
Sang pangeran mendekap dengan erat tubuh Evina, meski gadis itu berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan kedua tangan Pangeran, namun usahanya sia-sia karena tangan kekar itu mendekap dirinya dengan begitu kuat.
''Saya mohon lepaskan saya Pangeran, sebelum ada pelayan yang melihat kita,'' pinta Evina masih dengan usahanya untuk bisa lepas dari dekapan kedua tangan pangeran.
''Tidak...! tolong biarkan aku seperti ini sebentar saja..!'' kemudian terdiam sejenak.
''Aku punya permintaan terakhir kepadamu setelah itu aku berjanji tidak akan pernah mengganggumu lagi,'' ujar sang pangeran lalu melepaskan kedua tangannya.
''Apa itu?''
''Izinkan aku untuk pergi berdua denganmu, terakhir kalinya sebelum kau benar benar menjadi istri dari adikku, aku mohon...! setelah itu akan akan benar benar melupakanmu dan mengikhlaskan dirimu menikah dengan si Brendan,'' ucap sang pangeran dengan menatap lekat wajah gadis pujaan hati nya.
Evina tampak terdiam, dia seperti sedang memikirkan ucapan yang baru saja di lontarkan oleh pangeran Arezz.
''Mengapa kamu diam?'' tanya pangeran yang merasa heran karena tidak mendapat kan jawaban apapun dari bibir Evina.
Evina masih bungkam, mulutnya seperti tidak dapat di gerakan.
''Baik Ev, aku tidak akan menunggu jawaban darimu sekarang. Besok aku tunggu kamu di lorong belakang istana, pukul 6 pagi, aku akan tunggu kamu di sana sampai kamu datang,'' ujar pangeran lalu berbalik dan berjalan meninggalkan kamar Evina.
Evina masih berdiri mematung, memandang punggung sang pangeran yang berjalan semakin jauh sampai akhirnya menghilang di balik pintu.
Ia pun duduk di atas ranjang, hatinya di selimuti perasaan gelisah yang kini menyelimuti seluruh relung jiwanya, dirinya sedang memikirkan tawaran yang baru saja dia dengar dengan dari mulut pangeran.
Apakah ia harus menerima ajakan calon kakak iparnya itu? atau apakah ia harus menolaknya? hatinya bagai di hadapkan pada sebuah dilema, haruskan ia menuruti kata hatinya yang paling dalam? batinnya sungguh bergejolak hebat antara dua pilihan.
**
Keesokan harinya.
Pangeran tampak sedang berdiri bersandar tembok besar di belakang punggungnya, ia menunggu kehadiran Evina yang sangat diyakininya bahwa dia akan segera datang.
Sudah hampir jam 7 pagi, namun wajah Evina belum juga terlihat bahkan dari kejauhan, tapi sang pangeran masih belum menyerah, dirinya memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa wanita yang di cintai nya itu akan menerima ajakan dirinya pergi berdua untuk yang terakhir kalinya.
Dan akhirnya harapan dan keyakinannya tidak sia sia, karena wanita yang di tunggunya benar benar datang, Evina berjalan mendekat dengan senyum mengembang dari kedua sisi bibir mungilnya.
__ADS_1
Ia pun tampak sangat cantik dengan menggunakan dress putih pendek di atas lutut, serta rambut panjang bergelombang nya dibiarkan terurai begitu saja memenuhi punggung kecilnya.
Hati pangeran terlihat sangat bahagia, hingga bibirnya tidak berhenti mengembang dan senyum itu senantiasa selalu menghias sembari menatap wanita yang di tunggu nya berjalan, sampai akhirnya tiba di hadapan dirinya.
''Maaf ya, harus membuat mu menunggu lama,'' ujar Evina yang sudah berdiri di hadapan sang pangeran.
''Tidak apa apa, yang penting kamu datang, aku sama sekali tidak keberatan meski harus menunggu seharian,'' jawab pangeran.
Mereka pun berjalan bergandengan, menuju ke arah mobil yang sudah di siapkan oleh Sakti di luar istana.
Sakti yang sudah menunggu lama di dalam mobil akhirnya melihat kedatangan kedua junjungannya, ia pun keluar dan hendak membukakan pintu mobil untuk pangeran.
''Untuk hari ini, kau boleh beristirahat, aku akan pergi berdua saja dengan Evina,'' ujar pangeran.
''Maaf pangeran, maksudnya bagaimana? saya tidak bisa meninggalkan pangeran di luar istana sendirian,'' jawab Sakti yang merasa heran.
''Sudahlah... hari ini kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan, bila kau ingin berkencan dengan wanita yang kau sukai juga boleh, pokoknya hari ini kau di bebas tugaskan,'' pangeran membukakan pintu untuk Evina.
''Tapi pangeran--'' Sakti mencoba menahan, namun pangeran tidak menghiraukan ucapanya dan masuk begitu saja ke dalam mobil.
Sementara itu, Pangeran Arezz dan Evina tampak tersenyum di dalam mobil, mereka saling menautkan tangan, menggenggam dengan erat jemari masing masing, seolah ingin melupakan sejenak masalah yang sedang mereka hadapi di belakang.
''Kita mau kemana?'' tanya Evina sambil menatap wajah sang pangeran dengan senyum mengembang.
''Tempat pertama yang ingin aku kunjungi adalah cafe Monalisa,'' jawab Pangeran dengan sedikit menoleh ke arah Evina.
''Kamu serius mau ke sana?''
Pangeran mengangguk.
''Kenapa?''
''Aku hanya ingin mengenang setiap kenangan yang pernah kita jalani, sebelum aku benar benar melupakan nya,'' jawabnya datar.
Evina tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
Dan setelah menempuh perjalanan selama dua jam, mereka berdua pun akhirnya sampai di cafe Monalisa tempat dimana mereka pernah bekerja dahulu.
Beberapa karyawan yang bekerja di sana nampak menatap kedua orang yang baru saja keluar dari dalam mobil dengan mulut menganga, seperti sangat terkejut dengan kedatangan dua mantan rekan kerjanya, yang tentu saja mereka semua sudah mengetahui jika mantan rekannya itu adalah seorang pangeran.
Bos Alberto yang berdiri di balik pintu langsung menghampiri pangeran dengan tersenyum lebar, ia pun mempersilahkan pangeran dan juga Evina untuk duduk di dalam cafe yang sudah di siapkan secara khusus untuk mereka berdua.
Sebuah meja tampak telah di siapkan secara khusus, dengan bunga dan lilin telah tertata rapi di atas meja, tak lupa hidangan spesial dari cafe itu pun segera di siapkan dan di tata langsung oleh bos Alberto sendiri.
''Silahkan nikmati waktu kalian berdua, pangeran...'' ujar bos Alberto lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
''Kamu sengaja nyiapin ini semua buat kita?'' tanya Evina.
''Iya...! aku menyuruh sakti datang ke sini pagi pagi sekali untuk meminta Alberto menyiapkan meja spesial ini untuk kita, bagaimana apa kamu suka?''
Evina mengangguk lalu tersenyum.
''Ayo di makan, masakan ini spesial di masak oleh bos Alberto sendiri lho,'' ucap pangeran.
''O ya...?'' Evina mulai menyendok sedikit demi sedikit makanan yang tersaji di atas piring lalu memasukkan ke dalam mulut mungilnya.
Setelah selesai mengisi perut mereka dengan makanan, pangeran pun mengajak Evina berjalan jalan, ia membawa nya ke sungai yang terdapat air terjun tinggi yang dahulu pernah di singgahi oleh mereka.
''Kamu masih ingat tempat ini?'' tanya pangeran sambil menatap ke sekeliling.
Evina mengangguk.
''Tentu saja,'' jawab nya singkat.
Tak lama kemudian Evina pun membuka sepatu yang ia pakai di kakinya lalu berjalan ke dalam air.
''Kamu mau apa?'' tanya sang pangeran.
''Mau bermain air...! sebetulnya waktu itu aku ingin bergabung dengan kalian bermain di dalam sungai, namun aku terlalu malu untuk mengatakannya kepada kalian, mumpung hanya ada kita berdua di sini, aku Ingin melakukan nya sekarang."
__ADS_1
*****