
Sakti dan Evina tampak merasa heran dengan perubahan sikap Bos Alberto, dirinya yang semula bersikap kasar dan berkata akan memecat ketiga karyawannya kini berbanding terbalik setelah berbicara hanya berdua dengan Arezz.
Arezz hanya tersenyum melihat perubahan sikap Bos Alberto. Lain halnya dengan Sakti dan Evina yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
''Oh ya... kalian bertiga mulai sekarang tidak usah bertugas menjadi pencuci piring lagi, sekarang kalian saya pindahkan ke bagian pelayanan, terutama Arezz,'' ujar bos Alberto.
''Serius bos?'' tanya Sakti dan juga Evina.
Bos Alberto mengangguk. Kemudian dirinya pergi meninggalkan mereka.
Merekapun terlihat sangat senang dan tersenyum gembira. Para pelayan lain yang melihat kejadian tersebut merasa sangat heran dengan apa yang dilakukan oleh bos mereka.
Apa mungkin Arezz telah menghipnotis Bos mereka, ucap salah satu pelayan dalam hatinya.
Begitupun dengan Larissa, gadis cantik berambut pendek itu pun tak henti hentinya menggelengkan kepala tanda tak percaya, bos Alberto bukan tipe orang yang akan memaafkan kesalahan karyawannya.
Bahkan kesalahan sekecil apapun yang di lakukan karyawannya, Bos Alberto selalu menindak tegas, bahkan bisa tanpa rasa ragu akan memecat nya.
Larissa yang sudah hampir dua tahun bekerja di sana sudah sangat tahu watak dari bos Alberto, seperti nya dirinya harus menyelidiki apa yang terjadi,mengapa Bosnya tersebut bisa mengalami perubahan sikap seperti ini.
Larissa menghampiri Arezz.
''Arezz... apa yang kamu katakan sama bos? sampai bos bisa merubah fikiran nya untuk memecat kalian?'' tanya Larissa.
Arezz hanya diam saja mendengar pertanyaan Larissa.
''Kepo banget si jadi orang,'' Evina menghampiri keduanya dan mengganti kan Arezz menjawab pertanyaan yang di lontarkan Larissa .
''Ya jelas lah aku kepo, rasanya aneh banget Bos bisa berubah fikiran secepat itu,'' sungut Larissa.
''Aku tidak bilang apa apa sama Bos, jika kamu penasaran silahkan saja tanyakan sama dia langsung,'' jawab Arezz.
''Untung saja kamu tampan, jika tidak sudah aku jitak kepalamu ini,'' Larissa terlihat kesal.
Lalu dia pun pergi meninggalkan ketiganya dengan wajah masam dan perasaan kesal.
Sepeninggal Larissa, Sakti dan Evina menarik Arezz keluar dari dalam cafe, mereka bertiga duduk di kursi yang berada di luar cafe.
''Kamu bicara apa sama bos sampai dia tidak jadi memecat kita?'' tanya Evina.
''Rahasia dong,'' jawab Arezz.
Arezz melirik ke arah Sakti, seolah dirinya memberikan kode, sesuatu yang tidak diketahui oleh Evina.
Sakti membelalakan matanya, seolah dia pun mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh Areez.
__ADS_1
''Jangan-jangan kamu telah memberitahukan Bos Alberto tentang...'' Sakti tidak meneruskan ucapannya.
Arezz mengangguk lalu tersenyum.
''Kita bicarakan lagi ini nanti ya,'' ucap Arezz.
Sementara Evina hanya mendengarkan percakapan keduanya dengan tatapan heran, dirinya sungguh tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
''Kalian berdua ini ngomongin apa sih? jangan-jangan kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari aku ya?'' tanya Evina.
Arezz dan Sakti pun melirik satu sama lain.
''Apa...?'' Arezz pura pura tidak mendengar ucapan Evina.
''Sudah sudah... Sekarang kita balik lagi ke dalam, cafe bentar lagi sudah mau buka,'' Sakti menarik tangan kedua temanya.
Ternyata Arezz memang telah memberitahukan identitas dirinya kepada bosnya tersebut, awalnya bos Alberto tidak percaya dan sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Areez.
Namun Akhirnya Arezz berhasil meyakinkan Bos Alberto jika dirinya adalah seorang pangeran yang sedang mengasingkan diri dari istana.
Dan semenjak Bos Alberto mengetahui identitas arezz yang sebenarnya, sikapnya menjadi sangat baik kepada Arezz dan kedua temanya.
***
Sudah satu bulan Arezz dan Sakti bekerja di tempat itu, Bos Alberto pun terlihat sangat baik dan bahkan memberikan gaji yang berbeda terutama kepada Arezz, meski hal itu dia rahasia kan dari karyawannya yang lain.
Sampai tiba tiba Bos Alberto masuk ke dalam cafe dengan membawa satu lembar kertas yang berisikan potret Arezz lengkap dengan pengumuman bahwa Arezz sedang dicari oleh istana.
Bos Alberto menarik tangan Arezz ke dalam ruangan pribadinya, lalu menunjukkan selebaran tersebut kepada arezz.
''Ini apa?'' Arezz menerima lembaran kertas itu di tangannya.
Dirinya sangat terkejut melihat isi dari selembaran tersebut, sepertinya Baginda Raja yang merupakan ayah kandungnya sudah sangat serius untuk segera membawanya kembali ke istana.
''Dari mana Bos mendapatkan selebaran ini?''
''Saya mendapatkan ini di tempel di sebuah toko yang berada di ujung jalan, dan sepertinya masih banyak lagi tertempel di tempat lainnya,'' jawab Alberto.
''Bos serius?''
Bos Alberto mengangguk.
Sepertinya keberadaan dirinya di kota ini sudah diketahui oleh Baginda Raja, apa mungkin dirinya harus segera meninggalkan kota tersebut? hatinya berucap.
Tapi dia tidak ingin meninggalkan Evina yang baru saja di dekatinya selama satu bulan.
__ADS_1
''Bos boleh kah hari ini aku pulang lebih cepat? ada sesuatu yang harus segera aku urus,'' pinta Arezz.
''Tentu saja boleh, kamu bisa menggunakan waktumu sepuasnya,'' jawab Bos Alberto.
''Terima kasih bos,'' Arezz bergegas keluar dari ruangan itu dan menarik Sakti untuk segera pergi bersamanya.
Evina tampak heran melihat kedua temannya tersebut pergi dengan sangat terburu-buru.
Dirinya hendak mengejar, namun Bos Alberto keluar dari ruangan pribadinya, sehingga Evina mengurungkan niatnya untuk mengejar kedua temannya.
''Kamu mau kemana Evina?'' tanya Bos Alberto.
''Tidak Bos saya tidak akan kemana-mana,'' jawab Evina dengan menghentikan langkah kakinya.
Lalu dirinya kembali ke tempat di mana seharusnya dia bekerja.
Arezz dan Sakti menyusuri jalanan untuk mencari selebaran yang ternyata sudah ditempel di banyak tempat, mereka berdua memakai topi serta masker yang menutupi wajahnya, agar tidak ada yang bisa mengenali mereka.
Keduanya melepaskan tiap selebaran yang mereka temui, satu persatu. Namun ternyata jumlahnya sangat banyak, sungguh di luar dugaan mereka.
''Bagaimana ini? sepertinya jumlahnya sangat banyak, apa mungkin kita akan dapat melepas semuanya?'' tanya Sakti.
''Bagaimanapun kita harus segera menyingkirkan semua ini, sebelum para penduduk di sini menyadari kehadiran kita,'' jawab Arezz.
''Baik pangeran,'' jawab Sakti.
Hampir seharian mereka berdua melakukan hal tersebut, hingga hari pun akan segera gelap.
''Kita sudahi dulu untuk hari ini, sepertinya sudah tidak ada lagi selebaran yang terpasang,'' pinta Arezz.
Sakti mengangguk, dan mereka berdua kembali ke tempat tinggalnya.
Sesampainya di sana tampak Evina yang sudah menunggu mereka berdua di depan kediamannya.
''Kalian habis dari mana? apa pengawal kerajaan mencari kalian lagi?'' tanya Evina.
''Kami ada urusan mendesak,'' jawab Sakti.
Kemudian Evina memperhatikan lengan Sakti yang sedang memegang selebaran yang tadi mereka ambil.
''Itu yang kamu pegang apa Sakti?'' tanya Evina.
Sakti dan Arezz tampak terkejut, lalu Sakti segera menyembunyikan selebaran itu di belakang punggungnya.
Kemudian Evina mendekat dan hendak meraih selebaran yang telah di sembunyikan di punggung Sakti.
__ADS_1
*****