KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Pertemuan Kembali Part 2


__ADS_3

"Apa kalian berpacaran?" tanya Ratu Evina, menatap wajah Putri dan Sakti secara bergantian.


Putri dan Sakti di buat terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu, mereka pun melepaskan genggaman tangan masing-masing dengan wajah yang terlihat malu-malu.


''Eu... Anu, Ratu. Kita... eu...'' Sakti menjawab dengan terbata-bata.


''Iya, kita berpacaran,'' Putri menjawab seketika, membuat Sakti sangat terkejut dan memandang wajah sang putri dengan membulatkan bola mataya.


Ratu terkejut, menatap keduanya dengan tersenyum, sementara Flora yang duduk di samping sang Ratu hanya terdiam datar karena sudah mengetahui nya sejak beberapa hari yang lalu.


Putri menatap wajah Sakti yang terlihat melirik dirinya dengan tatapan tajam.


''Kenapa kamu melirikku seperti itu?'' tanya Putri menatap wajah Sakti.


''Tidak, ko. Aku hanya terkejut kamu memberitahukan perihal hubungan kita kepada Ratu Evina,'' jawab Sakti memandang ke depan karena berusaha fokus mengendarai mobil.


''Kenapa? aku sudah bosan menyembunyikan hubungan kita seperti ini, sudah waktunya semua orang tahu, bahwa kau adalah kekasihku.''


''Iya, kenapa harus malu, aku senang mendengarnya, kalian pasangan yang cocok,'' ucap Ratu.


Sakti menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali dengan satu tangannya, wajahnya terlihat merah bersemu menahan malu.


''Sudah, jangan memasang wajah seperti itu, jelek tahu,'' Putri menatap wajah sang kekasih.


Sakti hanya tersenyum, sementara Ratu Evina tertawa kecil melihat mereka berdua, seperti sedang dalam pertengkaran kecil sepasang kekasih.


''Sebenarnya kita mau kemana?'' tanya Ratu kemudian merasa penasaran.


Sakti dan Putri saling pandang, mereka berdua memang belum mengatakan kepada Ratu Evina, prihal kepergian mereka yang sebenarnya akan bertemu dengan Raja Arezz, yang saat ini sedang menunggu kedatangan mereka di rumah Alberto.


''Eu... kita lihat saja nanti, aku mau memberi kejutan kepadamu kak, kejutan yang pasti akan membuat mu kaget sekaligus senang,'' jawab putri menoleh ke arah sang Ratu yang berada di belakangnya.


''Oh, ya...? aku sangat penasaran, kemana gerangan kalian akan membawaku. Atau jangan-jangan alasanmu kepada Raja itu hanya di buat-buat, agar aku bisa keluar dari dalam istana?'' tanya Ratu, kemudian.

__ADS_1


''He... he... he... iya kak, maaf ya, aku terpaksa berbohong seperti biru, agar kak Brendan mengijinkan mu keluar.''


''Tidak apa-apa ko, aku malah merasa sangat senang, karena akhirnya bisa keluar dari dalam istana, dadaku terasa sesak setiap hari terkurung di dalam istana,'' jawab Ratu dengan memandang ke arah luar jendela mobil yang di tumpangi nya.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga jam, akhirnya mereka pun sampai, rumah besar dengan halaman luas milik Alberto.


Sakti keluar dari dalam mobil, begitu pun dengan ketiga wanita yang berada di dalamnya.


''Kalian masuk duluan ya, aku mau membereskan para pengawal dan penjaga itu, agar mereka hanya menunggu di luar saja,'' Sakti menunggu mobil yang di tumpangi para pengawal serta pelayan yang tadi mengikuti mobilnya dari belakang.


Flora yang memang pernah tinggal di rumah itu selama beberapa hari, langsung membawa sang Ratu dan Putri menuju pintu utama, mengetuk pintu dengan seksama.


Trok trok trok


Flora mengetuk pintu dengan kepalan tangannya. Tak lama kemudian Alberto membuka pintu dengan segera, karena dirinya memang sedang menunggu kedatangan mereka semua.


''Selamat datang Ratu Evina dan juga Putri Elisa, silahkan masuk,'' ucap Alberto.


''Bos Alberto?'' Evina terkejut karena mengenal dengan sangat baik laki-laki yang saat ini berdiri di hadapannya.


''Apakah ini rumahmu?'' tanya sang Ratu melangkah masuk ke dalam rumah, merasa heran mengapa dirinya di bawa ke rumah mantan bosnya.


''Iya, ini rumah hamba, maaf jika rumahnya sederhana seperti ini.''


''Mengapa harus meminta maaf? rumah mu bagus dan besar,'' celetuk putri Elisa.


''Silahkan duduk, saya akan menyiapkan minuman terlebih dahulu,'' Alberto berjalan menuju dapur.


Tak lama kemudian, Sakti pun masuk ke dalam rumah. Dia pun langsung berlari menuju kamar sang Raja, untuk memberitahukan kedatangan mereka.


Putri sungguh tidak sabar ingin segera bertemu dengan Kaka yang sangat ia rindukan, matanya tampak berkeliling menatap ke seisi rumah mencari keberadaannya.


Sementara Ratu Evina yang tidak tahu apa-apa, hanya terdiam sambil menatap bayinya yang kini sedang di gendong oleh Flora.

__ADS_1


Bayi Adam pun tiba-tiba menangis keras, mungkin karena perjalanan yang lumayan jauh membuat sang bayi kehausan.


''Apakah, pangeran Adam kehausan?'' tanya Alberto yang baru saja datang dengan membawa empat cangkir teh hangat.


''Sepertinya, iya,'' jawab Ratu lalu meraih putranya, menggendong dan berdiri.


''Yang mulia bisa memberinya ASI, mari saya antar kan ke dalam kamar,'' Alberto menawarkan.


Ratu Evina pun mengikuti Alberto dari belakang, dengan menggendong Adam yang saat ini masih dalam keadaan menangis di dalam gendongannya. Flora pun mengikuti untuk menemani sang Ratu.


Alberto membuka pintu kamar dan mempersilahkan sang Ratu masuk ke dalamnya, kamar itu terletak bersebelahan dengan kamar Raja Arezz, dan tak lama kemudian Raja Arezz dan Sakti keluar dari dalam kamarnya tepat setelah Evina menutup pintu dan masuk ke dalam kamar.


Raja dan Sakti berjalan menuju ruang tamu, dimana putri Elisa sedang menunggu kedatangan keduanya. Dengan perasaan yang sangat gugup putri duduk dengan mengepalkan kedua tangannya, merasa tidak sabar.


Raja Arezz perlahan sampai di ruang tamu, putri pun berdiri dengan mata berkaca-kaca saat melihat wajah sang Kaka, dalam keadaan hidup dan sehat.


''Kak Arezz...'' putri berlari menghampiri lalu memeluk tubuh sanga Raja.


''Kaka... ternyata memang kamu masih hidup kak, hiks... hiks... hiks...!" Putri menangis sesenggukan, Raja Arezz sudah dapat menebak jika gadis yang sedang memeluk tubuhnya adalah adiknya, hatinya seolah bisa merasakan itu meski ingatannya belum kembali.


"Kamu kemana saja kak? aku sungguh merindukanmu, hiks... hiks... hiks..." tanya sang putri dengan linangan air mata membasahi pipi putihnya.


"Putri...?" Raja Arezz melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang putri.


"Iya, kak. Ini aku, apakah Kaka mengingat aku?"" tanya Putri dengan mata berbinar.


Raja menggelengkan kepalanya.


"Tak apa-apa, yang penting sekarang Kaka sudah kembali dan sehat-sehat saja, aku sungguh bahagia bisa bertemu kembali dengan mu, kak. Hiks... hiks... hiks...'' Putri kembali memeluk, tubuh sang Kaka.


Tanpa mereka sadari, ternyata Ratu Evina menatap keduanya dari kejauhan, matanya terlihat penuh dengan air mata, masih merasa tidak percaya jika Laki-laki yang saat ini sedang memeluk putri Elisa adalah Raja Arezz, orang yang sangat ia rindukan dan cintai.


Perlahan Ratu Evina berjalan mendekat, dengan kaki yang terasa lemas dan perasaan yang campur aduk, sulit untuk di ungkapkan, pelupuk matanya terlihat penuh dengan air mata yang siap untuk turun membasahi pipinya.

__ADS_1


''Arezz...?'' sapa'nya lirih, dengan air mata yang mulai berjatuhan.


__________----------__________


__ADS_2