
Evina di bawa ke Rumah Sakit oleh pangeran Brendan, yang juga di temani oleh beberapa pengawal pribadi mereka.
Sesampainya di Rumah Sakit, Evina segera di bawa ke Ruang Unit Gawat Darurat, Dokter tampak mengenali sosok Evina yang waktu itu sempat di rawat nya sewaktu Evina mengalami Depresi.
''Tolong selamat kan dia Dokter,'' ujar pangeran Brendan.
''Baik pangeran, akan saya usahakan, pangeran silahkan tunggu di luar,'' jawab sang Dokter.
Pangeran Brendan pun menunggu di luar dengan perasaan cemas, ia sungguh takut jika dia akan kehilangan istrinya, sungguh hatinya diliputi perasaan yang tak karuan.
Dokter pun keluar menghampiri pangeran.
''Kita akan segera melakukan tindakan operasi, seperti nya luka di pergelangan tangan Nyonya Evina mengalami infeksi, beliau juga sudah kehilangan banyak darah, sehingga saat ini kami membutuhkan transfusi darah secepatnya,'' Dokter menjelaskan.
''Apa golongan darahnya Dokter?''
''Golongan darah yang di butuhkan adalah golongan darah A, apabila ada saudara atau pun kerabat dekat yang memiliki golongan darah yang sama, di harap segera menginformasikan agar kondisi pasien bisa segera di ambil tindakan.''
Pangeran Brendan merasa frustasi, golongan darah yang ia miliki adalah A+, ia mengingat ingat siapa dari anggota keluarga nya yang memiliki golongan darah yang sama dengan Evina.
Akhirnya ia pun ingat, yang memiliki golongan darah A hanyalah kakaknya, sedangkan kedua adiknya sudah pasti golongan darahnya sama dengan dirinya.
Hatinya sungguh diliputi Dilema, apakah dia akan meminta bantuan kepada kakaknya atau tidak.
Sementara manis Evina tergantung dari transfusi darah yang harus segera dia terima.
Dokter pun kembali bertanya apakah ada anggota keluarga yang memiliki darah yang sama dengan pasien? Akhirnya mau tidak mau pangeran Brendan terpaksa akan meminta bantuan kepada kakaknya demi menyelamatkan sang istri.
Setelah berfikir cukup lama, Pangeran pun mengutus salah satu pengawal kerajaan untuk menjemput kakaknya yaitu pangeran Arezz.
Evina pun segera di bawa ke ruang operasi, karena keadaan nya sudah semakin memburuk dan takut tak tertolong lagi, Dokter pun berpesan agar jika pendonor sudah sampai di Rumah Sakit agar segera di ambil darah nya.
Sudah hampir satu jam namun pengawal yang sedang menjemput pangeran Arezz belum juga datang, sementara Evina sudah berada di ruang operasi.
__ADS_1
Pangeran Brendan menunggu dengan begitu cemas, entah mengapa hatinya diliputi rasa khawatir kepada istrinya, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini, meski awalnya menikahi sang gadis hanya karena terpaksa namun entahlah perasaan seperti ini seharusnya tidak dia rasakan, rasa khawatir, cemas dan takut kehilangan kini bercampur aduk di dalam relung hatinya.
Sampai akhirnya pengawal itu pun datang bersama sang Kaka, yang juga dampingi oleh Sakti bersama nya.
''Bagaimana keadaan Evina, Brendan?'' tanya sang Kaka sesaat setelah sampai di sana.
''Evina sedang berada di ruang operasi kak, dia membutuhkan darah golongan A,'' jawab Brendan dengan suara bergetar.
''Golongan darah ku A, aku siap mendonorkan darah ku berapa pun banyaknya.''
''Kaka silahkan masuk ke ruang operasi, Dokter sudah menunggu di sana.''
Pangeran Arezz segera memasuki ruang operasi, setelah di cek terlebih dahulu kondisi kesehatan sang pangeran, akhirnya nya ia pun segera di ambil darahnya bersama Evina di ruangan yang sama.
Pangeran Arezz berbaring di ranjang bersebelahan dengan gadis yang ia cintai, mata gadis itu tampak terpejam, bersama peralatan operasi yang nampak sudah terpasang dan siap untuk segera di ambil tindakan.
Kamu harus bertahan Ev, aku di sini, aku akan memberikan seluruh darah yang ku punya, jika kau memang membutuhkannya (batin pangeran Arezz)
Darah yang di ambil pun lumayan banyak, sehingga membuat tubuh sang pangeran merasa lemas, ia pun keluar dari ruang operasi setelah proses pengambilan darah pun selesai di lakukan.
''Dia masih di dalam, dokter masih melakukan tindakan operasi kepada dirinya, kita berdoa saja semoga operasinya lancar dan Evina segera sadar.''
Pangeran Brendan memapah sang Kaka, ia dapat melihat jika wajah dari kakaknya terlihat sangat pucat setelah darah dari dalam tubuhnya di diambil begitu banyaknya untuk menolong istrinya.
''Duduklah kak,'' ucap Pangeran Brendan.
Sang kakak pun duduk, ia membayangkan kembali wajah Evina saat sedang berbaring di dalam ruangan operasi tadi, dia pun berdoa segenap jiwa nya memohon kepada yang maha kuasa agar bisa menyelamatkan gadis yang bernama Evina tersebut.
Sakti yang juga berada di sana hanya bisa ikut berdoa di dalam hatinya, sungguh ia pun merasa iba dengan apa yang menimpa gadis yang sudah dia anggap seperti saudara baginya.
Operasi sudah berlangsung selama lebih dari satu jam, namun Dokter belum juga keluar untuk memberi kabar, semua yang berada di sana sudah menunggu dengan perasaan cemas.
Akhirnya Dokter pun keluar dari ruang operasi.
__ADS_1
''Bagaimana operasi nya Dokter?'' tanya pangeran Brendan menghampiri sang Dokter.
''Untunglah operasi berjalan dengan sangat lancar, kita hanya perlu menunggu pasien untuk siuman. Setelah itu kami akan melakukan kembali pengecekan kepada kondisi vital pasien, jika seluruh alat vitalnya normal, maka pasien bisa segera di bawa ke ruang perawatan,'' jelas Dokter.
Semua yang berada disana merasa lega mendengarnya, Pangeran Arezz yang sedari menahan tubuhnya yang terasa sudah sangat lemas akhirnya nya ambruk seketika, membuat Sakti yang duduk di sebelahnya sontak di buat kaget karenanya.
''Pangeran...'' ucap Sakti dengan meraih tubuh pangeran Arezz dengan kedua tangannya.
Para perawat pun segera menghampiri dan membawa Pangeran Arezz ke ruang perawatan.
''Bagaimana kondisi pangeran Arezz suster?'' tanya sakti sesaat setelah memeriksa keadaan pangeran Arezz.
''Tidak apa apa Pangeran hanya mengalami kelelahan dan lemas setelah darahnya diambil, beliau hanya perlu beristirahat dan memakan makanan yang bergizi agar kondisi tubuh nya kembali normal.'' ujar sang perawat.
''Syukurlah, apakah saya boleh menemani pangeran Arezz di dalam?''
''Boleh..! silahkan masuk."
"Baik, terima kasih suster."
Sakti pun segera masuk ke dalam ruangan, di sana dia pun melihat sang pangeran berbaring dengan infus yang terpasang di pergelangan tangan kirinya, matanya pun tampak masih terpejam, membuat Sakti sangat cemas melihatnya.
Tak lama kemudian sang adik pun masuk ke dalam sana, ia berdiri di samping Sakti yang sedang memandangi wajah junjungannya.
"Bagaimana keadaan kakakku?" tanya pangeran Brendan.
"Beliau hanya kelelahan setelah di ambil darahnya, kita semua juga lupa, jika dia tadi sempat terkurung di bawah reruntuhan cafe Monalisa, sehingga itu memperburuk keadaannya," jawab Sakti tanpa menoleh.
"Syukurlah, kamu jaga kakakku dengan baik."
"Baik Pangeran," Sakti membungkukkan tubuhnya.
Pangeran Brendan pun kembali keluar setelah memastikan jika keadaan kakak nya baik baik saja.
__ADS_1
*****