KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA

KISAH CINTA SANG PEWARIS TAHTA
Terjebak di daerah konflik


__ADS_3

Akhirnya Raja beserta kawan kawannya sampai di gerbang desa, mereka memarkir mobil yang mereka kendarai tepat di depan gapura besar yang menjadi pembatas antar desa.


Sang Raja keluar dari dalam mobil yang langsung di ikuti oleh kedua adiknya dan juga Sakti.


Suasana desa nampak sangat hening dan sunyi dengan pepohonan tinggi yang menutup sinar matahari yang memang sudah terlihat meredup karena hari sudah berangsur sore.


Ke empat orang tersebut berjalan memasuki desa, rumah rumah di sana nampak tertutup rapat seperti tidak berpenghuni, padahal seperti yang di ketahui oleh Raja, jika di sana merupakan desa dengan padat penduduk.


Ke empatnya berjalan dengan wajah waspada.


''Kemana semua penduduk di sini? mengapa desa ini terlihat seperti desa kosong?'' ujar Sakti.


''Iya Sakti, suasana di sini terasa sangat mencekam, kita harus waspada, seperti nya para penduduk bersembunyi di suatu tempat,'' cecar Pangeran Brian.


''Wahai para penduduk, jangan takut, aku Raja negeri ini, aku datang kemari untuk membantu kalian,'' tiba tiba saja Raja berteriak dengan kencang, membuat Sakti serta kedua adiknya terkejut seketika.


Suara sang Raja seperti nya terdengar oleh penduduk di sana, terlihat dari dalam rumah salah satu warga, seorang laki laki mengintip dari balik jendela.


''Hati hati yang mulia di sini berbahaya,'' Sakti berdiri di depan sang raja dengan tatapan waspada.


Saat mereka sedang berjalan di jalanan berbatu dengan pohon pohon kecil di sisi kiri dan kanan jalan, tiba tiba saja sebuah panah melesat entah dari mana, mengarah ke arah mereka lalu menembus pohon yang berada tak jauh dari tempat merek berjalan.


Hal tersebut sontak saja membuat keempatnya terkejut dan menunduk seketika.


Mereka berjalan sambil berjongkok, bersembunyi di balik pohon besar yang berada di pinggir jalan.


''Kamu tidak apa apa yang mulia? apakah kamu baik baik saja?" Sakti memeriksa keadaan Raja Arezz dengan membolak-balikkan tubuhnya.


"Iya aku baik-baik saja, sebaiknya kita semua bersembunyi terlebih dahulu di sini, aku akan mencari cara untuk dapat berbicara dengan penduduk di sini," jawab sang Raja.


Mereka pun terdiam sejenak mencoba mengatur nafas dan detak jantung mereka yang sempat berdetak tak beraturan karena terkejut dengan kejadian yang baru saja menimpa mereka.

__ADS_1


''Apa sebaiknya kita kembali saja ke istana? situasi di sini sangat berbahaya,'' ucap pangeran Brian dengan sedikit berbisik.


''Tidak..! kita sudah terlanjur berada di sini, jikalau kita kembali sekarang apa mungkin kita akan selamat saat berjalan menuju mobil yang kita parkir jauh di sana?'' sang Raja menolak.


''Terus sekarang kita harus bagaiman kak?'' ucap Pangeran Brendan.


''Tunggu... aku sedang berfikir dulu.''


Mereka kembali saling terdiam, memikirkan cara agar mereka bisa berbicara secara baik baik dan berdialog dengan kepala desa di sana.


Namun suasana terlalu mencekam, mereka hanya bisa terdiam sembari memikirkan cara agar bisa keluar dari sana dengan selamat.


''Aku akan berjalan ke rumah yang berada di sana, mengetuk pintu dan berbicara dengan penghuninya, mudah mudahan penghuni rumah tersebut adalah orang yang baik dan bisa di ajak bicara,'' ucap sang Raja menunjuk rumah berada tak jauh dari tempatnya bersembunyi.


''Jangan yang mulia, itu terlalu berbahaya, aku tak akan mengijinkannya, jika ada yang harus pergi ke sana orang itu adalah aku,'' ujar Sakti.


"Tidak Sakti, kau tidak akan bisa melakukannya, jika kau yang ke sana maka mereka akan langsung menyakitimu."


"Tapi kak, itu sangat berbahaya, aku mohon urungkan niat mu," lirih pangeran Brian dengan wajah khawatir.


"Kak Brendan...!'' Pangeran Brian memanggil kak keduanya.


"Baiklah...! kau ikut dengan ku Brendan," pinta sang Raja.


"Aku juga ikut yang mulia." ujar Sakti.


"Tidak...! kalian berdua tunggu aku di sini, jika dalam waktu satu jam kami berdua tidak kembali, kalian harus ke istana, meminta bantuan kepada kepala pengawal istana, yang bernama Sebastian untuk mencari ku serta adikku," pesan Raja, yang langsung di jawab dengan anggukan yang terlihat di paksakan.


''Hati hati yang mulia, kalian berdua harus kembali dalam keadaan selamat, demi Rakyat Underland,'' pesan Sakti dengan wajah khawatir.


''Kamu juga hati hati kak, ingat istrimu yang sedang mengandung dan menunggu kau kembali dengan selamat'' pangeran Brian menepuk pundak Kaka keduanya.

__ADS_1


Sebelum mereka berpisah, merekapun berpelukan terlebih dahulu, seolah empat orang saudara akan berpisah jauh.


Pangeran Brendan serta Raja Arezz berjalan secara mengendap endap menuju rumah yang akan mereka tuju, berjongkok sambil melihat ke arah sekitar dan terlihat waspada.


Sakti serta Pangeran Brian hanya memperhatikan dari tempat mereka berada, mereka pun terlihat melihat sekeliling area tersebut.


Dengan keringat yang terlihat membasahi tubuh pangeran Brendan dan juga Raja Arezz, serta jantung yang berdetak dengan sangat kencang, akhirnya mereka pun sampai di rumah yang di maksud, rumah kecil sederhana dengan teras berwarna hitam.


Rumah itu terlihat seperti rumah tua yang sama sekali tak berpenghuni, namun lampu yang terlihat menyala di dalam rumah menandakan jika rumah tersebut berpenghuni.


Trok trok trok


Pangeran Brian mengetuk pintu pelan, beberapa kali mengetuk namun sama sekali tidak mendapat jawaban.


Mereka berdua tampak berjongkok dengan keadaan gemetar.


''Bagaimana ini kak, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?'' ucap pangeran Brendan.


''Entahlah aku juga bingung, mungkin mereka mengira bahwa kita adalah mata-mata dari pihak lawan,'' jawab sang Raja.


Saat mereka sedang berjongkok sambil melihat ke dalam rumah, tiba tiba saja ada tiga orang bertubuh besar dan kekar menghampiri keduanya dengan membawa busur panah yang siap untuk di tembakan.


''Siapa kalian? pasti kalian berdua mata mata dari tuan Bruno yang di kirim untuk menyakiti ketua kami?'' tanya salah satu dari mereka.


''Tuan Bruno? siapa itu? kami sama sekali tidak mengenal orang yang bernama Bruno itu,'' jawab sang Raja dengan wajah heran.


''Apa kalian tahu kita ini siapa?" tanya pangeran Brendan dengan wajah yang sudah terlihat marah.


''Alah...! kalian berdua bohong," ucap laki laki bertubuh kekar dengan kumis tebal di bawah hidungnya.


"Saya adalah---'' baru saja sang Raja akan memberitahukan jika dirinya adalah Raja dari kerajaan Underland, tiba tiba saja salah satu mereka memukul pundak yang mulia Raja hingga membuatnya tersungkur dan tak sadarkan diri seketika.

__ADS_1


"Kaka..." pangeran Brendan berteriak memanggil sang Raja yang sudah terkulai tak berdaya di atas lantai.


Dan dirinya pun mendapatkan perlakuan yang sama, dan kini keduanya meringkuk di atas lantai dengan di kelilingi oleh tiga orang yang merupakan penduduk asli desa tersebut.


__ADS_2