
Di Rumah Sakit.
Keadaan Evina sudah mulai membaik, meski kadang ia masih terlihat melayangkan tatapan kosong ke udara seolah pikirannya sedang tidak berada di tempatnya.
Sudah hampir 3 hari ia dirawat di rumah sakit tersebut, dan selama itu pula sang kekasih selalu setia menemaninya, Pangeran Arezz sedikitpun tidak pernah beranjak dari kamar kekasihnya, selalu setia menemani meski sang kekasih menyuruhnya segera pergi.
Dan hari ini sang pangeran tampak duduk bersandar di kursi di dalam ruangan, ia seperti menahan kantuk karena sudah beberapa hari ini tidak beristirahat.
Sampai pada akhirnya beberapa pelayan tampak masuk ke dalam ruangan tersebut dengan kepala pelayan yang tampak ikut dengan mereka.
Evina yang sedang dalam posisi duduk bersandar bantal di belakang punggungnya, tampak sangat terkejut dengan kedatangan para pelayan, yang semuanya masuk ke dalam kamar Rawat dirinya lalu membungkuk memberi hormat kepadanya.
''Selamat siang nona Evina, mulai saat ini kami akan melayani anda di sini, jika Nona membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk memberi tahukannya kepada kami,'' ucap kepala pelayan dengan sangat sopan.
''Eu... maksudnya apa? saya ti..tidak mengerti kepala?'' suara Evina terdengar sangat berat.
Sang pangeran yang semula sedang sedikit terpejam, kini nampak membuka matanya dengan lebar. Melihat seisi kamar yang sudah di penuhi oleh para pelayan.
''Ada apa ini?' tanya pangeran dengan wajah heran.
Keduanya tampak saling melayangkan pandangan tak mengerti.
''Mohon maaf pangeran, karena sekarang nona Evina adalah calon menantu Raja, maka mulai saat ini dia akan mendapat kan hak istimewa,'' kepala pelayan menjelaskan.
''Calon menantu? siapa? aku...?'' Evina dengan wajah heran dan satu tangan menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
''Menantu siapa?'' Pangeran ikut bertanya.
Saat kepala pelayan hendak menjawab pertanyaan dari junjungannya nya, tiba tiba saja terdengar suara yang sangat di kenal oleh pangeran Arezz.
''Dia akan segera menikah dengan ku, apa Kaka lupa dengan titah Ayahanda kita?'' pangeran Brendan masuk ke dalam ruangan, berbicara sambil berjalan.
Pangeran Arezz berdiri sambil membelalakan matanya, dirinya sungguh sangat terkejut hingga hampir saja ia menghampiri adik nya untuk kembali menghantam wajahnya.
Namun dengan segera ia menahan emosi yang kini memenuhi jiwanya, dan menatap ke arah Evina, melihat gadis pujaan hati nya yang sedang menatap dirinya seolah memberi isyarat lewat pandangan mata indahnya.
''Maksud mu apa? apa kau lupa dengan apa yang pernah kau tawarkan kepada ku?'' tanya pangeran Arezz kepada adiknya.
''Lalu apakah kau menerima tawaran ku, kak?'' jawabnya sambil tersenyum.
Sang Kaka hanya terdiam, dirinya memang belum memberikan jawaban apa pun prihal yang pernah di tawarkan oleh adiknya tersebut.
__ADS_1
Dirinya merasa berada di ambang Dilema, sehingga sulit untuk memilih antara Tahta atau Wanita.
''Apa yang kalian bicarakan?'' Evina bertanya.
''Kalian semua silahkan tunggu di luar,'' ujar pangeran Brendan kepada 10 pelayan yang berjejer di dalam ruangan.
Para pelayan pun berjalan keluar, setelah semuanya membungkuk memberi hormat secara bersamaan terlebih dahulu kepada ketiga nya.
''Apa kau sudah menentukan pilihan mu kak?'' tanya pangeran Brendan seraya bibirnya tersenyum terlihat menyebalkan.
Pangeran Brendan hendak berjalan ke arah Evina sambil tersenyum nakal, namun dengan segera sang Kaka menghalangi jalannya dan berdiri tepat di hadapannya.
''Jangan pernah mendekati dia lagi,'' ujar pangeran Arezz.
''Maksud mu apa? dia calon istri ku kak, aku berhak mendekati dia atau pun menyentuh tubuhnya,'' masih dengan tersenyum menyebalkan.
''Cukup....'' Evina sedikit meninggikan suaranya.
''Kalian berdua cepat jelaskan padaku, apa yang sebenarnya kalian bicarakan,'' tambahnya lagi.
''Baiklah sayang akan aku jelaskan,'' pangeran Brendan menyingkirkan tubuh tegap sang Kaka dan melangkah lalu berdiri di samping ranjang Evina.
Evina tampak melayangkan tatapan takut, karena wajah pangeran Brendan seperti seorang predator di matanya.
''Maksudnya...?'' Evina tidak mengerti.
''Aku akan menolak menikahi mu, jika dia, kakakku yang tampan ini mau menyerahkan tahta nya kepadaku,'' dengan intonasi tegas.
Evina terperangah, dirinya merasa tidak percaya jika kekasihnya mau menukar Tahta yang begitu berharga dengan wanita yang sudah ternoda seperti dirinya
''Itu tidak benar kan pangeran?'' Evina bertanya kepada sang kekasih.
Namun yang di tanya hanya diam tak menjawab.
''Ayo kak, katakan pada kekasihmu ini, bahwa kau akan membawa dirinya pergi ke suatu tempat yang sangat jauh, dan hidup bahagia, aku berjanji aku tak akan pernah mengganggu kebahagiaan kalian berdua,'' ucap pangeran Brendan.
Pangeran Arezz masih terdiam dan belum membuat pilihan.
''Pangeran Brendan, bisakah kau tinggalkan kami berdua? saya mohon...! saya ingin berbicara dengannya sebentar saja,'' Evina memohon.
"Baiklah, aku akan pergi, tapi ingat kak, aku tidak suka menunggu terlalu lama," ujar Pangeran Brendan, lalu melangkah pergi keluar ruangan.
__ADS_1
Setelah Pangeran Brendan menutup pintu dari luar, Evina pun mulai berujar.
"Apa maksud mu melakukan itu?" Evina terlihat kesal.
"Mana mungkin kau akan menukar Tahta yang akan kau terima dengan wanita rendahan seperti aku? apa jadinya kerajaan ini jika di pimpin oleh laki laki tidak beradab seperti dia," tambahnya lagi mulai berkaca kaca.
Pangeran Arezz berjalan dan berdiri di samping Evina.
"Lalu apakah kau Sudi mempunyai suami seperti dia?"
"Aku akan menolak pernikahan ini," Evina
"Tidak ada satupun rakyat di kerajaan ini yang bisa menolak titah Baginda Raja, karena rencana pernikahanmu dengan adikku itu di titah kan langsung oleh beliau."
"Apa...?" Evina tampak sangat terkejut.
"Lalu aku harus bagaiman?" tambahnya lagi.
"Satu satu nya cara kita berdua harus lari dari kerajaan ini, dan tinggal di suatu tempat yang tidak di ketahui oleh siapapun," ujar pangeran.
Evina menggelengkan kepalanya.
"Tidak...! aku tak mau hidup di dalam persembunyian, lagi pula aku tak setuju jika kamu melepaskan tahta mu hanya demi aku," bola mata Evina mulai penuh dengan lelehan air mata.
"Lalu aku harus bagaimana? hanya itu satu-satunya cara agar kamu tidak menikah dengan adik ku yang brengsek itu," pangeran terlihat sedih.
"Lagipula dari dulu aku tidak pernah menginginkan Tahta, aku hanya ingin hidup tenang sebagai rakyat biasa, bersamamu," tambahnya lagi mulai berkaca kaca.
"Tidak pangeran aku tak bisa."
Evina tampak sedang berfikir sejenak.
Setelah terdiam cukup lama akhirnya Evina pun membuat keputusan yang sulit.
"Sepertinya kita harus segera mengakhiri hubungan kita, dan aku akan menerima titah Baginda Raja untuk menikah dengan pangeran Brendan," dengan suara berat dan seperti terisak menahan tangis.
"Apa maksud mu? Ev... aku mohon pikirkan baik baik dengan keputusan mu ini," lelehan air mata mulai membasahi pipi sang pangeran.
"Maafkan aku," Evina mulai tidak bisa menahan rasa sedihnya, karena harus mengakhiri kisah cinta nya bersama sang pangeran, dia pun menangis dengan tersedu sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan nya.
Pangeran meraih tubuh Evina dan mendekapnya dengan erat di dalam pelukannya.
__ADS_1
*****