KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Di nikahkan


__ADS_3

Kini pangeran Brendan sudah berada di Rumah sakit, berkat petunjuk dari pelayan yang di tanyai nya dia jadi tidak terlalu sulit untuk mencari kamar yang telah di kunjungi oleh adik bungsu nya tersebut.


Sang pangeran sudah berdiri di depan pintu kamar, perlahan ia membuka pintu kamar tersebut.


Ceklek...


Ia membuka pintu dengan sangat pelan, mencoba mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.


Pangeran nampak sangat terkejut, setelah melihat ada seorang wanita yang sedang berbaring tak berdaya dengan sang Kaka yang tampak duduk di samping ranjangnya.


Dan dirinya lebih terkejut lagi saat melihat wajah dari wanita tersebut adalah Evina, dengan perban putih di kening serta pergelangan tangannya.


Hatinya pun menerka nerka. Bukankah semalam wanita itu terlihat baik baik saja? Dirinya sama sekali tidak menggunakan kekerasan apapun saat menodai wanita tersebut, lalu mengapa Evina berbaring lemas di dalam sana? batinnya bergejolak.


Sang pangeran yang memiliki sifat angkuh dan sombong itu sama sekali tidak menyadari jika wanita tersebut menjadi seperti itu karena ulah dirinya yang telah menodai harga diri serta merenggut kesuciannya.


Perlahan ia pun kembali menutup pintu kamar tersebut dengan sangat hati hati, dirinya tidak mau jika pangeran Arezz sampai melihat keberadaan nya di sana dan kembali menghantam tubuhnya.


Dengan perasaan cemas pangeran Brendan berjalan meninggalkan tempat itu, meski merasa iba melihat wanita yang di sukai nya dalam keadaan lemah tak berdaya, namun ia sama sekali tidak menyesal telah merenggut mahkota kesucian dari wanita tersebut.


Karena ia merasa dengan melakukan hal itu kini wanita tersebut telah benar benar menjadi miliknya.


***


Di dalam Istana Sang Raja Arthur tampak sedang duduk di singgasana ke besarannya, dirinya sedang menunggu kedua putra kandungan nya untuk segera menghadap ke hadapan dirinya.


Tak lama kemudian keduanya pun datang menghadap dengan berjalan beriringan.


''Kami di sini Baginda Raja,'' ucap keduanya seraya membungkuk dengan begitu dalam.


Keduanya telah mengetahui dengan pasti, jika ayahanda nya tersebut memanggilnya di aula kerajaan, itu tandanya mereka sedang menghadap sang Raja Negeri Underland, dan laki laki gagah yang sedang duduk di Kursi singgasana tersebut bukan lagi sebagai seorang ayah bagi mereka, melainkan sebagai seorang Raja Agung yang harus mereka hormati.


''Ada apa Baginda memanggil kami berdua,'' tanya pangeran Arezz.


''Apa kalian pikir aku tidak tahu apa yang telah kalian perbuat?'' ujar sang Raja dengan nada tegas.

__ADS_1


Pangeran Brendan tampak terkejut.


''Hamba tidak mengerti Baginda,'' masih dengan suara pangeran Arezz.


''Coba jelaskan sekarang juga, apa yang membuat kalian sampai berkelahi?''


Pangeran Arezz tampak terdiam. Begitu pun dengan adiknya.


''Kenapa kalian diam?'' ujar Raja Arthur dengan berteriak lalu memukul meja besar berwarna keemasan yang berada di hadapannya.


Namun keduanya masih bungkam.


''Baiklah...! jika kalian berdua tidak mau berbicara, aku akan memberikan perintah untuk membawa gadis yang sekarang berada di Rumah Sakit untuk segera menghadap ku, agar aku dapat mendengar penjelasan darinya.''


Kedua pangeran sangat terkejut, Pangeran Brendan yang semula menunduk kini mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah kakaknya, begitu pun dengan sang Kaka.


Mereka pun saling melayangkan tatapan tajam sekaligus takut.


Keadaan Evina masih sangat mengkhawatirkan, bagaimana mungkin dia dapat di bawa untuk menghadap Baginda Raja dan Interogasi pula? sungguh hati pangeran Arezz tidak tega mendengar nya.


Akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara jujur kepada Ayahanda yang sekarang sedang duduk di singgasana sebagai Raja negeri ini.


''Cepat teruskan ucapan mu,'' ujar sang Raja.


Setelah mengumpulkan semua keberanian nya, akhirnya pangeran Arezz mencoba menjelaskan semuanya, meski rasa takut menyelimuti seluruh hatinya.


''Adiku, pangeran Brendan, dia telah menodai seorang pelayan yang bekerja di istana ini, dengan kejam dan tidak berperikemanusiaan dia merenggut kesucian wanita itu dengan paksa, hingga sekarang dia sedang berbaring di Rumah sakit karena depresi dan syok yang dia dapatkan,'' pangeran Arezz dengan suara lantang.


''Apa....?'' Raja membulatkan bola matanya. Wajahnya terlihat marah hingga membanting sebuah buku besar ke arah anak keduanya dan tepat mengenai kepala sang anak.


Darah segar pun tampak sedikit mengalir dari sela sela rambut nya hingga mengalir ke pelipis wajahnya.


''Maafkan hamba Baginda, hamba sungguh khilaf dan tidak sadar saat melakukannya,'' pangeran Brendan bersujud hingga kepalanya menyentuh Lantai Marmer berwarna putih di bawahnya.


''Aku sungguh malu mempunyai putra bejat sepertimu,'' jawab sang Raja.

__ADS_1


''Hamba mohon ampun Baginda, saya berjanji akan bertanggung jawab dan segera menikahi wanita itu,'' pangeran Brendan.


Pangeran Arezz terperangah, ia menoleh ke arah adiknya dengan melayangkan tatapan tajam dan wajah geram.


''Baiklah... lakukan yang baru saja kau katakan, sudah selayaknya seorang laki laki bertanggung jawab atas perbuatan yang telah di lakukan nya,'' sang Raja sambil mengangguk.


''Tidak Baginda, hal itu tidak boleh dilakukan,'' ujar pangeran Arezz dengan suara yang sangat lantang.


''Mengapa tak boleh?'' sang Raja berteriak.


''Ka..karena.. wanita itu adalah wanita yang sangat hamba cintai,'' jawab pangeran Arezz dengan nada lembut, matanya sudah tampak berkaca kaca, dan kini bersujud di hadapan sang Raja sama seperti yang sedang di lakukan oleh adiknya.


Raja pun sudah dapat menebak, ia terlihat tidak terkejut mendengar ucapan putra pertama nya.


''Aku sudah tahu,'' jawab Raja Arthur.


''Hamba mohon, tarik kembali titah Baginda,'' Pangeran Arezz memohon.


''Tidak...! kau harus menyudahi dan membuang perasaan cintamu itu jauh-jauh.''


''Tapi Baginda...?'' pangeran Arezz mengangkat kepalanya.


''Dengarkan titah ku, penasihat....'' Raja memanggil penasihat kerajaan yang berada di luar Aula.


''Saya menghadap Baginda Raja...'' Seorang laki laki paruh baya berjalan menghampiri dan berdiri tepat di samping kedua pangeran.


''Dua Minggu lagi aku akan mengumumkan pengunduran diriku sebagai Raja, dan menyerahkan Tahtaku kepada putra sulung ku, satu Minggu setelahnya aku akan menikahkan putra kedua ku dengan seorang wanita. Lalu kemudian aku juga akan mengadakan upacara pelantikan Raja baru yaitu pangeran Arezz,'' ucap Raja Arthur kepada penasihat kerajaan.


''Baik Baginda, saya akan menjalankan titah mu, dan menyiapkan semua nya,'' jawab penasihat, lalu dirinya undur diri dengan berjalan mundur terlebih dahulu lalu berbalik.


Pangeran Brendan tampak tersenyum licik, dia senang karena akhirnya rencananya berjalan sesuai dengan keinginan nya.


Sementara sang Kaka terlihat menitikkan air mata, dirinya sungguh tidak rela jika harus melihat wanita yang di cintai nya harus menikah dengan adiknya sendiri.


''Kalian berdua menyingkir dari hadapanku,'' ujar sang Raja dengan wajah yang di palingan, seolah tak ingin menatap wajah kedua putranya.

__ADS_1


Kedua pangeran berdiri dan berjalan mundur, setelah itu mereka berbalik baru kemudian melangkah meninggalkan Aula kerajaan.


*****


__ADS_2