
Raja Brendan, masuk ke kamar perawatan, dia hendak menemui bayi Adam, putra kesayangannya.
Tok tok tok
Ceklek...
Raja mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar, dia tersenyum sambil berjalan menghampiri box bayi, menatap dengan penuh sayang ke arah bayi Adam yang saat ini sedang tertidur dengan sangat lelap nya.
''Bagaimana keadaanmu Evina?''
''Keadaanku sudah baik baik saja, yang mulia, ada apa yang mulia kemari? bukankah yang mulia sibuk?'' tanya Evina, mantap wajah suaminya.
''Aku kemari ingin menemui Adam, baru sehari ditinggal rasanya aku sudah sangat merindukan dia,'' jawab Raja sambil menatap lekat wajah putra kesayangannya.
Evina hanya tersenyum.
''Yang mulia, bolehkah aku memohon permintaan kepadamu?'' Evina berucap dengan wajah memelas.
''Apa itu?''
''Bisakah yang mulia mengurungkan niatmu untuk melakukan tes DNA kepada bayi kita? kasihan dia masih terlalu kecil, kalau dia sampai kenapa-napa Bagaimana? bukankah kau mengatakan bahwa dia akan menjadi putra mahkota?'' pinta Evina dengan mata berbinar.
Raja terdiam sejenak.
''Sesungguhnya, yang sangat ingin melakukan tes DNA adalah ibuku, dia hanya ingin memastikan bahwa Adam, adalah putraku darah dagingku,'' jawab Raja dengan mata memandang wajah sang istri.
''Bisakah kau membujuk permaisuri Emilia untuk membatalkan niatnya?siapa tahu jika kau yang meminta, dia akan menuruti nya, dan apabila dia memaksa, bisakah tes DNA itu dilakukan ketika bayi Adam sudah berumur 1 bulan ataupun lebih?'' menatap ke arah bayi Adam.
''Baiklah aku akan mencoba berbicara kepada ibunda, mudah-mudahan saja dia mendengar permintaanku,'' jawab Raja mengalihkan pandangannya kepada bayi yang saat ini sedang tertidur.
Tak lama kemudian bayi Adam pun terbangun dan menangis, Raja Brendan langsung memangku nya, dan menimbang dengan kedua tangannya.
Bayi yang merasa sangat nyaman berada di pangkuan sang ayah, langsung terdiam dan kembali memejamkan matanya.
''Kau tampan sekali Adam, ayahanda sungguh sangat menyayangimu,'' ucap sang Raja lalu mengecup pipi mungilnya.
Evina menatap wajah suaminya, dia berpikir. Apa yang akan terjadi jika sampai terbukti bahwa bayi Adam bukan darah daging dari Raja Brandan, apakah mungkin dia masih akan menyayangi nya seperti ini?
__ADS_1
Sebenarnya, hatinya sungguh bergejolak, dia sendiri tidak tahu siapa sebenarnya ayah dari bayi yang saat ini sedang digendong oleh Baginda Raja, karena dia merasa bahwa dirinya sudah melakukan hubungan itu dengan dua orang, meski tidak merasa menyesal.
Sang Raja kembali menidurkan bayi Adam di dalam box bayi, dia mengusap lembut pipi mungilnya dan memandang dengan tatapan yang penuh kasih sayang.
Tak lama kemudian masuklah kepala pelayan istana, bersama seorang perempuan berambut ikal yang di ikat dengan rapi di ujung kepalanya.
''Permisi yang mulia Rati dan Raja,'' ucapnya dengan membungkuk dalam.
''Ada apa kemari?'' tanah Raja.
''Saya kemari menghantarkan pelayan baru yang akan bertugas untuk menjaga bayi Adam,'' jawab pelayan dengan menunduk.
''O ya...? dia pelayan baru? siapa namamu?'' tanya Ratu Evina.
''Perkanal kan yang mulia Ratu, nama saya Flora, mulai saat ini saya akan menjaga dan melayani bayi Adam,'' Flora memperkenalkan diri dengan wajah yang menunduk dan tidak berani memandang wajah Baginda Raja Brandan.
''Baiklah, aku akan menerimamu, meski tidak bekerja selama 24 jam namun aku berharap kamu bisa membantuku menjaga bayiku ini,'' jawab Ratu Evina
''Terima kasih yang mulia,'' jawab Flora masih dengan keadaan menunduk.
''Ya sudah, aku harus segera kembali ke istana, karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,'' ucap Raja kepada istrinya.
Raja pun keluar dari dalam kamar, di ikuti oleh palagan istana dan juga akan hendak kembali ke istana.
Kini tinggal Flora dan sang Ratu Evina yang berada di sana, Flora merasa gugup, karena baru kali ini dia berhadapan langsung dengan Ratu Evina, yang merupakan wanita nomor satu di kerajaan Underland.
''Dari mana asal mu?'' tanya sang ratu ingin mengenal lebih dekat dengan pengasuh bayinya.
''Hamba berasal dari sebuah desa kecil di pinggir hutan yang mulia,'' jawab Flora dengan suara yang masih terdengar gugup.
''Tidak usah gugup seperti itu, santai saja, sebelum menjadi seorang ratu, aku juga dahulu seorang pelayan sama sepertimu.''
''Benarkah?'' Flora mengangkat wajahnya dan menatap sang ratu dengan sedikit tersenyum.
Ratu Evina mengangguk sambil tersenyum.
''Mulai saat ini, kau akan selalu berada dekat dengan bayi ku dan juga aku, jadi apabila tidak ada siapa siapa kau boleh bersikap santai, tak usah terlihat gugup apalagi merasa canggung.''
__ADS_1
''Baik yang mulai,'' Flora menjawab dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
_____---_____
Setelah Sakti mengantarkan Flora ke istana, dan menitipkannya kepada pelayan istana, Ia pun kembali ke kediaman Alberto untuk menemani sang raja Arezz.
''Bagaimana, apakah Flora sudah mulai bekerja?'' tanya Raja kepada Sakti yang baru saja sampai.
''Sudah yang mulia, hari ini sedia sudah mulai bekerja sebagai penjaga bayi Evina, eh... maksud saya Ratu Evina,'' ucap Sakti yang masih belum terbiasa memanggil Evina yang merupakan temannya dengan panggilan Ratu.
''Baguslah, selama aku tidak berada di istana, tolong kamu jaga dia.''
''Baik yang mulia. Apa boleh aku bertanya kepada mu yang mulia? ada sesuatu yang mengganjal fikiran ku.''
''Apa itu?''
''Apakah yang mulia memiliki hubungan yang spesial dengan gadis yang bernama flora itu?''
''Apa...? Ha... ha... ha...! Apa maksudmu? flora sudah ku anggap seperti adik ku sendiri, apalagi umurnya masih 17 tahun mana mungkin aku menyukainya," jawab Raja dengan tertawa merasa lucu mendengar pertanyaan dari Sakti.
"he... he... he...! aku kira yang mulia menyukainya," Sakti sedikit tertawa malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
"Memangnya kenapa? apa kamu menyukainya?" tanya Raja merasa curiga.
"Hah... Apa? eu tidak kok, mana mungkin aku menyukainya, lagi pula aku sudah memiliki kekasih," jawab Sakti.
"Benarkah? apakah benar kau sudah memiliki kekasih? siapa dia perkenalkan kepadaku," ucap Raja dengan tersenyum senang.
"Eu... tidak ko, aku hanya keceplosan," sakti merasa salah tingkah, dia tidak mungkin mengatakan kepada Raja Arezz bahwa kekasihnya adalah adiknya sendiri Putri Alisa.
"Mengapa kamu merasa gugup seperti itu? apa aku sebenarnya mengenal kekasihmu, atau ada sesuatu yang belum kamu ceritakan kepadaku?" tanya Raja yang merasa heran dengan perubahan wajah Sakti.
"Eu... tidak kok, semua yang aku tahu sudah kau ceritakan kepadamu, tidak ada satupun yang aku sembunyikan."
"Syukurlah aku merasa lega sekarang."
"Tapi yang mulia, apa rencana kita sekarang? apa kamu akan tetap tinggal di sini, dan begitu saja mengikhlaskan tahta kepada Raja Brendan? Ayahanda mu menitipkan Tahta itu kepadamu, dahulu meski kau menolak dengan keras, mendiang Raja Arthur tetap memaksamu untuk menerima tahta itu, karena beliau berpikir hanya kau yang pantas untuk duduk di singgasana menggantikan dirinya."
__ADS_1
Raja Arezz termenung, mendengar ucapan Sakti yang sedikit menyentuh hatinya.
____________-------____________