KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Depresi


__ADS_3

Pangeran Arezz mendekap dengan sangat kuat tubuh Evina yang kini sedang berontak sambil menangis histeris, tangannya tampak memukul bahkan mencakar lengan sang pangeran.


Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan kekasihnya tersebut, dirinya hanya bisa ikut menangis karena merasa sangat pilu melihat kekasih tercintanya dalam keadaan seperti itu.


Tak lama kemudian Dokter masuk ke dalam ruangan bersama Sakti yang terlihat berjalan di belakang nya.


Dokter pun segera memberikan obat penenang yang ia suntikan ke dalam labu infus. Akhirnya tanpa menunggu lama Evina pun kembali tenang dan memejamkan matanya yang nampak sudah basah dengan air mata.


Pangeran menatap wajah sang kekasih dengan perasaan sedih, seharusnya dirinya tidak pergi meninggalkan wanita pujaan hatinya tersebut di dalam istana.


Ia sungguh menyesal dan merasa terpuruk melihat Evina gadis yang sangat di cintai nya dalam keadaan yang sangat mengenaskan.


''Apa yang terjadi dengan dia Dokter?'' tanya sang pangeran.


''Sepertinya pasien mengalami Depresi, penyebabnya sendiri masih belum bisa di pastikan, namun yang pasti pasien ini telah mengalami kejadian yang teramat pahit hingga membuat jiwanya terguncang,'' ucap sang Dokter.


Pangeran Arezz menunduk lesu, apa yang sebenarnya sudah di alami Evina hingga membuat nya Depresi?


Pertanyaan seperti itu melintas di fikiran ya, ia tak tahu harus bertanya kepada siapa, karena yang mengetahui hal tersebut hanya lah Evina sendiri.


Dokter pun permisi dan keluar dari dalam ruangan, sang Dokter mengatakan besok pagi Evina sudah bisa di pindahkan ke ruangan Rawat Inap untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut lagi.


Pangeran Arezz mengangguk tanda mengerti.


Sepeninggal Dokter, kini tersisa pangeran Arezz dan juga Sakti yang berada di sana, tangan pangeran tampak merapikan rambut panjang bergelombang milik Evina yang terlihat berantakan tak beraturan.


''Apa yang akan kita lakukan pangeran?'' tanya Sakti menunggu perintah dari junjungannya.


Sang pangeran terdiam seperti sedang berfikir, matanya tampak tidak sedikit pun luput memandangi wajah cantik Evina yang terlihat muram sambil terpejam.


''Sepertinya aku harus segera kembali ke istana,'' ujar nya.


''Lalu siapa yang akan menjaga Evina di sini?''

__ADS_1


''Aku akan menyuruh Adikku Elisa untuk menemani dia di sini.''


''Baik pangeran, saya akan segera mematuhi perintah mu.''


''Jika hari sudah terang, kamu segera jemput Putri Elisa kemari, agar aku bisa dengan tenang meninggalkan Evina di sini,'' ucap sang pangeran.


***


Pagi pun datang, pangeran Brendan tampak masih tertidur pulas dengan masih dalam keadaan polos tanpa pakaian.


Pendakian nya semalam bersama Evina benar benar membuat tubuhnya terasa segar dan tidur seperti orang yang sedang pingsan.


Saat matahari sudah sedikit naik dan sinarnya mulai masuk melalui celah jendela kamarnya, ia pun mulai membuka mata, tangannya nampak meraba ke sebelah tempat nya berbaring mencari keberadaan wanita yang semalam telah ia renggut mahkotanya secara paksa.


Ia sedikit tersenyum mendapati wanita tersebut sudah tidak berada di sana, kemudian ia pun bangkit dan meraih pakaiannya yang tergeletak begitu saja di atas lantai.


Setelah semua pakaian nya lengkap ia kenakan, ia pun berjalan hendak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, namun langkah nya seketika terhenti karena mendengar teriakan keras berasal dari luar kamar nya.


Braaakk....


Pintu terbuka dengan cara di tendang, matanya sangat terkejut mendapati kakaknya berjalan menghampiri dirinya dengan wajah marah dan kepalan tangan yang siap menghantam dirinya.


Lalu sedetik kemudian...


Buukkk....


Wajahnya di hantam oleh kepalan tangan sang Kaka hingga membuatnya terbanting jauh dan tersungkur di atas lantai.


Tak hanya itu, pangeran Arezz kembali mencengkram kerah baju sang adik dan melayangkan bogem mentahnya kembali secara bertubi tubi.


Wajah Pangeran Brendan yang semula terlihat segar kini berubah merah bersimbah darah, hantaman keras yang di layangkan oleh sang Kaka membuat wajah tampannya berubah seolah ketampanan itu sudah tak terlihat lagi.


Andai saja Sakti tidak menghentikannya, mungkin saja pangeran Brendan sudah menjadi seonggok mayat karena telah menjadi sasaran empuk dari amukan pangeran Arezz.

__ADS_1


''Cukup pangeran,'' Sakti tampak mencengkram tubuh pangeran Arezz dengan kedua tangannya.


''Lepaskan...'' pangeran mencoba berontak.


''Apa yang sebenarnya membuatmu marah seperti ini padaku?'' tanya Pangeran Brendan sambil mencoba berdiri dan mengusap darah segar di wajahnya.


Sebenarnya ia sendiri tahu jawaban dari pertanyaan nya tersebut, namun ia sama sekali tidak menyangka jika sang Kaka akan tahu dengan begitu cepat tentang apa yang sudah ia lakukan kepada Evina.


''Brengsek kamu...'' ujar pangeran dan hendak kembali menghantamkan kepalan tangannya, namun Sakti masih mendekap dirinya dengan kedua tangan kekarnya, sehingga usahanya pun sia sia.


Saat pangeran Brendan sudah mulai berdiri kembali, sang Kaka tampak melayangkan kaki jenjangnya ke arah pangeran Brendan dan tepat mengenai perut datarnya dengan keras sehingga membuat pangeran Brendan kembali tersungkur ke atas lantai.


Bukannya menyesal dan meminta maaf atas semua yang telah ia lakukan kepada Evina, Pangeran Brendan malah tersenyum dan tertawa seperti orang gila sambil mencoba kembali bangkit dan berdiri.


''Ha..ha..ha..! Kamu tidak usah khawatir kak, aku akan bertanggung jawab dan segera menikahi Evina, bukankah seperti itu yang biasa di lakukan oleh seorang laki laki yang sudah menodai dan merenggut kesucian wanita?'' ujar pangeran Brendan dengan tawa yang masih menggelegar di seisi ruangan.


''Kamu benar benar kurang ajar...''


''Aku bersumpah akan membun*** mu Brendan,'' jawab pangeran Arezz dengan sangat geram.


''Coba saja Bu***h aku, jika kau melakukannya maka citra mu sebagai seorang pewaris tahta akan tercoreng karena telah melenyapkan adik kandungnya sendiri,'' ujar pangeran Brendan masih dengan tawa kecil di bibirnya.


''Sudah pangeran, saya mohon kendalikan emosi mu,'' ucap Sakti masih dalam keadaan mendekap junjungannya dari arah belakang.


Sakti membawa pangeran Arezz keluar dari dalam kamar, tangan kekarnya ternyata cukup ampuh membuat sang pangeran tak bisa bergerak atau pun memberontak.


Di luar kamar para pelayan tampak berkerumun menyaksikan dua pangeran yang sedang bersitegang, banyak dari mereka yang sudah dapat menebak jika kedua pangeran tersebut sedang berkelahi untuk memperebutkan satu wanita yang sudah mereka kenal, yaitu Evina.


Tak sedikit dari mereka yang berbisik dan merasa iri karena gadis itu di perebutkan oleh dua pangeran tampan, mereka seperti sedang saling bertaruh siapa yang akan di pilih oleh Evina sebagai kekasihnya kelak, tanpa mereka ketahui jika pangeran Arezz sebenarnya adalah kekasih sesungguhnya dari gadis yang sedang mereka bicarakan itu.


Lalu mereka mulai berhamburan keluar saat melihat pangeran Arezz keluar dari dalam kamar, kembali mengerjakan pekerjaan mereka masing masing seolah tidak melihat apapun.


*****

__ADS_1


__ADS_2