KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Di Ragukan


__ADS_3

Sang pangeran keluar dari kamar ibunya dengan perasaan kesal, apa yang di ucapkan sang ibu sungguh membuatnya gelisah.


Ia pun kembali ke dalam kamarnya dengan wajah masam. Sang istri merasa heran lalu bertanya padanya.


''Kenapa? sepertinya kamu terlihat kesal?''


''Tidak...? aku hanya merasa lelah,'' jawab pangeran Brendan datar.


''Istirahatlah di sini,'' pinta Evina yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.


Namun sang suami tidak menjawab dan memilih untuk berbaring di atas kursi.


Keduanya terdiam sejenak.


Evina merasa heran melihat raut wajah suaminya yang semula terlihat senang kini tiba tiba berubah muram, ada apakah gerangan. Batinnya bertanya.


''Ev...!'' pangeran Brendan memanggil dengan dengan mata yang terpejam.


''Ada apa?''


''Apakah anak yang berada di kandungmu itu adalah anakku?''


''Apa maksudmu?'' Evina merasa kesal.


''Maksudku adalah, apa kamu yakin jika bayi yang sedang kau kandung itu adalah benar benar anakku?''


''Tentu saja, aku istrimu, dan anak ini pasti adalah anak mu,'' dengan suara menahan kesal.


''Namun bukankah kau juga melakukan hal itu dengan kakakku, Raja Arezz...?'' ujar sang pangeran lalu membuka matanya, duduk dan menatap sang istri.


Evina hanya diam saja mendengar ucapan suaminya, memang benar ia pernah melakukan hubungan terlarang dengan Raja Arezz, dan itu adalah sebuah kesalahan, karena jebakan jahat sang Ratu, namun ia tidak menyangka jika suaminya akan meragukan kehamilannya.


Padahal orang pertama yang telah menodai dirinya adalah suaminya sendiri.


''Mengapa kamu diam?'' pangeran Brendan masih menatap dengan wajah kesal.


''Aku tak peduli jika kamu meragukan anak ini sebagai darah daging mu, yang pasti dia adalah anakku, dan kamu suamiku, jadi kamu akan tetap menjadi ayahnya walau kau meragukannya.''


Pangeran Brendan berdiri dan hendak pergi, rasanya ucapan sang ibu sungguh telah meracuni otaknya.


''Kamu mau kemana?''


''Sepertinya aku akan pergi beberapa hari,'' ucapnya sambil menghentikan langkahnya.


''Kemana?''

__ADS_1


''Entahlah, aku ingin memenangkan diri, jangan menungguku.''


Lalu sang pangeran kembali berjalan dan keluar dari dalam kamar.


Evina hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan perasaan sedih, ucapan suaminya yang meragukan kehamilannya membuat hatinya sungguh merasa sakit.


Ia pun kembali mengingat ingat tentang kapan terakhir kali ia haid, namun ia sama sekali tak ingat, rasanya sudah lama sekali ia tidak datang bulan, memang dia telah melakukan hubungan itu dengan dua orang, suaminya, dan juga Raja Arezz, itu pun sebenarnya mengusik hatinya tentang siapa sebenarnya ayah dari bayi yang di kandungnya.


Akkhh....


Dia hanya bisa menarik napas panjang, seharusnya dahulu ia dapat berfikir panjang sebelum melakukan itu dengan mantan kekasihnya, namun ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya tersebut, karena kenangan terakhir bersama sang Raja sungguh membuatnya sangat bahagia, dan dia akan menyimpan kenangan itu di lubuk hatinya yang paling dalam.


*


*


Beberapa hari kemudian.


Putri Elisa dan pangeran Brian berkunjung ke kamar Evina, mereka berdua hendak mengucapkan selamat prihal kehamilan Kaka iparnya tersebut, mereka berjalan secara beriringan.


Trok trok trok


Putri mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar.


''Kamu di sini putri,'' jawab Evina yang sedang duduk bersandar bantal di belakang punggung nya di atas ranjang.


''Kami berdua kemari untuk mengucapkan selamat padamu kak, maaf karena baru sempat datang sekarang,'' ujar pangeran Brian.


''Tak apa apa, terima kasih karena telah menyempatkan datang.''


''Kak Brendan kemana kak? bukankah seharusnya dia berada disini untuk menjaga istrinya yang sedang hamil muda?'' tanya sang putri, lalu duduk di samping tempat tidurnya.


''Entahlah, sudah beberapa hari ini dia tidak pulang,'' Evina terlihat muram.


''Apa...? ko bisa?'' putri terlihat sangat kesal.


Evina hanya mengangkat kedua bahunya sambil sedikit mengerutkan keningnya.


Yang sedang di bicarakan pun akhirnya datang, dengan kancing kemeja berwarna putih nya yang di biarkan terbuka begitu saja.


Pangeran Brian segera menghampiri sang kakak lalu menepuk pundaknya sambil berkata.


''Selamat kak, sebentar lagi kau akan segera menjadi seorang ayah,'' ucapnya dengan senyum mengembang di bibir nya.


Sang kakak melepaskan tangan adiknya dari bahu lebarnya.

__ADS_1


''Sedang apa kalian berdua di sini?' dengan wajah datar.


''Ikh Kaka, apaan sih? kami di sini untuk mengucapkan selamat kepada Kaka ipar atas kehamilan nya,'' putri memanyunkan mulutnya.


''Jika sudah selesai silahkan keluar karena aku lelah ingin segera beristirahat,'' ujar pangeran Brendan sambil berbaring di atas kursi lalu memejamkan kedua matanya.


Putri dan pangeran Brian hanya saling adu pandang dengan tatapan heran, mengapa sikap sang Kaka terasa begitu dingin hari ini.


Saat hendak pergi dari kamar itu mereka berdua melihat sang Kaka pertama yaitu Raja Arezz berjalan menuju ke sana, dengan membawa berbagai macam hadiah untuk adik iparnya yang di bawa oleh beberapa pelayan yang berjalan di belakangnya.


''Kalian di sini?'' tanya sang Raja masuk ke dalam kamar.


''Selamat siang yang mulia,'' putri serta pangeran Brian membungkuk memberi hormat kepada raja.


Pangeran Brendan masih berbaring tidak menghiraukan kedatangan Raja Arezz.


''Apakah yang mulia datang kemari untuk mengucapkan selamat kepada kak Evina atas kehamilannya?'' tanya sang putri dengan wajah polosnya.


''Betul... saya datang kemari untuk mengucapkan selamat kepada adik iparku dan juga kamu Brendan, karena kalian berdua sebentar lagi akan menjadi orang tua,'' ucap sang Raja.


Pangeran Brendan akhirnya berdiri dan memberi hormat.


''Terima kasih atas kemuliaan hati yang mulia, tapi Maaf hamba sama sekali tidak butuh ucapan selamat dari yang mulia,'' jawabnya dengan wajah masam.''


''Kaka...'' Putri membentak Pangeran Brendan.


''Tak apa apa Putri, mungkin kakakmu sedang merasa lelah, karena dia baru saja pulang setelah aku memberinya tugas untuk meninjau lokasi bekas bencana di kota Barsom,'' ujar Raja.


''Jika kalian sudah selesai silahkan kalian pergi dari kamar ini, karena ada yang aku ingin bicarakan kepada Baginda Raja,'' ujar pangeran Brendan kepada kedua adiknya.


''Baiklah... kami berdua permisi yang mulia,'' keduanya keluar dari dalam kamar setelah sebelumnya membungkuk terlebih dahulu kepada Baginda Raja.


Evina yang sedari tadi hanya terdiam di atas tempat tidurnya menatap heran ke arah sang suami, merasa penasaran apa kira kira yang ingin dia bicarakan kepada Baginda Raja.


''Pelayan... bawa semua yang kalian bawa, dan letakan di atas meja,'' ucap sang Raja, lalu beberapa pelayan yang membawa hadiah untuk Evina, segera masuk dan meletakan semua yang di bawanya di atas meja.


''Terima kasih, atas semua hadiah nya yang mulia,'' Evina sedikit membungkuk sambil terus duduk.


''Apa ini?'' Pangeran Brendan marah melihat banyaknya hadiah yang di bawa oleh para pelayan.


''Ini hanya lah hadiah untuk calon anakmu, dan juga calon keponakan ku,'' ucap Raja.


''Aku tak yakin dia anakku? bukankah kau juga pernah berhubungan dengan istriku, yang mulia Raja?'' ucap pangeran Brendan dengan tatapan tajam dan wajah geram.


*****

__ADS_1


__ADS_2