
Trok trok trok
Seorang pelayan nampak mengetuk kamar Raja Arezz dengan sangat keras, pukul 02.00 dini hari, tiba tiba saja para pelayan sibuk membangunkan para putra mantan Raja untuk memberitahukan jika keadaan mantan Raja Arthur tiba-tiba menurun, dan meminta untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarga kerajaan.
Raja Arezz berlari dengan tergesa gesa menuju kamar ayahandanya, ia ingin segera menemui ayahnya setelah mengetahui jika kondisi kesehatan sang ayah dalam keadaan kritis.
Sesampainya di kamar mantan Raja Arthur, Raja Arezz segera berlari ke arah ayahanda yang sudah berbaring dengan memejamkan mata.
"Apa yang terjadi? mengapa ayah tiba tiba seperti ini?" tanya Raja Arezz dengan wajah cemas.
Semua putra dan putri mantan Raja sudah berada di sana dengan dalam keadaan terisak. Dokter kerajaan pun nampak sudah berdiri di samping tempat tidur sang mantan Raja.
"Dokter, cepat katakan pada saya, apa yang terjadi pada ayahanda?" Raja Arezz kembali bertanya setelah semua yang berada di sana tidak ada mau menjawab pertanyaan nya.
"Mohon maaf yang mulia, seperti nya Baginda Raja Arthur dalam keadaan kritis," ucap Dokter dengan terbata bata.
"Apa...?"
Raja Arezz terkejut.
"Mengapa tiba tiba kritis? bukankah kemarin beliau baik baik saja?"
Raja Arezz meraih lengan ayahandanya, lalu bersimpuh sambil menahan tangis.
"Ayah...! bangun...! saya di sini ayah...!"
Mantan Raja Arthur tiba tiba saja membuka matanya, setelah mendengar suara dari putra kesayangannya.
Ia menoleh dan menatap Raja Arezz dengan pandangan sayu.
''Putra ku...'' ucap Raja Arthur dengan sedikit tersenyum yang di paksakan.
''Iya ayah, hamba di sini.''
''Sepertinya ayah harus segera pergi, ayah ingin segera beristirahat di tempat yang tenang, ayah titip adik adik mu, tolong jaga mereka dengan baik,'' lalu tiba tiba saja sang ayah pun ter batuk hingga mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya.
Uhuk..uhuk
''Mengapa ayah berkata seperti itu? jangan membuat aku takut yah... hiks hiks!" putri menghampiri ayahanda nya dan bersimpuh di samping sang Kaka.
__ADS_1
"Saya mohon ayah berhenti berbicara, dan beristirahat lah, hu..hu.." ujar Raja Arezz dengan berlinang air mata.
"Ayah berpesan, kepada ka--kalian semua, tolong ja--ga kerajaan ini dengan ba--ik..." ucap sang Raja, lalu terpejam dan tangan nya tiba tiba saja terkulai lemas, membuat semua yang hadir di sana berteriak histeris.
"Ayah bangun...hiks hiks.." pangeran Brian serta pangeran Brendan menghampiri sang ayah yang sudah dalam keadaan terpejam untuk selamanya.
Dokter pun segera menghampiri dan memeriksa detak jantung sang Raja, dan Dokter tampak sangat bersedih harus mengatakan kepada semua yang ada di sana bahwa ayahanda mereka, sudah meninggal dunia.
Suasana pun berubah riuh dengan suara tangis yang berasal dari kamar mantan Raja, semua putra putri serta istri istri mantan Raja meratapi kepergian sang mantan Raja yang telah meninggal dunia.
Istana pun mendadak ramai dengan para pelayan yang akan mempersiapkan proses pemakaman.
Kabar meninggalnya Raja Arthur seketika langsung menyebar ke seluruh negeri, Rakyat kerajaan Underland merasa sangat terpukul mendengar kabar tersebut, mereka pun menetapkan tiga hari sebagai masa berkabung, dan memasang bendera setengah tiang untuk menghormati kepergian Raja mereka.
Di istana pun, semua penghuninya mengenakan pakaian putih, rencananya pemakaman akan di adakan hari ini juga, dan jenazah Raja Arthur akan di makamkan di samping makam Ayahandanya atau kakek dari dari Raja Arezz.
Seluruh rakyat tampak turun di jalanan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada raja mereka, yang sedang di arak menggunakan kereta kuda menuju tempat pemakaman, mereka semua menangis histeris saat kereta kuda melintas ke hadapan mereka.
Akhirnya proses pemakaman berjalan sangat khidmat, Raja Arezz yang memimpin langsung proses tersebut nampak tidak bisa membendung kesedihannya saat peti jenazah mulai di masukan ke liang lahat.
Ia pun menangis sesenggukan, begitu pun dengan ketiga saudaranya dan juga para istri saja.
**
Mereka semua berada di kamar masing masing dan tidak melakukan apa apa.
Istana yang biasanya ramai kini berubah sepi dan hening, tanpa aktivitas apapun.
Dan masa berkabung itu berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Raja Arezz pun nampak masih meringkuk di atas tempat tidurnya, ia meratapi kepergian ayahandanya yang seolah secara tiba tiba, padahal ia sendiri sudah mengetahui jika sang ayah sudah menahan sakit selama bertahun tahun lamanya tanpa ada siapapun yang mengetahui, namun tetap saya Raja Arezz merasa sangat terpukul.
*
*
Sudah lebih dari satu Minggu semenjak kepergian Raja Arthur, kini suasana istana perlahan kembali normal, dengan riuhnya para pelayan yang sibuk bekerja membersihkan istana setelah selama beberapa hari mereka libur bekerja.
Rati Emilia nampak sedang berjalan menuju kamar putra kesayangannya yaitu pangeran Brendan.
__ADS_1
Ceklek...
Ratu membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, membuat sang pemilik kamar terkejut dan merasa kesal.
"Ibunda...." pangeran Brendan.
"Kamu sedang apa putraku?" dengan tersenyum dan berjalan ke arah pangeran Brendan yang sedang duduk di kursi dengan menggenggam satu gelas berisikan anggur berwarna merah.
"Sudah cukup, jangan minum terus," Ratu meraih lalu meletakan gelas dari tangan pangeran Brendan dan meletakkannya di atas meja.
"Mau ibu apa?"
"Istrimu dimana?"
"Entahlah, tadi dia keluar."
"Baguslah... ada yang harus ibu bicarakan dengan mu."
"Apa itu?" pangeran Brendan menoleh ke arah ibundanya.
"Kita harus memikirkan cara agar bisa membuat Raja Arezz turun dari tahta nya."
"Ya ampun Bu, apa kau masih belum menyerah?"
"Dasar anak tidak tahu diri, ibu melakukan ini untuk kamu, ibu hanya ingin melihat putra ibu menjadi Raja," Rati terlihat kesal.
"Iya...! tapi bagaiman cara nya bu?"
"Ya mangkanya ibu datang kemari untuk bertanya padamu," Ratu Emilia semakin kesal.
"Ya sudah nanti aku fikirkan, sekarang ibu keluar dulu, aku masih ingin minum," meraih kembali gelas yang tadi di letakkan di atas meja.
Ratu Emillia merasa kesal melihat wajah putranya yang seolah datar dan tidak peduli dengan apa yang ia katakan. Sang Ratu pun keluar dari kamar pangeran Brendan dan perasaan jengkel.
Saat hendak keluar dari dalam kamar, sang Ratu berpapasan dengan seorang wanita berwajah cantik dengan rambut pendek serta tubuh ramping memasuki kamar putranya tersebut.
Tanpa menaruh curiga sedikitpun ia hanya membiarkan wanita tersebut memasuki kamar sang putra, ia hanya sedikit menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya yang masih belum berubah dalam bermain wanita, meski sudah memiliki istri cantik yang bernama Evina.
*****
__ADS_1