
Rombongan para pangeran serta putri berjalan menuju Balai kota, tempat di mana para penduduk seperti nya berkumpul di sana.
Sepanjang jalan banyak bangunan yang sudah terlihat rusak, bahkan tidak sedikit di antaranya hancur tak bersisa, pangeran Arezz merasa sangat iba melihat kondisi kota yang semula sangat indah dengan bangunan unik yang berjejer sepanjang jalannya, kini telah berubah rata dan bahkan terlihat seperti kota mati.
Sungguh hati Evina pun merasa nelangsa tatkala melihat tempat tinggal lama nya yang beberapa hari yang lalu sempat ia kunjungi bersama mantan kekasihnya.
''Apakah masih jauh Ev...?'' tanya sang putri yang sudah merasa kelelahan.
''Sebentar lagi kita juga sampai putri,'' jawab Evina.
''Mau aku gendong?'' Sakti menawarkan bantuan, yang langsung di balas dengan tatapan mata tajam dari para pangeran.
Akhirnya, tak lama kemudian mereka pun sampai di balai kota, sebuah bangunan luas dengan tanah lapang yang juga berukuran luas. Balai kota biasanya di gunakan untuk acara acara besar atau acara khusus yang di selenggarakan oleh wali kota.
Kini tempat itu telah berubah menjadi tempat berkumpulnya para warga yang sedang mengungsi akibat bencana yang menimpa kota tersebut.
Semua yang berada di sana tampak sangat gembira saat para pangeran serta putri berjalan dari kejauhan ke arah mereka. Banyak dari mereka yang langsung menghampiri lalu bersalaman dengan keluarga kerajaan tersebut.
''Pangeran tolong kami, rumah kami hancur, kami tidak punya tempat lagu untuk kami tempati,hiks..hiks..'' ujar salah satu pengungsi sambil memegang tangan pangeran Arezz.
''Iya... Bu..! kami di sini untuk membantu kalian semua, kalian tidak usah khawatir, kita akan mendampingi dan membangun kembali kota indah ini menjadi, seperti semula," jawab sang pangeran.
"Hidup pangeran...!" ujar salah seorang dari para pengungsi.
Semua yang berada di sana pun akhirnya bersorak menyebutkan kata yang sama.
Evina dan Sakti nampak sedang mencari cari sosok yang mereka kenal, yaitu teman teman mereka dari cafe Monalisa, tidak ada satu pun dari kawan mereka yang bekerja di cafe Monalisa terlihat di sana.
Sakti dan Evina pun berjalan di antara banyaknya para penduduk yang mengungsi di sana.
Kini para pemuda dan para pengawal terlihat sedang bekerja sama membuat tenda darurat yang akan menjadi tempat bernaung mereka untuk sementara, ada lebih dari 100 tenda yang akan di didirikan.
Evina menghampiri pangeran Arezz yang sedang bergabung dengan para pemuda yang sedang membuat tenda.
"Pangeran..." Evina memanggil.
"Ada apa? ada masalah?"
Pangeran Berdiri lalu menghampiri Evina.
__ADS_1
"Sepertinya aku belum menemukan Bos Alberto dan semua karyawan nya di sini?"
''Benerkah?" Pangeran mengerutkan keningnya.
Evina mengangguk.
''Terus kemana mereka? apa mungkin mereka masih terjebak di dalam cafe Monalisa? tadi pas kita melintas di sana, cafe itu sudah hancur tak berbentuk.''
''Bisakah kita kembali ke sana untuk mengeceknya?''
''Baiklah, aku akan membawa serta pengawal agar bisa membantu kita untuk mengevakuasi mereka,'' jawab Pangeran Arezz.
Kemudian sang pangeran memanggil Brian dan para pengawal lainnya untuk mengecek cafe Monalisa, yang merupakan tempat bersejarah bagi kisah cinta nya dengan wanita yang kini telah berstatus sebagai adik iparnya sendiri.
''Aku ikut pangeran,'' pinta Evina saat rombongan pangeran Arezz akan berjalan.
''Tidak...! sebaiknya kau tunggu saja di sini, di sana sangat bahaya, bagaimana jika terjadi longsor susulan."
"Aku mohon, aku hanya ingin ikut mencari."
"Bagaimana dengan suamimu, kau harus izin dulu dengan dia."
Evina memohon.
"Baiklah...!"
Akhirnya pangeran Arezz menyerah dan mengizinkan Evina ikut dengan nya.
Mereka pun mulai berjalan menuju tempat tujuan dengan di temani oleh 10 pengawal kerajaan yang ikut serta bersama mereka.
Sesampainya di depan tempat yang tujuannya, bangunan itu tampak sudah tidak berbentuk, bangunan cafe yang semula indah dengan cat berwarna ungu serta Bunga yang merambat di sepanjang tembok ungu itu, kini sudah tak berbentuk, terkubur oleh tanah basah dan sebagian dari bangunan sudah ambruk.
''Apakah ada orang di dalam?'' pangeran Arezz berteriak di depan cafe Monalisa.
''Halo...'' Evina melakukan hal yang sama.
Evina dan pangeran berkeliling untuk untuk mencari Apakah ada orang yang berada di dalam bangunan tersebut.
Mereka berdua berjalan ke belakang cafe Monalisa sambil terus berteriak.
__ADS_1
''Tolong...''
Akhirnya mereka mendengar suara dari arah dapur cafe tersebut.
''Pangeran sepertinya ada seseorang di dalam sana kita harus memeriksanya,'' ucap Evina yang mendengar suara tersebut.
''Iya aku juga mendengarnya,'' jawab sang pangeran.
Pangeran Arezz dan Evina mencoba menerobos masuk di antara bangunan yang hampir roboh itu, temboknya yang sudah terlihat sangat rapuh membuat mereka berdua harus sangat berhati-hati jika tidak ingin atapnya itu menimpa mereka.
''Siapa di dalam?''
''Tolong saya, saya di dalam, di sini masih ada yang lainnya lagi, mereka semua terluka,'' suara dari sana.
''Tunggi sebentar, saya akan segera memanggil bantuan,'' pangeran Arezz berjalan kembali keluar untuk meminta bantuan kepada yang lainnya yang sedang berada di depan bangunan tersebut.
Namun Evina tidak ikut keluar, dia malah terus berjalan ke dalam dengan menerobos setiap celah tembok yang hampir roboh.
Akhirnya nya ia pun sampai, di dalam dapur cafe Monalisa, tempat yang biasa di gunakan untuk mencuci piring saat dirinya masih bekerja di sana.
Bos Alberto terlihat sudah duduk dengan kaki yang bersimbah darah karena tertimpa tembok, membuat dirinya tidak bisa bergerak sedikit pun.
''Bos, apa kamu baik baik saja?'' Evina menghpiri dengan perasaan khawatir.
''Evina...? sedang apa kamu di sini? cepat keluar di sini berbahaya, kamu bisa saja tertimpa bangunan di sini,'' jawab Alberto dengan suara beratnya.
''Aku di sini untuk membantu bos, jangan khawatir, di luar masih banyak orang yang akan membantu kita,'' jawab Evina dengan mencoba menyingkirkan tembok yang menimpa kaki mantan bos nya tersebut.
''Tidak Ev...! tembok ini berat sekali, kau tidak akan bisa menyingkirkannya sendirian,'' dengan meringis kesakitan.
Di dalam nampak masih ada beberapa karyawan lainnya yang ikut terjebak di sana, mereka semua duduk di atas lantai dengan kepala berdarah, atau pun luka lecet di seluruh tubuhnya.
Sudah hampir lima jam mereka berada di dalam sana, sehingga nafas mereka sudah sedikit terengah engah karena kurangnya asupan oksigen di dalam bangunan tersebut.
''Kita harus segera keluar dari sini,'' ucap Evina menghampiri satu per satu orang tersebut sambil membantu mereka berdiri.
''Ayo aku bantu kalian keluar dari sini,'' ucapnya lagi.
Dengan di papah oleh Evina, salah seorang dari mereka akhirnya bisa keluar dari bangunan tersebut.
__ADS_1
*****