
''Mengapa kamu mengatakan itu? apa kau menyuruhku untuk memberikan hukuman yang sama kepadamu, seperti yang di dapatkan oleh suami'mu?'' tanya Raja Arezz menatap wajah Ratu Evina.
''Bukankah memang sudah seharusnya seperti itu? aku istri seorang pengkhianat, sudah selayaknya aku mendapatkan hukuman yang sama dengan suamiku?''
''Tapi tetap saja, kamu begitu tidak punya perasaan, menyuruhku untuk menghabisi nyawamu, wanita yang sangat aku cintai,'' jawab Raja Arezz dengan mata yang berkaca-kaca.
''Sebenarnya, aku sudah lelah menjalani hidupku yang penuh dengan nestapa, sudah lama aku ingin mengakhiri hidupku, berharap penderitaan yang aku alami akan berakhir setelah aku mati,'' Ratu menunduk dengan air mata yang mulai bergulir membasahi pipinya.
''Tidak... hiks hiks hiks... mana mungkin aku tega melakukan itu padamu, jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi, hiks hiks hiks,'' ucap Raja memeluk tubuh Ratu Evina dengan Adam yang masih berada di dalam pelukannya.
Adam pun menangis, suara khas bayinya memecah ketegangan mereka berdua, Raja pun melepaskan pelukan dan menimang sang bayi dengan air mata yang terus membasahi pipi.
''Cup... cup... cup... sayang, putra ayah, berhenti menangis sayang, ayah ada di sini,'' ucap sang Raja menatap wajah Adam dengan tatapan pilu.
Adam pun berhenti menangis, dia menatap wajah Raja Arezz lalu tersenyum seketika seperti merasa senang dan bahagia karena berada di gendongan sang Raja.
''Ue... Ue... Ue...'' tiba-tiba saja Adam mengeluarkan suara seolah memanggil Raja, suara yang keluar dari bibir mungilnya, membuat Evina dan Sang Raja tersenyum merasa senang seketika.
Evina meraih tubuh kecil putranya, lalu memeluknya dengan sangat erat, setelah itu ia pun menimang dan menatap wajah tampan sang putra.
Air matanya terus bergulir membasahi pipi mulus nan tirus, dia pun mengigit bibir bawahnya mencoba menahan rasa pilu dalam hatinya.
''Wahai Adam putra kesayangan ibu, maaf karena ibu tidak bisa menemani'mu sampai kamu dewasa, sebagai gantinya, ayah'mu yang seorang Raja, akan menemanimu, jangan nakal ya nak, jadilah anak yang Sholeh, dan penurut,'' ucap Ratu masih dengan lelehan air mata dan suara yang terdengar bergetar.
__ADS_1
Raja meraih tubuh Evina lalu memeluknya erat bersama dengan Adam yang berada di pelukan sang Ratu, dia menangis tersedu-sedu merasakan hatinya yang seolah membeku.
''Maafkan aku Ev...! aku sungguh minta maaf, dari awal sampai akhir aku tidak bisa melindungi'mu, hiks hiks hiks...''
Ratu pun melingkarkan lengan di pinggang sang Raja dengan kepala yang di sandarkan di pundak.
''Tolong jaga putraku, jadikan dia putra mahkota, aku akan menyaksikan dari atas sana saat dia menjadi Raja yang hebat seperti dirimu,'' pinta Ratu.
''Aku mohon, berhenti berkata seperti itu, hiks hiks hiks...'' Raja kembali memeluk Evina.
Sakti yang sedari tadi berdiri di luar kamar dan mendengar semua percakapan mereka ikut menangis, hatinya bagai teriris merasakan sakit dan terluka, dia sungguh merasa sangat iba kepada Raja dan Evina karena sampai di akhir pun cinta mereka tidak bisa bersatu.
Dia berkali-kali mengusap air mata yang turun dengan begitu derasnya, sampai tak lama kemudian Raja keluar dari dalam kamar dengan langkah yang gontai, berjalan perlahan dengan pandangan kosong seolah menatap ke depan.
Sakti segera menyusul sang Raja, berjalan di belakangnya dengan menatap punggung dari junjungannya tersebut, melayangkan tatapan iba tatkala punggung itu sesekali berguncang karena pemiliknya menangis sesenggukan.
''Yang mulia, jangan seperti ini, bangunlah, nanti ada yang melihat,'' Sakti mencoba meraih tubuh Raja namun tak bisa.
''Sakti...!'' Raja menatap wajah pengawalnya dengan tatapan sayu dan penuh dengan air mata.
''Iya, yang mulia.''
''Apa gunanya aku menjadi Raja, jika pada akhirnya aku masih tidak bisa melindungi wanita yang aku cintai, apa gunanya Tahta berserta gelarnya, jika seumur hidupku aku akan merasa kesepian, di Liputi rasa bersalah karena melenyapkan wanita yang aku cintai, hiks hiks hiks...''
__ADS_1
Sakti tidak menjawab, dia hanya bisa menunduk menatap lantai dengan air mata yang berjatuhan ke atasnya.
''Aku harus bagaimana? Sakti.''
''Sebaiknya yang mulia beristirahat dan tenangkan perasaan yang mulia terlebih dahulu, mari saya antar anda ke kamar,'' pinta Sakti meraih tubuh Raja dan memapahnya menuju kamar pribadi sang Raja.
_______------_______
Satu Minggu Kemudian.
Hari ini sidang akan di adakan, dengan Brendan dan Permaisuri Emillia sebagai tersangka, sang Ratu tampak berpenampilan berbeda, dia yang biasanya berpakaian rapi dengan perhiasan yang berkilauan, serta make up tebal yang memoles wajah cantiknya, kini berubah memakai pakaian lusuh, wajah pucat serta rambut yang terlihat memutih dan sedikit berantakan.
Begitupun dengan Beranda, dia hanya pasrah dengan wajah yang terlihat seperti orang yang tidak waras, serta pandangannya nampak menatap kosong seolah melihat ke arah depan.
Sidang pun di adakan si Aula istana secara tertutup yang hanya di hadiri oleh penjabat tinggi istana, Putri Elisa dan Pangeran Brian bahkan tidak di perbolehkan untuk menyaksikan, hal itu di lakukan untuk menjaga perasaan mereka, mengingat bahwa yang akan di adili adalah kakak serta ibunda dari keduanya.
Sidang pun di lakukan secara singkat, hanya menghadirkan Saksi yaitu penduduk yang waktu itu menyekap Brendan dan juga Raja Arezz.
Setelah Saksi di hadirkan dan kejahatan pun di buktikan, maka putusan hukuman pun di jatuhkan, Raja Arezz berdiri di atas singgasana dengan membawa secarik tulisan yang berisi putusan yang akan segera dia bacakan.
''Saya sebagai Raja yang sah kerajaan Underland ini, menyatakan bahwa, Brendan dan Emillia akan di copot gelar kebangsawanan'nya dan akan di jatuhkan hukuman 'MATI' dengan meminum minuman beracun, begitu pun dengan Evina yang merupakan istri dari seorang pengkhianat, dia pun akan mendapatkan hukuman yang sama, tapi bayinya yang bernama Adam akan aku asuh dan aku adopsi sebagai putraku, mengingat bahwa dia masih seorang bayi yang tidak berdosa. Hukuman mati kepada ketiga orang itu akan di laksanakan Minggu di depan, sekian keputusan dari saya, Raja Arezz...'' ucapnya dengan suara yang menggema di seisi Aula istana.
Emillia dan Brendan pasrah serta menerima begitu saja putusan hukuman yang baru saja di bacakan oleh Raja Arezz, keduanya terlihat melamun seperti orang yang sudah hilang kewarasan.
__ADS_1
Tak lama kemudian sang putri Elisa, tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam aula, dia berdiri di bawah singgasana, mendongakkan kepalanya menatap wajah Raja Arezz dengan tatapan tajam dan penuh dengan kesediaan.
___________----------____________