
Raja dan Ratu berjalan memasuki istana, berjalan dengan pelan di iringi oleh riuhnya tepuk tangan. Seluruh penghuni istana serta pejabat pun hadir di sana, untuk menyaksikan sang Raja baru duduk di singgasana.
''Hidup Raja Brendan...''
''Hidup Raja Brendan...''
Terdengar suara riuh di dalam Aula istana, kini Pangeran Brendan telah resmi menjadi seorang Raja, cita citanya yang selama ini dia dan ibunda inginkan telah tercapai.
Menjadi Raja. Menjadi orang nomor satu di kerajaan Underland. Ratu Emillia pun merasa sangat senang, karena dirinya sekarang telah menjadi Permaisuri, menjadi orang dengan pengaruh yang sangat tinggi di kerajaan, setelah Raja Brendan.
''Saya berjanji, akan menjadi Raja yang baik dan bijak seperti yang kalian harapkan,'' ucap Raja sambil berdiri di atas singgasana.
Suara riuh tepuk tangan kembali terdengar, semua yang hadir di sana sangat antusias menyambut kehadiran Raja baru mereka, meski sebenarnya hati mereka masih merasa kehilangan sosok Raja Arezz yang selama ini telah melekat di hati mereka.
Suasana ramai dan suka cita tak hanya terjadi di dalam istana, di seluruh negeri, Rakyat kerajaan Underland nampak berbahagia menerima Raja baru mereka, yang di harapkan dapat merubah nasib Rakyatnya, apalagi bagi rakyat kecil yang hidup di pedesaan.
Kabar pengangkatan Raja baru pun sampai ke telinga Raja Arezz, kabar itu ia dapatkan dari kakek yang baru saja pulang dari kota, kakek yang merawat sang Raja memang sering pergi ke kota, ia ke sana membawa barang dagangan berupa rempah rempah untuk bahan pengobatan, yang ia jual di pasar.
Entah mengapa hati Raja Arezz kembali bergetar saat mendengar kabar tersebut, seperti ada sesuatu yang mengguncang jiwanya, saat mendengar sang kakek mengucapkan kata Istana atau pun Tahta.
''Kek, sepertinya aku harus pergi ke kota, agar aku bisa mencari tahu sendiri tentang siapa aku sebenarnya, dan apabila aku ke sana, siapa tahu akan ada orang yang mengenaliku,'' ucap Raja Arezz, yang saat ini sedang duduk menemani kakek menyiapkan rempah rempah yang akan ia bawa ke kota.
''Tapi kondisi mu belum pulih betul, tunggu beberapa hari lagi, saat kesehatan mu sudah lebih membaik,'' jawab kakek tanpa menoleh.
''Baiklah, aku akan menunggu beberapa hari lagi, tubuhku memang masih terasa nyeri, dan kepalaku juga masih terasa pusing.''
Tak lama kemudian, Flora keluar dari dalam rumah dan menghampiri mereka, ia duduk di samping sang Raja.
''Aku dengar kamu akan pergi ke kota?'' tanya Flora.
''Iya, semoga saja di sana aku bisa mendapatkan petunjuk, ataupun bertemu dengan orang yang mengenaliku.''
__ADS_1
''Mau aku antar?'' Flora menawarkan diri.
''Apa kamu mau? menemani ku ke kota?''
''Sebenarnya, sudah lama sekali aku ingin pergi ke sana, aku ingin mencoba mencari pekerjaan, aku bosan tiap hari di rumah terus?''
Mendengar hal tersebut Kakek pun menoleh ke arah cucunya.
''Memangnya kamu tega meninggalkan kakek dan nenek di sini?'' tanya kakek dengan nada suara yang terdengar sedih.
Flora hanya terdiam, selama ini dia memang menahan keinginannya untuk pergi ke kota, karena merasa tidak tega jika harus meninggalkan kakek dan nenek nya berdua di sana, apalagi jika sang kakek pergi ke pasar untuk berdagang, neneknya pasti akan seorang diri di rumah.
''Hmmm....'' Flora menarik nafas panjang, ia kembali memikirkan kembali tentang keinginannya tersebut.
Kakek, berdiri lalu duduk di samping cucu kesayangannya. Ia menatap wajah cantik Flora lalu merapihkan rambut ikal sang cucu yang di biarkan tergerai begitu saja.
''Flor...! Kakek tak akan menahan mu lagi, jika kamu ingin pergi merantau ke kota untuk bekerja dan menetap di sana, kakek tak akan lagi melarang mu, kakek sadar kamu berhak untuk mencari kehidupan mu sendiri," ucap sang kakek dengan mata berkaca kaca.
"Aku sayang kakek, nenek juga."
"Iya... Kakek tahu, kakek juga sayang sama kamu.''
Keduanya pun saling berpelukan, sang kakek tampak sangat menyayangi cuci satu satu nya itu, semenjak anak serta menantunya meninggal dunia kakek dan nenek merawat Flora dengan penuh kasih sayang.
Raja Arezz merasa terharu melihat kebersamaan Flora dengan sang kakek, ia pun berfikir mungkin saja di sebrang sana keluarga nya sedang menunggunya pulang, untuk kembali berkumpul dengan mereka.
''Kalian, cepat makan dulu, makanan sudah siap,'' terdengar suara nenek memanggil ketiganya.
''Ia, nek, kami datang,'' jawab Flora, lalu ia berdiri dan berjalan ke dalam rumah, yang kemudian di ikuti oleh kakek dan juga Raja.
''Wah, sepertinya nenek masak banyak nih,'' ucap kakek sembari duduk di atas tikar.
__ADS_1
''Sepertinya enak,'' ucap Flora sembari mengambil piring lalu dia isi dengan nasi beserta lauk pauknya.
Raja hanya terdiam, dia seolah sedang merasakan suasana hangat dari keluarga yang terlihat sangat sederhana itu, walau hanya makan seadanya, namun mereka begitu terlihat bahagia.
Sebenarnya ia merasa senang berada di tengah tengah mereka, namun apalah daya, ia harus segera meninggalkan mereka setelah kondisi kesehatannya benar benar pulih.
Kakek, Nenek dan juga Flora, Raja menatap mereka secara bergantian, bibirnya tampak ikut tersenyum saat melihat mereka tertawa dan bercanda seraya memakan makanan sederhana yang tersaji di atas tikar.
''Ryan...! mengapa melamun? cepat makan, apa perlu nenek ambilkan,'' Nenek bertanya merasa heran.
''Tidak nek, aku hanya berfikir, mungkin aku akan sangat merindukan suasana seperti ini lagi, jika aku telah pergi meninggalkan kalian. Kakek, Nenek, dan juga kamu Flor. Aku sungguh berterima kasih kepada kalian bertiga,'' ucap Raja dengan mata berkaca kaca.
''Sudah, tak usah terlalu di fikirkan, sekarang makan saja dulu, nanti nasinya keburu dingin,lho...!'' jawab Flora dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Raja mengangguk dan tersenyum, ia meraih piring lalu mengisinya dengan nasi berserta lauk pauknya.
Beberapa hari kemudian.
Hari ini Raja berencana akan pergi ke kota, dia sudah merasa jika kondisi kesehatannya sudah benar benar pulih, Flora pun ikut menemani, dia sudah membulatkan tekadnya untuk mengadu nasib di kota.
Meski terasa berat, namun kakek dan juga nenek akhirnya mengijinkan cucu satu satu nya itu pergi, dengan catatan, tidak boleh melupakan mereka berdua.
Flora memeluk nenek dan kakek secara bergantian, buliran air mata pun tampak membasahi pipi ketiganya.
''Hati hati di jalan ya Flor, ingat pesan kakek, kamu tidak boleh melupakan kami berdua, jika ada waktu senggang, kamu harus mengunjungi kami,'' kakek mengusap air mata yang membasahi pipi keriput nya.
Flora mengangguk sambil terisak.
''Ryan, tolong jaga Flora dengan baik ya, jika kamu sudah menemukan keluarga mu, nenek harap kamu tidak meninggalkan Flora dan melupakannya begitu saja,'' pesan nenek dengan memegang kedua lengan Raja, seolah sedang memohon.
''Iya, nek, aku janji aku akan menjaga dia dengan baik.'' jawab raja dengan bersungguh sungguh.
__ADS_1
__________----------___________