KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Demam


__ADS_3

Sepeninggal Arezz dan Sakti, Evina tampak mencoba berbaring di atas tempat tidurnya, wajahnya berseri dan mulut nya terlihat tersenyum, entah mengapa hati nya serasa berbunga bunga, meski lutut dan siku nya masih terasa perih akibat terluka.


Apakah dirinya sudah termakan rayuan maut yang di layangkan oleh Arezz kepadanya? batin Evina berucap.


Lalu dirinya mengambil satu buah selimut dan menutupi seluruh badannya, mencoba memejamkan mata meski kelopak matanya tidak terasa mengantuk sama sekali.


Lain halnya dengan Arezz, sesaat setelah dirinya masuk ke tempat tinggalnya, Arezz langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan tanpa menunggu lama dia pun langsung terlelap.


Sakti yang melihat hal tersebut merasa heran, dari mana gerangan pangeran nya tersebut pergi, hingga terlihat sangat kelelahan seperti ini.


Ke esokan harinya.


Arezz masih tertidur lelap meski hari sudah semakin siang, pukul 10.00 Arezz masih tak bergeming sedikitpun dari tidur lelapnya, Sakti yang sedari tadi mencoba untuk membangunkannya, akhirnya menyerah karena pangerannya tersebut sama sekali tidak bisa untuk di bangunkan.


Sampai akhirnya dua jam kemudian Sakti menghampiri Arezz dan mencoba untuk membangunkannya kembali.


Saat Sakti menggoyangkan tubuhnya, dia pun tiba-tiba terkejut karena badan Arezz terasa sangat panas, Sakti terlihat panik, lalu dirinya meraba kening Arezz dengan telapak tangannya, ternyata benar, Arezz memang sedang dalam keadaan demam.


Sakti segera berlari ke dapurnya untuk mengambil air hangat serta kain untuk mengompres tubuh Arezz.


Sang Pangeran mulai membuka mata, dirinya sudah mendapati kompresan kain hangat di atas keningnya, lalu meraba kain itu dengan kedua tangan dan menyingkirkannya.


''Pangeran... apa kamu baik-baik saja? tadi tubuhmu demam,'' tanya Sakti yang sudah melihat Pangeran terbangun.


''Apa aku benar-benar demam? tubuhku benar-benar sakit semua,'' jawab Arezz yang sedang mencoba untuk bangun, dan sakti pun membantu Pangeran untuk duduk dengan bersandar bantal di punggungnya.


''Sebenarnya tadi malam Pangeran habis dari mana, sampai menjadi seperti ini?'' Sakti


''Semalam aku telah memberikan pembuktian cinta kepada Evina,'' ujar Arezz.


Sakti tampak terkejut.


''Apa...! pembuktian cinta?'' Sakti membelalakan matanya.


Arezz mengangguk sambil tersenyum.


''Jadi pangeran sudah benar-benar menyatakan cinta kepada Evina?''


Arezz kembali mengangguk.


''Terus apakah diterima? Apakah kalian sekarang sudah berpacaran? Apa Evina tahu identitas pangeran yang sebenarnya?'' Sakti bicara tanpa jeda.


Pangeran menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


''Serius...?'' Sakti terlihat tidak percaya.


Sakti tertawa dengan kencang membuat Arezz membelalakan matanya, lalu berdehem kencang yang sontak membuat sakti pun berhenti tertawa.


''Maaf pangeran, saya hanya tidak percaya jika ada wanita yang berani menolak seorang pangeran tampan seperti dirimu,'' jawab Sakti masih dengan tertawa kecil.


''Aku juga tidak tahu, mengapa dia menolak ku, sebenarnya dia tidak menolak, mungkin dia sedang menguji ketulusan perasaanku,'' Ujar Arezz.


Sakti kembali sedikit tertawa.


''Sudahlah terima saja kekalahan pangeran, kejadian ini mungkin pertama kalinya dalam sejarahnya, seorang wanita menolak cinta pangeran yang merupakan seorang pewaris tahta,'' ujar Sakti. Hingga membuat pangeran kembali membuka matanya dengan sangat lebar dan melayangkan pandangan sinis kepada pengawalnya tersebut.


Sakti menyadarinya dan langsung meminta maaf dengan bersujud di hadapan pangeran, dia sadar jika ucapannya kali ini telah benar-benar membuat Pangeran marah.


''Saya sungguh-sungguh minta maaf Pangeran, saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan pangeran, mohon ampuni saya,'' ucap Sakti dengan suara bergetar.


''Saya tidak mau ucapan Tahta keluar lagi dari mulutmu, kamu sendiri tahu, sedikit pun saya tidak menginginkan Tahta atau berniat menjadi pemilik Tahta,'' ujar Arezz dengan intonasi tegas.


''Baik Pangeran, sekali lagi saya benar-benar mohon maaf, saya berjanji ucapan seperti itu tidak akan keluar lagi dari mulut saya,'' Sakti bersungguh sungguh.


''Baiklah kali ini kamu saya maafkan, tapi jika ucapan seperti itu sampai keluar lagi dari mulutmu, saya tidak akan benar-benar memaafkan mu sedikit pun,'' Arezz menaikan suaranya.


''Baik pangeran saya berjanji,'' jawab Sakti.


Evina sudah berdiri di belakang pintu, dirinya hendak bertemu Arezz karena merasa heran sedari pagi Arezz tidak menunjukkan wajahnya.


''Evina...?'' Sakti membuka pintu dan mempersilahkan Evina masuk ke dalam.


''Apa Arezz baik-baik saja? dari pagi aku belum melihatnya keluar,'' tanya Evina.


''Arezz sedikit demam, namun sekarang panasnya sudah sedikit turun,'' jawab Sakti.


''Benarkah?'' Evina langsung masuk ke dalam dan menghampiri Arezz di dalam kamarnya dengan perasaan dan wajah yang terlihat sangat cemas.


''Kamu Demam?'' tanya Evina yang sudah duduk di samping Arezz.


Arezz mengangguk lalu tersenyum kecil.


''Maaf, pasti ini semua gara-gara aku, andai saja aku tidak memintamu untuk membantu ku semalam, mungkin dirimu tidak akan sakit seperti ini,'' Evina tampak menyesal.


''Tidak... ini sama sekali bukan gara-gara kamu, aku melakukannya karena kemauan ku sendiri, dan aku pun senang bisa membantu mu,'' ujar Arezz.


''Tapi tetap saja aku yang membawamu ke sana,'' Evina dengan menunduk.

__ADS_1


''Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, aku hanya demam biasa, nanti juga sembuh sendiri,'' Arezz mencoba menenangkan.


''Sebagai permintaan maaf ku, aku berjanji akan merawatmu selama kamu sakit,'' Evina.


''Sungguh..?'' Arezz terlihat senang.


Evina mengangguk.


''Sekarang kamu tunggu sebentar, aku akan membuatkan bubur untukmu,'' ujar Evina, yang hanya di jawab dengan anggukan kecil oleh Arezz.


Evina beranjak lalu kembali ke tempat tinggalnya.


30 menit kemudian dia pun kembali dengan membawa satu mangkuk berisikan bubur yang dia masak sendiri.


''Kamu buat sendiri?'' tanya Arezz.


''Iya... mudah mudahan rasanya enak,'' Evina lalu hendak menyuapi satu sendok penuh ke dalam mulut Arezz.


''Aaaaa....'' mulut Evian ikut menganga sambil meminta Arezz membuka mulutnya.


Arezz menerima sesuap demi sesuap sendok yang di berikan kepadanya dengan selalu tersenyum dan pandangan yang tidak pernah luput dari wajah Evina, hingga akhirnya mangkuk pun terlihat kosong.


''Terima kasih ya,'' ucap Arezz.


Evina hanya menjawab dengan senyuman. Setelah membantu nya meminum segelas air putih, Evina juga membantu Arezz untuk kembali berbaring setelah sebelumnya meminum obat penurun panas terlebih dahulu.


''Apa kamu sudah memikirkan jawaban atas perasaanku?'' tanya Arezz secara tiba tiba.


''Jangan memikirkan hal itu, sekarang pokus saja dulu dengan kesehatanmu, jika kamu sudah benar benar sehat, aku berjanji akan memberikan jawaban seperti yang kamu harapkan,'' jawab Evina, lalu menutup tubuh Arezz dengan selimut tipis.


Arezz tampak senang mendengar ucapan Evina, dirinya berjanji akan segera sembuh agar bisa sesegera mungkin mendapat jawaban atas pernyataan cintanya.


Evina pun bangkit dan pamit berdiri hendak kembali ke tempat tinggalnya, lalu Arezz meraih pergelangan Evina.


''Bagaimana luka mu?'' tanya Arezz.


''Luka ku sudah baik baik saja, kamu tak usah khawatir,'' jawab Evina dan hendak melangkah.


Namun Arezz belum melepaskan genggaman tangan nya,membuat Evina menoleh dan menatap ke arah Arezz dengan sedikit tersenyum.


''Jangan membuatku menunggu terlalu lama,'' ujar Arezz dengan tatapan sendu.


Evina hanya mengangguk lalu benar benar melangkah meninggalkan Arezz.

__ADS_1


*****


__ADS_2