
''Sini aku obati luka di tubuhmu,'' Raja Arezz menarik tubuh Evina, lalu ia membuka bagian belakang baju wanita itu yang memang sudah terlihat robek.
''Mengapa tubuhmu jadi seperti ini Ev...'' Raja nampak mengusap satu persatu luka sayatan yang terdapat di tubuhnya.
''Mengapa suamimu tega melakukan ini, pasti rasanya sakit sekali?''
Yang di ajak bicara pun hanya terdiam, hanya wajahnya sedikit mengernyit saat luka itu di beri obat berupa salep, di oles kan sedikit demi sedikit hingga seluruh luka tertutup oleh salep tersebut.
''Mengapa si Brendan tega melakukan ini? apa dia tahu tentang apa yang terjadi dengan kita dua hari yang lalu?''
Evina hanya mengangguk sambil sedikit terisak.
''Aku semakin yakin jika ada yang sengaja menjebak kita, agar kita melakukan hal tersebut, tapi aku tak tahu siapa yang berani melakukannya,'' Raja terlihat geram.
''Mungkinkah ini perbuatan Ratu Emilia?'' Evina memberanikan diri menyebut nama itu.
''Apa...? mengapa kau bisa berfikir seperti itu?''
''Hanya dia yang merasa terusik oleh hubungan aku dengan suamiku,'' dengan suara bergetar.
''Mengapa kau tidak pergi saja dari istana, memulai kehidupan baru di tempat terpencil yang tidak di ketahui oleh suami mu.''
''Maukah kau pergi bersamamu Baginda Raja?'' dengan tatapan sendu dan kelopak mata yang penuh dengan air mata.
''Maafkan aku,'' Raja menunduk.
Mendengar ucapan sang Raja membuat Evina pun segera kembali merapikan pakaiannya, Ia pun berdiri dan hendak pergi dari kamar yang mulia raja.
''Andai saja dulu kamu tidak membuat pilihan ini, mungkin sekarang kita sudah hidup bahagia di suatu tempat,'' ucapan Raja menghentikan langkah Evina.
''Maafkan aku, karena telah membuat pilihan yang salah,'' jawab Evina masih dengan deraian air mata.
Raja Arezz hanya terdiam, dia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, untuk menyelamatkan wanita yang sekarang berada di hadapannya agar bisa terbebas dari cengkraman adik nya yang bernama Brendan.
''Saya permisi Baginda, tidak baik jika saya terlalu berlama lama berada di sini,'' Evina pun berjalan dan benar benar keluar dari kamar besar Baginda Raja.
Yang mulia Raja hanya bisa menahan pilu menatap kepergian wanita yang masih sangat di cintai nya itu, andai saja dahulu mereka berdua pergi dari kerajaan ini mungkin saja kehidupan mereka sudah bahagia.
Ia pun hanya bisa meratapi nasib cintanya yang sungguh tragis, tanpa bisa merubah atau pun memperbaiki jalinan kisah cintanya.
__ADS_1
Mengapa hidupmu sangat menyedihkan Ev.. sebagai seorang Raja sekalipun aku tetap tidak bisa melindungi mu (Batin Raja berucap)
Sembari berlinang air mata, Evina berjalan menuruni satu persatu tangga yang membentang begitu panjangnya.
Entah ia akan sampai atau tidak ke bawah sana, dia hanya menapaki satu persatu dengan kakinya, mencoba terus berjalan sembari meratapi kehidupan pahit yang sedang ia jalani saat ini.
*
*
Beralih dari kisah cinta yang menyedihkan yang sedang di hadapi oleh Raja bersama wanita pujaan hatinya.
Putri Elisa nampak sedang berbunga bunga, hari ini ia akan mencoba mengungkapkan perasaanya kepada laki laki pujaan hatinya yaitu Sakti sang pengawal pribadi Raja Arezz.
Ia berdandan dengan sangat cantik, memakai gaun indah dengan polesan make up tipis di wajahnya. Hari ini ia akan menghampiri sendiri laki laki itu dan mengungkapkan semua isi hatinya.
Putri berjalan keluar dari dalam kamarnya, ia mencari keberadaan Sakti di istana yang begitu besarnya, hingga ia pun bertanya kepada setiap pelayan yang di temui nya.
Dan usahanya pun tidak sia sia, ia dapat menemukan Sakti berkat petunjuk dari salah satu pelayan yang ia tanya.
Sakti nampak sedang duduk di sebuah taman yang terletak di belakang istana.
"Lagi mikirin apa?" putri mengejutkan Sakti dengan langsung duduk di sampingnya.
"Putri...?"
"Sepertinya kamu sedang melamun? ada apa? apa ada yang mengganggu fikiran mu?"
"Tidak ko, saya hanya lelah" sambil merentangkan kedua tangannya seolah sedang melenturkan otot otot yang berada di pergelangan tangannya.
"Oh..." Putri mengangguk.
"Sakti...! bolehkan aku mengatakan sesuatu padamu?" sang putri dengan polosnya.
"Tentu saja putri, apa yang ingin kau bicarakan?" menoleh ke arah putri sebentar lalu kembali menatap ke depan.
"Aku menyukaimu," secara tiba tiba, membuat Sakti terkejut.
"Apa...?" menatap dengan pandangan tak percaya.
__ADS_1
"Apa aku harus mengulangi ucapan ku?" dengan wajah cemberut.
"Ia tentu saja, saya tidak bisa mendengar dengan jelas ucapan mu tadi," berpura pura bodoh.
"Aku menyukai mu... Aku mencintaimu... Sakti... maukah kau jadi kekasihku?" dengan sangat jelas, hingga membuat sakti begitu terkejut dan menatap wajah cantik itu begitu lekat.
"Aku harus menjawab apa?" ucap Sakti dengan wajah polosnya.
Putri pun menepuk jidatnya sendiri merasa kesal.
"Kau sungguh bodoh Sakti," berdiri dan hendak pergi dari sana, namun tangan Sakti dengan segera meraih pergelangan tangan Sang Putri, dan membuat putri Elisa menghentikan langkahnya seketika.
"Aku juga menyukaimu putri..." jawab Sakti dengan nada sedikit pelan.
"Apa...? coba ulangi sekali lagi aku tak dapat mendengarnya?" dengan senyuman mengembang di kedua sisi bibir mungilnya.
"A..aku.. Ju..juga menyukai mu put-- putri.."
"Sungguh...?" lalu tanpa merasa malu sedikit pun ia mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Sakti dan mengecupnya perlahan.
Sakti membulatkan bola matanya saat bibir indah nan kenyal itu menyentuh bibirnya, ada perasaan bergetar yang tiba tiba saja terasa di ulu hatinya, getaran yang sama sekali tidak pernah ia rasakan sebelum nya.
Dan dengan sendirinya bibir Sakti menyambut kecupan dari sang putri lalu menahan dan menautkan nya dengan bibirnya, hingga sang putri melingkarkan tangannya di pundak lebar laki laki tersebut.
Lalu tak lama kemudian mereka melepaskan ciumannya, wajah putri nampak merah merona, begitupun sebaliknya.
"Terima kasih karena telah membalas perasaan cintaku," ucap putri Elisa.
"Sama sama putri, memang sudah sedari dulu aku pun menyukaimu, namun aku tidak punya rasa percaya diri untuk mengatakan nya padamu, mengingat status ku hanya seorang hamba yang melayani Raja," Sakti menunduk.
"Tidak... di mataku kau bukan hanya hamba rendahan yang melayani Raja, namun kau sekarang adalah orang yang sangat berharga bagiku," putri memeluk tubuh tinggi dan kekar itu sambil berjinjit, karena tubuh Sakti yang tinggi dan juga tegap membuatnya harus sedikit mengeluarkan usaha agar bisa meraih pundak kekasihnya tersebut.
"Kau harus segera kembali putri, sebelum ada yang melihat kita," Sakti mengusap punggung Putri Elisa.
"Baiklah, tapi aku ingin mendengar mu mengucapkan kata itu sekali lagi," dengan suara manja.
"Aku menyukai mu... Aku mencintaimu... dan aku mau menjadi kekasihmu... Putri Elisa...'' dengan memandang lekat wajah cantik sang Putri.
*****
__ADS_1