KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Tubuh Kurus


__ADS_3

Evina keluar dari kamar Pangeran Arezz, dan sang pangeran pun tampak mengantarkan Evina sampai di depan pintu.


''Sakti, tolong antara Evina sampai tempat istirahat nya dengan selamat,'' ujar sang pangeran kepada pengawal pribadinya.


''Baik pangeran,'' jawab Sakti dengan membungkukkan tubuhnya.


Evina berjalan meninggalkan kamar pangeran setelah sebelumnya membungkuk terlebih dahulu kepada pangeran seperti yang dilakukan Sakti.


Pangeran menatap kepergian wanita yang di cintai nya. Lalu dirinya berfikir andai saja tadi dia terlambat untuk datang ke kamar adiknya, mungkin saja sekarang Evina sudah kehilangan kesuciannya.


Seperti nya ia harus segera memikirkan cara untuk bisa melindungi wanita yang di cintai nya, agar adik nya tidak lagi dapat mengganggu atau menyentuh Evina lagi.


Kemudian Pangeran Arezz masuk ke dalam kamar dan menutup pintu nya kembali.


Sakti dan Evina berjalan beriringan menuju tempat istirahatnya, Sakti tampak tersenyum melihat tubuh Evina.


''Kenapa memandangiku seperti itu?'' tanya Evina yang menyadari jika Sakti sedang menatap dirinya sambil tersenyum.


''Aku hanya tidak menyangka dapat bertemu denganmu lagi di sini, beberapa hari lalu aku dan Pangeran sempat mendatangi kota Barsom dan ingin menemuimu, namun ternyata kamu sudah tidak berada di sana, Pangeran terlihat sangat kecewa saat itu, namun aku sungguh tidak menyangka karena sebenarnya kalian berada di tempat yang sama,'' jawab Sakti dengan sedikit tersenyum.


''Mungkin ini takdir...! aku juga tidak menyangka dapat bertemu kembali dengan Arezz, ehh... maksud aku Pangeran Arezz.''


'' Oh ia Ev... Tubuh mu terlihat lebih langsing dari waktu terakhir kali kita bertemu.''


''Mungkin maksudmu lebih kurus bukan lebih langsing,'' jawab Evina dengan tersenyum.


''Ya seperti itulah maksudku, ha..ha..ha..!'' Sakti tertawa.


''Aku harap kamu tidak mengecewakan Pangeran, karena dia sangat mencintaimu, selama aku melayaninya baru kali ini aku melihat dia jatuh cinta dengan seorang wanita.''


''Benarkah...?'' jawab Evina datar.


Sakti hanya mengangguk.


''Entahlah... Rasanya aku tidak pantas bersanding dengan pangeran, tubuhku terlalu kurus untuk mendampingi laki-laki tampan seperti pangeran,'' jawabnya lagi sambil sedikit bercanda.


''Ha.. ha.. ha..'' Sakti kembali tertawa.


Tak terasa akhirnya mereka sampai juga di tempat peristirahatan Evina. Evina hendak masuk ke dalam kamarnya namun sebelumnya dia mengucapkan Terima kasih terlebih dahulu kepada Sakti karena telah mengantarnya dengan selamat.


''Tunggu ev...'' sakti menghentikan langkah Evina.


''Ada apa lagi...?''

__ADS_1


''Sepertinya mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati jika bertemu dengan pangeran Brendan, dia adalah tipe laki-laki yang akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan wanita yang dia inginkan,'' ujar Sakti.


Mendengar perkataan tersebut membuat Evina sedikit ketakutan.


''Jangan bicara seperti itu, ucapanmu itu membuatku tidak nyaman berada di istana ini, dan merasa takut jika suatu saat berpapasan dengan pangeran Brendan,'' jawab Evina dengan wajah khawatir.


''Aku tidak bermaksud untuk menakutimu, aku hanya ingin kamu waspada dan hati hati berada di istana ini, meskipun aku yakin jika Pangeran akan melindungimu dengan segenap jiwa nya, karena dia sangat mencintaimu.''


''Aku berterima kasih padamu,karena telah mengingatkanku, mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati, dan sebisa mungkin menghindari Pangeran Brendan.''


''Baiklah kalau begitu aku permisi.''


Kemudian Sakti melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Evina.


***


Ke esokan harinya.


Putri Elisa tampak sedang berjalan di dalam istana, dirinya hendak menemui sang Kaka yaitu pangeran Arezz.


Tok tok tok


Sang putri terlihat mengetuk pintu tiga kali, lalu dirinya masuk ke dalam kamar tanpa dipersilahkan dahulu oleh pemiliknya.


''Putri...! biasakan jika masuk ke kamar orang lain, mengetuk pintu dahulu,'' ucap sang pangeran tanpa menoleh ke arah adik bungsunya.


Putri tidak menghiraukan sama sekali ucapan kaka nya dan duduk begitu saja di di samping sang kakak.


''Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Kaka,'' ucap sang putri.


''Apa...?''


Masih tanpa menoleh.


Lalu putri pun kesal dengan ekspresi sang Kaka seolah tidak menganggap ucapannya. Putri pun mengambil Buku yang sedang di baca Pangeran Arezz dan meletakkannya di atas meja.


''Aku serius kak...'' sesaat setelah melepaskan buku di tangannya.


''Baiklah...! apa yang engkau katakan?'' jawab Pangeran Arezz menatap sang adik dengan sangat serius.


''Apa kakak tahu apa yang terjadi dengan ayahanda?''


''Memangnya kenapa?''

__ADS_1


''Dua hari yang lalu beliau mengunjungi ku, Ayahanda menyuruhku segera menikah, dan berbicara seolah olah beliau akan pergi meninggalkan kita semuanya, aku sungguh sedih mendengar beliau mengucapkan hal tersebut,'' ucap putri Elisa dengan raut wajah sedih.


''Benarkah...?''


Putri mengangguk.


''Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, mungkin ayahanda memang ingin segera memiliki cucu, beliau juga menyuruh kaka untuk segera menikah,'' sang pangeran mencoba untuk menenangkan adik nya.


''Memangnya Kaka sudah ada calon pendamping? atau wanita yang Kaka cintai?''


Pangeran hanya terdiam lalu tersenyum.


''Apa beneran ada?'' sang putri tampak mengerti dengan arti senyuman yang mengembang di bibir sang kaka.


''Siapakah wanita beruntung itu? aku sungguh penasaran,'' ucap sang putri dengan wajah tersenyum lebar.


Belum sempat Pangeran menjawab semua pertanyaan adiknya, tiba tiba pintu pun di ketuk dan Evina masuk ke dalamnya dengan membawa satu keranjang buah buahan lengkap dengan piring kecil dan pisau untuk mengupas buah.


''Permisi pangeran, saya membawa buah buahan yang anda pesan,'' ucap Evina dengan pandangan sedikit membungkuk.


''Baik...! simpan saja di meja itu,''


jawab pangeran Arezz dengan matanya yang terus memandangi wajah Evina seolah tanpa berkedip sedikitpun.


Evina pun berjalan menuju meja dan meletakan keranjang buah yang di bawanya di atas meja, yang berada tepat di hadapan Pangeran Arezz dan juga Putri Elisa.


Sang putri tampak memperhatikan pandangan sang kaka, yang seolah tidak lepas dari wajah pelayan yang berada di hadapannya, putri Elisa pun mengerti jika wanita yang di sukai olek Kaka nya adalah pelayan cantik dengan tubuh ramping yang saat ini sedang berada tepat di hadapan dirinya.


Setelah menyimpan dan menata dengan rapi keranjang buah di atas meja, Evina pun membungkuk memberi hormat lalu keluar dari kamar pangeran.


''Hei...!'' Putri Elisa mengusap wajah sang kaka dengan telapak tangannya, yang sontak membuat Pangeran menyudahi pandangan nya terhadap Evina.


''Dia wanita itu kan?'' tanya Putri.


''Siapa...?'' pangeran pura pura tidak mengerti dengan ucapan adiknya.


''Sudahlah tidak usah mengelak lagi, aku mengerti arti dari pandangan Kaka terhadapnya, sorot matamu itu memancarkan cinta yang mendalam kepada wanita tadi,'' putri terlihat mengejek.


Pangeran hendak mencubit pipi adiknya,namun tiba tiba Sakti masuk ke dalam kamar.


Sikap putri Elisa mendadak berubah ketika Sakti mulai memasuki kamar, dia yang tadinya duduk dengan seenaknya tiba tiba saja merapikan posisi duduknya seolah ingin terlihat anggun di hadapan Sakit.


*****

__ADS_1


__ADS_2