KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Rencana jahat


__ADS_3

Setelah menatap kepergian wanita yang di cintai nya, pangeran Arezz menatap wajah pengawal pribadi nya yang sedang senyum senyum sendiri.


''Ada apa senyum senyum begitu?'' tanya sang pangeran merasa heran.


''Tidak Pangeran saya tidak apa-apa. Apa kita bisa pergi sekarang?'' jawab Sakti yang sudah merubah ekspresi wajahnya seperti biasa.


''Apa tadi kamu melihat apa yang sedang kami lakukan di dalam kamar?'' tanya Pangeran Arezz dengan tatapan yang mengintimidasi.


''Mohon maaf Pangeran tapi saya tidak bermaksud untuk seperti itu, saya cuma lihat sebentar kok. setelah itu saya langsung keluar dari dalam kamar,'' jawab Sakti lalu kembali tersenyum karena mengingat kembali kejadian tadi, sewaktu pangeran nya sedang bercumbu dengan Evina.


Pangeran Arezz menarik napas panjang lalu menghembuskannya kembali secara perlahan.


''Sekali lagi saya mohon maaf pangeran...''


''Ya sudah tidak apa-apa, salah saya sendiri yang tidak mengunci pintu, untung kamu yang masuk. Bagaimana jika pelayan lain yang masuk? mungkin akan tersebar rumor yang tidak baik tentang Evina,'' jawan pangeran Arezz.


Sakti hanya mengangguk lalu kembali sedikit tersenyum.


''Kita berangkat sekarang, Perdana menteri pasti sudah menunggu kita di sana.''


Sakti hanya mengangguk.


Kemudian mereka berdua pun beranjak pergi dari depan pintu, berjalan beriringan menuju tempat pertemuan.


***


Pangeran Brian mengunjungi kamar kakak keduanya, ia mendapati jika sang kakak sedang tertidur pulas dengan hanya mengenakan celana tanpa baju di tubuhnya.


''Ya ampun kakak, kerjamu hanya tidur saja tiap harinya, bangun kak hari sudah sore, tidak baik untuk kesehatan mu jika tidur terlalu lama,'' Pangeran Brian tampak membangunkan sang kakak dengan menggoyangkan tubuhnya.


Pangeran Brendan pun membuka matanya sedikit demi sedikit, dia mencoba terbangun namun mulutnya menyebut nama Evina, membuat sang adik tersenyum geli mendengarnya.


Rupanya karena sebelum tidur sang pangeran membayangkan wajah Evina, sehingga Evina pun hadir di dalam mimpinya, dan membuatnya mengigau menyebut nama wanita tersebut.


''Sini sayang, jangan tinggalkan aku,'' ucap Pangeran Brendan masih dalam keadaan mengigau.


Sang adik merasa kesal melihat wajah mesum kakak ke duanya, lalu tanpa ragu lagi pangeran Brian melemparkan bantal tepat di wajah sang kakak sehingga pangeran Brendan benar benar bangun dan menyudahi mimpi indahnya dengan wanita pujaan hatinya.

__ADS_1


''Evina....'' pangeran Brendan memanggil nama Evina dengan sangat keras, sambil duduk seketika karena kaget dengan lemparan bantal dari sang adik.


Pangeran Brian tertawa terbahak bahak sampai mengeluarkan air mata dari pelupuk matanya, karena benar benar geli melihat kelakuan kakak keduanya yang terlihat tidak seperti biasanya.


''Apakah kakak begitu tergila-gila pada wanita itu, sehingga dia hadir dalam mimpimu,'' ujar sang adik masih dalam keadaan tertawa.


''Kamu....! sejak kapan kamu di sini?''


Pangeran Brendan tampak mengusap kedua mata nya lalu menguap.


''Evina... jangan tinggalkan aku...'' pangeran Brian menirukan gaya bicara sang Kaka saat mengigau tadi dengan nada mengejek.


Sang Kaka terlihat malu, lalu dirinya melempar bantal kepada pangeran Brian dan tepat mengenai wajah tampannya.


''Pergi kamu, dasar adik kurang ajar...'' ujar pangeran Brendan berdiri lalu mengejar adik nya yang kini berlari masih dengan wajah mengejek.


''Evina.....'' Pangeran Brian keluar dari dalam kamar sang Kaka, dengan meneriakkan nama Evina sangat keras sambil tertawa terbahak bahak.


Pangeran Brendan hanya tersenyum melihat tingkah sang adik, ia pun kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya berfikir apa yang terjadi pada dirinya? sehingga adik nya tersebut memperolok dirinya seperti itu.


''Evina...! apa aku sudah benar-benar jatuh hati padamu," ujarnya pelan, matanya tampak menatap langit langit kamar yang seolah oleh telah di penuhi dengan wajah Evina yang sedang tersenyum kepadanya.


Setelah berpakaian rapi dengan memakai kemeja berwarna abu serta celana hitam panjang sebagai pelengkapnya, sang pangeran pun tampak bercermin di depan cermin besar yang tertempel di tembok berwarna putih di dalam kamarnya, lalu ia merapikan tatanan rambut dan memandang wajah tampannya dari pantulan cermin yang berada tepat di hadapannya.


"Mengapa kamu sama sekali tidak tertarik dengan wajah tampan ini Ev, dan lebih memilih kakakku sebagai kekasih mu," pangeran tampak bicara sendiri di depan cermin sambil terus memandangi wajahnya.


"Baiklah, jika kau tak mau maka aku akan memaksamu," tambahnya lagi.


Setelah puas berbicara sendiri ia pun beranjak dari depan cermin dan keluar dari dalam kamar.


Semua keluarga kerajaan telah berkumpul di meja makan, ketiga putra-putri raja pun sudah tampak duduk di kursi masing masing, hanya pangeran Arezz saja yang belum berada di sana.


''Kakak kalian sedang mengunjungi sebuah kota yang sedang di Landa bencana, mungkin selama beberapa hari baru bisa kembali,'' ujar sang Raja sebelum mulai menyantap makanan yang berada di hadapannya.


Evina yang berdiri bersama pelayan lain, tampak menatap kursi yang biasa di duduki oleh pangeran Arezz, dirinya merasa beruntung karena sebelumnya sempat bertemu terlebih dahulu dengan sang pangeran sebelum kekasihnya tersebut pergi.


Sedangkan pangeran Brendan terlihat menatap dengan senyuman tipis ke arah Evina, seolah dirinya senang karena sang kakak sedang tidak berada di tempat, dengan begitu ia bisa dengan leluasa untuk melayangkan rencana jahatnya untuk mendapatkan Evina.

__ADS_1


Kini semua yang duduk di sana sedang menyantap satu persatu hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja.


Selesai menyantap makan malam nya, satu persatu yang duduk di sana pergi meninggalkan meja makan yang di awali dengan kepergian Baginda Raja.


Hingga akhirnya tinggal tersisa pangeran Brendan yang masih duduk dengan terus menatap ke arah wajah Evina.


''Kamu....!" ujar sang pangeran menunjuk ke arah Evina.


"Ada apa pangeran."


"Tolong bawakan buah buahan dan satu botol sampanye ke kamar saya, sekarang juga, saya tunggu...!"


Evina tampak ragu dan tidak menjawab, dirinya masih diliputi rasa takut karena kejadian yang pernah di alaminya waktu itu, apa lagi sekarang pangeran Arezz sedang tidak berada di tempat nya.


"Kenapa diam saja," ujar pangeran yang sudah dalam keadaan berdiri dan hendak pergi.


"Ba... baik pangeran, saya akan segera membawakannya sekarang," ujar Evina dengan ucapan yang sedikit terbata bata.


Akhirnya dengan rasa enggan dan rasa takut yang kini menyelimuti hatinya, Evina pun berjalan ke lantai tiga menuju kamar pangeran Brendan.


Evina tampak mengetuk lalu membuka pintu, ia pun langsung memasuki kamar yang sudah dalam keadaan remang remang, entah mengapa lampu kamar itu terlihat redup, hanya dua lampu yang biasa di gunakan untuk tidur yang terlihat menyala.


Pangeran nampak sudah menyambut kedatang wanita pujaan hatinya, duduk di sebuah kursi sembari memegang gelas berbahan kaca di tangannya.


"Buah buahan nya mau saya simpan di mana pangeran," tanya Evina dengan suara yang sedikit bergetar.


"Bisa bawa kemari, aku akan segera memakannya."


"Baik pangeran."


"Kamu pasti lelah berjalan jauh kemari, minumlah dulu segelas air putih ini agar dirimu tidak kehausan saat kembali nanti," ujar sang pangeran sambil menyerahkan gelas yang sudah sedari tadi di genggam nya.


"Tidak usah pangeran, saya baik baik saja," Evina sudah terlihat ketakutan, karena dirinya sudah berdiri dekat dengan pangeran Brendan dan hendak menyimpan barang yang di bawanya.


"Jangan menolak niat baik seorang pangeran, cepat ambil gelas ini dan minum sekarang juga," pangeran terlihat memaksa.


Setelah meletakan buah yang di bawanya di atas meja, Evina pun meraih gelas yang di berikan oleh pangeran Brendan, meski hati nya diliputi rasa takut namun ia terpaksa meraih gelas tersebut dan meminumnya hanya dengan satu tegukan saja.

__ADS_1


Setelah melakukan yang di perintahkan oleh pangeran Brendan, Evina hendak kembali ke tempatnya bekerja, namun saat ia mulai melangkahkan kakinya, tiba tiba saja pandangan nya terlihat kabur, entah mengapa tubuhnya terasa sangat ringan hingga ia pun jatuh tersungkur ke atas lantai.


*****


__ADS_2