendan yang merupakan suami dari Ratu Evina, dan dia pun belum mengatakan apapun tentang hukuman yang akan di terima oleh keluarga kecil sang Ratu, yang akan menerima hukuman yang sangat berat akibat perbuatan yang di lakukan oleh sang suami.
''Apakah kamu bahagia?'' tanya Raja Arezz secara tiba-tiba.
Ratu Evina menunduk tidak menjawab.
''Apakah itu berarti hidupmu tidak merasa bahagia sama sekali? sebagai seorang Ratu, wanita nomor satu di kerajaan Underland ini?'' tanya Raja Arezz dengan tatapan heran.
__ADS_1
Evina mengangguk lalu menunduk.
''Bagaimana aku bisa bahagia jika aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai sama sekali,'' jawab sang Ratu masih dengan keadaan menunduk.
Raja Arezz terdiam memandang lekat wajah wanita di hadapannya.
''Dan kau orang yang sangat aku cintai, tidak dapat aku miliki sama sekali walau hanya dalam mimpi,'' Ratu Evina kembali berucap sembari mengangkat kepalanya menatap wajah Raja Arezz.
''Mengapa Takdir cinta kita harus berakhir seperti ini?'' tanya Raja.''
''Akhir? apakah ini benar-benar akhir dari semuanya?'' tanya Ratu Evina merasa sangat heran.
''Maafkan aku?'' Raja menunduk merasa menyesal.
Keduanya terdiam sejenak dan sama-sama menunduk. Seperi ada rasa sakit yang menusuk hati mereka masing-masing, juga rasa pilu yang menghujam relung jiwa keduanya, mengingat perjalanan cinta yang telah mereka lalui sampai saat ini sangatlah berliku dan tidak akan pernah bisa bersatu.
''Sudahlah... Kita lupakan masalah itu sekarang. Bagaimana jika kita nikmati saja kebersamaan kita yang singkat ini? mungkin saja ini terakhir kalinya kita bertemu,'' Ratu Evina tersenyum, meski terlihat di paksakan.
Sang Raja mengangguk lalu tersenyum, dirinya akan memikirkan nanti, prihal masalah yang sedang dia hadapi saat ini, sekarang dia hanya ingin menikmati kesempatan langka bersama Ratu Evina.
Kemudian keduanya saling mendekatkan wajah dan berciuman, menautkan bibir masing-masing, dengan air mata yang terlihat memenuhi pelupuk mata keduanya, dan tak lama kemudian buliran air mata itu pun berjatuhan membasahi pipi keduanya.
Sang Raja dan Ratu Evina saling memutarkan kepala menikmati setiap sesapan dengan nafas yang sedikit di tahan, jantung keduanya pun terasa berdebar begitu kencang, saat gairah di jiwanya mulai naik ke permukaan.
__ADS_1
Raja Arezz memangku Ratu Evina ke atas ranjang, dengan bibir mereka masih saling bertautan.
___________----------___________